Oleh: ALIBORON | 24 Oktober 2010

Al-Biruni: Astronom Besar Abad ke-11

Sosok Al-Biruni

Al-Biruni (juga dikenal di dunia Barat dengan sebutan Aliboron) adalah salah satu ilmuwan terbesar dalam sejarah Islam. Sebagian ahli bahkan tak ragu menyebutnya sebagai ilmuwan terbesar yang pernah ada. Namanya dikenal luas jauh melampaui jamannya, baik di dunia Islam maupun Barat. Sejarawan sains sekelas George Sarton menyebut abad ke sebelas Masehi sebagai era Al-Biruni.[1]

Bidang keahlian al-Biruni meliputi fisika, antropologi, geografi, geodesi, geologi, matematika, farmasi, filosofi dan ia juga seorang guru agama. Ia dikenal sebagai kritikus ilmu kimia dan astrologi, penyususn ensiklopedi, penjelajah, dan seorang ulama pengikut aliran Asy’ariyah. [2]

Ia adalah sarjana Muslim pertama yang secara khusus mempelajari seluk-beluk tradisi dan kehidupan bangsa India sehingga dinobatkan sebagai Bapak Indologi. Al-Biruni juga dikenal sebagai Bapak Geodesi  dan antropolog pertama di dunia. Dalam bidang metode eksprimen Ilmiah, ia adalah salah satu pelopor yang menerapkan metode  tersebut dalam ilmu mekanika. Dialah orang yang pertama menggunakan berbagai eksprimen  yang berhubungan dengan dengan fenomena astronomis, dan juga seorang pelopor dalam bidang psikologi eksprimental.[3]

Perjalanan Hidup

Nama lengkapnya adalah Abu al-Raihan  Muhammad bin Ahmad al-Khawarizmi al-Biruni. Ia lahir di Khwarizm, Asia tengah, pada tahun 362 H (973 M). Tempat kelahirannya kini berada  di wilayah Uzbekistan, tepatnya di kota Khiva. Nama “Al-Biruni” berasal dari kata “Birun” dalam bahasa Persia yang berarti “pinggiran kota”, sesuai dengan tanah kelahirannya yang terletak di pinggiran kota Kats yang merupakan pusat kota Khwarizm.[4]

Bahasa ibu Al-Biruni adalah bahasa Persia, demikian juga kebudayaan masyarakat kampung halamannya menginduk pada kebudayaan Persia. Selain bahasa Persia, Al-Biruni juga menguasai bahasa lain , yaitu Arab, Iberia, Suryani, Sanskerta, dan Yunani. [5]

Selama tinggal di kampung halaman, Al-Biruni sempat belajar astronomi  dan matematika dari Abu Nashr Manshur. Beliau adalah seorang ilmuwan  yang merupakan keturunan berdarah biru di wilayah Khwarizmi. Guru sekaligus partner Al-Biruni ini  dikenal sebagai ilmuwan yang banyak mengeksplorasi karya-karya ilmuwan Yunani, seperti Ptolomeus dan Menelaus. Salah satu hasil pencapaian terbesarnya di bidang trigonometri adalah persamaan  yang disebut sebagai Hukum Sinus (The Sine Law).[6]

Al-Biruni hidup semasa dengan ilmuwan muslim lainnya yang cukup kontroversial, yaitu Abu Ali al-Husin bin Abdullah bin Sina, atau yang biasa dikenal dengan sebutan Ibnu Sina. Selain memiliki hubungan yang cukup akrab, keduanya juga terlibat dalam perdebatan seru melalui korespondensi.[7]

Akhir abad kesepuluh dan awal abad ke sebelas Masehi adalah masa-masa yang penuh dengan pergolakan di wilayah Khwarizmi. Pada saat itu, Khwarizmi adalah bagian dari sebuah negara yang pusat pemerintahannya berada di Bukhara. Ada beberapa kerajaan lain yang berdiri di sekitarnya dan salah satunya adalah dinasti Ghaznawi yang berpusat di Ghaznah, Afghanistan.

Pada usia dua puluh tahun, al-Biruni pergi ke negeri Jurjan dan bekerja pada Pangeran Syamsul Ma’ali Qabus bin Wasykamir. Pada kesempatan ini, al-Biruni sempat berkenalan dengan para ilmuwan besar yang bekerja di istana tersebut, salah satunya adalah Ibnu Sina. Di istana Jurjan ini pula al-Biruni  mulai menulis buku. Sekitar tahun 400 H (1010 M), al-Biruni  kembali ke Khwarizmm dan bekerja pada penguasa  Khwarizm pada saat itu, yaitu Abu Abbas al-Ma’mun  ayau yang biasa disebut sebagai Khwarizmsyah. Al-biruni diberi keleluasaan untuk melakukan penelitian, sementara keadaan politik di Khwarizmi tetap penuh gejolak. Pada akhirnya Khwarizmsyah terbunuh dan Khwarizmi diambil alih oleh Dinasti Ghaznawiyyah dengan rajanya Mahmud bin Sabkatkin atau Mahmud al-Ghaznawi.

Karena kecerdasannya, Mahmud al-Ghaznawi membiarkan al-Biruni hidup kemudian diajak ikur serta dalam ekspedisi penaklukan  di India. Di India, Al-Biruni pun segera  menyibukkan diri dengan meneliti corak kehidupan masyarakat di sana. Karya Al-Biruni tentang India adalah salah satu masterpiece yang dikenang sepanjang masa.

Setelah tinggal cukup lama di India al-Biruni pergi ke Ghaznah dan terus memelihara hubungan baik dengan pihak istana. Al-Biruni melakukan penelitian dan terus menulis hingga akhir hayatnya. Sepanjang hidup, al-Biruni  telah menulis tidak kurang dari  146 buku (sebagian ahli bahkan mengatakan bahwa al-Biruni telah menulis 180 buku) yang terdiri dari 35 buku tentang astronomi, 4 buku tentang astrolab, 23 buku tentang astrologi, 9 buku tentang geografi, 10 bukun tentang geodesi dan teori pemetaan, 15 buku tentang matematika, 2 buku tentang mekanika, 2 buku tentang obat-obatan dan farmakologi, 1 buku tentang meteorologi, 2 buku tentang mineralogi, 4 buk tentang sejarah, 2 buku tentang india, 3 buku tentang agama dan filsafatdan masih banyak lagi. Dari sekian banyak hanya 22 yang diketahui keberadaannya hingga sekarang, dan 13 saja yang pernah dipublikasikan.[8]

Sebagian besar sejarawan sepakat bahwa al-Biruni wafat pada tahun 440 H (1048 M), kecuali sebagian  yang berpendapat  bahwa ia hidup hingga tahun 442 H (1050 M). Al-Biruni dikenang baik oleh dunia Islam maupun dunia barat dan mendapatkan banyak penghargaan dalam berbagai bentuk meskipun ia telah lama wafat.

Astronomi

Al-Biruni adalah orang pertama yang melakukan eksperimen untuk memahami fenomena astronomis. Di Khurasan ia mengamati dan menjelaskan secara rinci peristiwa gerhana bulan, sekaligus memberikan posisi bintang-bintang secara akurat pada saat gerhana bulan.

Penemuan-penemuannya di bidang astronomi dimuat dalam salah satu karya terbesarnya, yaitu kitab Al-Qanaun al- Mas’udi fii al-Hai’ah wa al-Nujum (didedikasikan pada Mas’ud, putra Mahmud al-Ghaznawi) yang dikenal dalam bahasa latin sebagai Canon Mas’udicus. Dalam buku ini, al-Biruni membuat tabel astronomi sekaligus mengkritisi tabel astronomi yang dibuat oleh para ilwuwan  pendahulunya. Buku ini juga memperkenalkan teknik perhitungan  matematis untuk menganalisa  percepatan gerak planet, sekaligus menegaskan bahwa jarak antara bumi dan matahari lebih besar daripada yang dikemukakan oleh Ptolemeus.[9]

Kitab Al-Qanun al-Mas’udi pertama kali dibuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Mas’ud al-Ghaznawi yang begitu tertarik pada sains dan mempertanyakan sebab-sebab terjadinya perbedaan siang dan malam di berbagai tempat di dunia. Sebagai ucapa terima kasih atas pembuatan kitab yang tebalnya nyaris 1500 halaman itu, Ma’ud memberikan koin perak sebanyak muatan seekor gajah. Al-Biruni menolak pemberian tersebut dan memberikannya kepada bait al-maal serta meyakinkan  Mas’ud bahwa ia bisa hidup tanpa kekayaan tersebut.[10]

Al-Biruni memperkenalkan metode observasi astronomi baru yang disebut sebagai “observasi tiga titik”. Sebelum era al-biruni para astronom  menggunakan metode Hipparchus yang relatif tidak akurat, yaitu menggunakan  interval musim untuk memperhitungkan  berbagai parameter yang berkaitan dengan matahari. Metode perhitungan dengan observasi tiga titik ala Al-Biruni  adalah kontribusi yang sangat penting dan masih digunakan enam abad setelahnya oleh para astronom, antara lain Taqiyuddin al-Dimasyqi, Tyco Brahe dan Nicolaus Copernicus.[11]

Selain menyumbang berbagai metode perhitungan dalam bidang astronomi, al-Biruni juga menciptakan berbagai instrumen. Ia merumuskan pembuatan astrolab dan planisfernya sendiri, juga merancang sextant yang pertama. Al-Biruni juga menciptakan  hodometer  sederhana, dan kalemder lunisolar mekanik pertama yang  merupakan contoh awal dari  dari mesin pemroses data. Dengan berbagai peralatan dan metode yang diciptakannya sendiri, al-Biruni dapat menentukan kiblat  dari tempat manapun di muka bumi dan menentukan  waktu shalat secara tepat.

Ide dan penjelasan mengenai ‘tabung observasi’ telah ditemukan dalam sebuah karya al-Biruni. Meskipun tabung observasi sederhana ini tidak menggunakan lensa, namun memungkinkan  pengamat untuk  memfokuskan pengamatan pada sebuah bagian langit dengan  menyingkirkan  gangguan-gangguan cahaya. Tabung observasi ini kemudian diadopsi oleh para  ilmuwan setelahnya dan mempengaruhi perkembangan teleskop modern.

Al-Biruni banyak membaktikan waktunya untuk mengamati matahari, pergerakannya, dan fenomena gerhana. Ia juga salah seorang ilmuwan pertama  yang berpendapat bahwa bumi berotasi  terhadap sumbunya dan terlibat dalam berbagai diskusi mengenai teori heliosentris.

Al-Biruni secara tegas menarik garis antara astronomi dan astrologi. Ia adalah astronom yang secara tegas menolak astrologi karena metode yang digunakan lebih berdasarkan asumsi belaka dan juga karena pandangan-pandangan astrologi yang bertentangan dengan ajaran Islam.[12]

Ilmu-Ilmu Kebumian

Al-Biruni memberikan banyak kontribusi dalam ilmu-ilmu kebumian. Karena jasa-jasanya di bidang perpetaan, ia dinobatkan menjadi Bapak Geodesi. Ia juga memberikan kontribusi yang sangat banyak  dalam bidang ilmu kartografi, geografi, geologi dan mineralogi. Pada usia 22 tahun, al-Biruni telah menulis berbagai karya ilmiah, termasuk sebuah penelitian  mengenai proyeksi peta atau kartografi, yang di dalamnya tercakup sebuah metode memproyeksikan  sebuah hemisfer ke sebuah bidang datar[13]. Al-Biruni adalah salah satu ilmuwan  pertama yang menemukan metode untuk menentukan garis lintang dan bujur secara akurat.[14]

Pada usia 17 tahun, al-Biruni menghitung ketinggian kota Kath di Khwarizm. Ia juga memecahkan  persamaan geodesi yang rumit untuk menghitung diameter bumi. Hasil perhitungannya (yaitu 6.339.9 km) hanya meleset 16.8 km dari hasil perhitungan modern, yaitu 6.356, 7 km. Sementara para pendahulunya  menghitung diameter bumi dengan  mengamati matahari secara terus menerus dari dua lokasi yang berbed, al-Biruni mengembangkan metode baru dengan perhitungan trigonometri berdasarkan sudut antara suatu tempat di dataran rendah dengan puncak gunung yang menghasilkan perhitungan yang lebih akurat dan memungkinkan untuk dihitung oleh seorang pengamat dari satu lokasi saja. [15]

Al-Biruni terkenal sebagai ilmuwan yang paling ahli dalam soal memetakan kota-kota dan mengukur jarak di antaranya. Buku Al-Qanun al-Mas’udi-nya mencantumkan koordinat lebih dari enam ratus tempat di dunia. Ia seringkali memadukan hasil pengamatan astronomi dengan perhtungan matematis dalam mengembangkan metode-metode untuk menentukan lokasi secara akurat. Teknik-teknik serupa juga digunakannya untuk mengukur ketinggian gunung, kedalaman lembah, dan luas horizon.

Dalam bidang geologi, Al-Biruni memberikan banyak sumbangan dalam menentukan  masa lalu sebuah negeri. Dengan mengamati bebatuan India,  ia berkesimpulan bahwa dataran India dulunya adalah lautan  yang emudian mendangkal oleh endapan[16]. Ia juga menjelaskan bagaimana  jazirah Arab dahulunya pernah tenggelam  di bawah laut dengan mengamati bekas-bekasnya pada batu dan karang.

Dalam bidang pertambangan, Al-Biruni menggagas dasar-dasar ilmiah bagi cara menambang dalam bukunya Al-Jamaahir fii Ma’rifat al-Jawaahir. Buku ini menjelaskan berbagai logam macam logam, tempat-tempat asalnya, cara mengeluarkannya dari tambang, campuran dan jenis kotoran yang ada padanya dan berbagai manfaatnya[17]. Al-Biruni melakukan ratusan eksprimen untuk menghasilkan pengukuran yang terdokumentasikan dengan baik dalam berbagai bahasa. Perhitungan berat mineral yang dilakukannya  akurat hingga tiga angka desimal , dan nyaris sama akuratnya seperti pengukuran modern untuk jenis-jenis mineral yang sama.[18]

Fisika dan Matematika

Al-Biruni sejak dulu telah merumuskan gravitasi sebagai gaya yang menarik segala benda ke arah pusat bumi[19].  Ia adalah ilmuwan pertama yang melakukan eksperimen dalam bidang statika dan dinamika, khususnya dalam menentukan berat spesifik. Melalui eksperimennya Al-Biruni berhasil menunjuk kan perbedaan berat antara air tawar dan air laut, antara air panas dan air dingin.

Bersama Ibn al-Haitsam, al-Biruni  adalah ilmuwan pertama yang  menyadari bahwa kecepatan cahaya dapat diukur. Ia juga pertama kali menyatakan bahwa kecepatan cahaya jauh lebih cepat daripada kecepatan suara. Al-Biruni menyanggah pendapat Galenus yang menyatakan bahwa cahaya bersumber dari mata ke objek benda yang dilihat dan bukan sebaliknya.

Al-Biruni memberikan sumbangan yang sangat besar dalam disiplin ilmu matematika, terutama dalam bidang aljabar, geometri, trigonometri, kalkulus dan aritmetika. Dalam bidang aljabar al-Biruni meneruskan pekerjaan al-Khwarizmidan memberikan banyak tambahan. Dalam bidang geometri, al-Biruni adalah pelopor dalam merumuskan metode untuk menggambar pada permukaan bila, juga menghitung diameter bumi dengan rumus-rumus matematika[20]. Sebagaimana Abu Nashr Manshur, al-Biruni juga mahir menggunakan rumus-rumus trigonometri. Al-Biruni-lah yang pertama kali memperkenalkan konsep tangen dan kotangen[21]. Al-Biruni juga menggunakan prinsip-prinsip geometri untuk membuktikan rumus kalkulus yang ditemukan oleh Tsabit bin Qurah. Penemuan ini di kemudian hari di klaim oleh sebagai temuan Isaac Newton oleh dunia Barat. Selain itu al-Biruni  menulis beberapa buku tentang aritmetika. Ia juga memaparkan sejarah angka India dan perpindahannya ke Arab serta pengembangannya kemudian.[22]

Kimia, Biologi dan Farmakologi

Al-Biruni hidup sezaman dengan Ibnu Sina dan Al-Kindi. Walaupun lebih dikenal sebagai astronom, namun sebenarnya ia juga seorang yang ahli dalam bidang kimia. Ia menulis sebuah kitab  yang merupakan ensiklopedi farmakologi yang merupakan gabungan dari seni pengobatan Islam dan India. Dalam bukunya itu ia memaparkan penggunaan berbagai jenis  tanaman, termasuk berbagai jenis jamur untuk keperluan pengobatan.[23]

Ia juga seorang ahli biologi, dan termasuk ilmuwan generasi awal yang  mengamati fenomena-fenomena menyimpang pada tumbuhan , hewan dan manusia, termasuk fenomena kembar siam. Ia juga mengamati fenomena perkawinan pada beberapa jenis bunga. [24]

Pada tahun 1051 M, al-Biruni menulis sebuah kitab berjudul Kitab As-Saydalah (The of Drugs). Kita ini adalah salah satu karya ilmuwan muslim paling berharga di bidang farmakologi. Dalam buku ini ia memberikan penjelasan mendetil tentang kandungan obat-obatan dan menggarisbawahi peranan farmasi dan tugas-tugas seorang ahli farmasi.[25]

Ilmu Sosial dan Sastra

Di masa mudanya, yaitu ketika masih tinggal di Istana Jurjan, al-Biruni telah meneliti dan memperbandingkan banyak aspek dalam kehidupan berbagai bangsa. Ia merangkum perbedaan sistem kalender dan hari raya bagi  bagi berbagai bangsa di dunia dalam bukunya berjudul : Al-Atsar al-Baqiyah min al-Qurun al-Khaliyah. Berkat penelitiannya yang komprehensifterhadap kehidupan masyarakat India, gelar antropolog diberikan kepadanya. Al-Biruni lama tinggal di India, selama di India dia menuliskan catatan lengkap tentang negeri itu termasuk sejarah politik, militer dan budaya, corak sosial, keagamaan, filsafat, sastra dan adat istiadat. Hasil penelitiannya dirangkum dalam  mater piecenya yang berjudul Tahqiq maa lii al-Hindi min Maqulah Maqbulah fi Al-‘Aqli aw Mardzwilah.

Buku Al-Biruni tentang India dijadikan rujukan para ahli hingga berabad-abad. Sebagai cabang ilmu, indologi sendiri baru ditekuni pada abad 18 masehi atau tujuh abad setelah era Al-Biruni.[26]

Agama dan Pemikiran

Selain sebagai ilmuwan, Al-Biruni juga dikenal sebagai ahli agama. Ia memahami filsafat Yunanai dan Filsafat India, sekaligus juga  memberikan berbagai kritik  terhadapnya. Al-Biruni terlibat perdebatan yang hangat dengan Ibnu Sina mengenai pemikiran filsafat dan sufi. Al-Biruni adalah pengikut aliran Asy’ariyah dan kerap terlibat dalam perdebatan dengan aliranMu’tazilah. Karena keseriusannya dalam mempelajari agama, al-Biruni pun dianggap sebagai pelopor yang mengilhami lahirnya ilmu perbandingan agama sebagaimana yang dikenal selama ini.[27]

Al-Biruni juga tidak memisahkan antara agama dan sains. Baginya, mempelajari fenomena-fenomena alam adalah sebuah kewajaran bagi manusia dalam usahanya memahami kebesaran Allah SWT. Berbagai penemuan di bidang sainssemakin membuatnya  yakin bahwa  ada sumber kekuatan  yang maha besar yang mengatur alam semesta ini sehingga tercapai keteraturan yang sedemikian rupa. Menurutnya, Al-Quran tidak pernah bertentangan dengan sains. Indera pendengaran dan penglihatan dianggapnya sebagai modal terpenting  karena keduanya adalah alat bantu  yang memungkinkan manusia untuk mengamati tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.[28]

Karena keyakinannya terhadap ajaran Islam, al-Biruni senantiasa menolak segala asumsi yang lahir dari khayalan. Dengan alasan tersebut ia menolak ilmu astrologi dan filsafat India yang menurutnya lebih condong kepada ilmu kira-kira belaka.Dalam segala hal, Al-Biruni  menghendaki dasar pemikiran yang logis dan dapat dibuktikan secara empiris.

Hasil pemikiran semacam ini adalah metode ilmiah yang selalu dipergunakan  al-Biruni dalam setiap penelitiannya. Al-Biruni adalah pelopor metode eksperimental ilmiah dalam bidang mekanika, astronomi, bahkan psiklogi. Ia menghendaki agar setiap teori dilahirkan dari eksperimen  dan bukan sebaliknya.

Al-Biruni juga menekankan pentingnya melakukan eksperimen berulang-ulang. Hal itu diangap perlu untuk meminimalkan  kesalahan yang terjadi akibat kesalahan sistematis atau acak. Metode yang digunakan oleh al-Biruni eksperimennya nyaris tak berbeda dengan metode yang digunakan  dewasa ini.[29]

Dalam segala hal  al-Biruni memandang penting sikap objektif dan melepaskan diri dari hawanafsu  yang dapat melalaikan manusia dari mendapat pemahaman yang benar.[30] Meskipun  menyibukkan diri dengan mempelajari berbagai bidang keilmuan  dengan serius, al-Biruni juga dikenal karena sifat humorisnya  yang seringkali mengejutkan, namun digunakannya secara efektif. Salah satu contohnya adalah kata-kata yang ia gunakan untuk memperkenalkan metodenya dalam menghitung diameter bumi. “Inilah metode lainnya untuk  menentukan diameter bumi. Metode ini tidak mengharuskan kita untuk berjalan menembus padang pasir”.[31]

Penghargaan

Segundang prestasi yang telah ditorehkan oleh al-Biruni menjadikannya pantas untuk menyandang gelar sebagai ilmuwan Muslim terbesar sepanjang masa. Bahkan sebagain ahli di Barat menyebut al-biruni sebagai ilmuwan terbesar yang pernah ada dalam sejarah dunia. Penghargaan yang diberikan bukan saja karena penelitian-penelitiannya yang cermat dan akurat, namun juga karena penguasaannya yang sangat mendalam terhadap berbagai disiplin ilmu secara komprehensif dan fakta bahwa al-Biruni telah meletakkan dasar bagi metode penelitian ilmiah yang tetap digunakan hingga lebih dari seribu tahun setelah masa kehidupannya.

Al-Biruni telah memberikan sumbangan multidimensi  terhadap dunia sains. Karya-karya peninggalannya adalah bukti keluasan ilmunya terhadap berbagai disiplin sekaligus. Karyanya Kitab At-Tafhim li Awa’il Shina’ah al-Tanjim , misalnya dianggap sebagai karya yang mumpuni di bidang astronomi [32]sekaligus sebagai karya  besar yang paling terdahulu mengenai ilmu-ilmu matematika.[33]

Selain mendapat pujian dari ummat Islam, al-Biruni juga mendapatkan penghargaan yang tinggi dari bangsa-bangsa Barat. Karya-karyanya melampaui Copernicus, Isaac Newton, dan para ahli  Indologi  yang berada ratusan tahun di depannya. Baik ulama maupun orientalis  sama-sama memujinya. Dan meskipun  dipuji sebagai ahli perbandingan  agama yang sangat objektif oleh Montgomery Watt dan Arthur Jeffery, Al-Biruni tak pernah menggadaikan keimanannya. George Sarton dalam bukunya yang berjudul Introduction to the History of Science menyebut masa kehidupan al-Biruni sebagai ‘era al-Biruni’ (The Time of Al-Biruni), sekedar untuk menunjukkan betapa besar dominasi al-Biruni dalam khazanah keilmuan dunia pada masa itu.

Sudah tak terhitung banyaknya buku dan artikel yang didedikasikan untuk ilmuwan besar yang satu ini. Akbar S. Ahmed menulis Al-Beruni : The First Anthropologist pada tahun 1984. Pendapat Al-Biruni mengenai perbedaan astronomi dan astrologi dibahas secara khusus oleh S. Pines dalam “The Semantic Distinction between the term Astronomy and Astrology According to Al-Biruni. Rafiq Berjak dan Muzaffar Iqbal membahas korespondensi  antara Al-Biruni dan Ibnu Sina dalam artikel Ibnu Sina – Al-Biruni Correspondence yang dimuat dalam beberapa edisi  di Majalah Islam & Science. Kedalaman pengetahuan al-Biruni tentang sejarah politik India dibahas oleh M. S. Khan dalam Al-Biruni and the Political History of India. William Montgomery Watt membahas secara khusus kepeloporan  Al-Biruni  dalam Ilmu Perbandingan Agama dalam artikelnya yang berjudul Biruni and The Study of Non-Islamic Religions. Secara umum nama Al-Biruni tak bisa ditinggalkan dalam pembahasan mengenai sains  dalam peradaban Islam.

Untuk mengenang Al-Biruni, para ilmuwan astronomi memiliki caranya sendiri yang sangat unik. Pada tahun 1970, International Astronomical Union (IAU) menyematkan nama al-Biruni kepada salah satu kawah di bulan[34]. Kawah yang memiliki diameter 77,05 km itu diberi nama Kawah Al-Biruni (The Al-Biruni Crater.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hassan, Ahmad Y., “Faktor-Faktor di Balik Kemunduran Ilmu Pengetahuan Islam Setelah Abad ke-16”, Islamia Volume III No. 4, Jakarta: Khairul Bayan, 2008.

Aydin, Mehmed Muslim Kontribution  to Philosophy-Ibnu Sina, Farabi, Beyruni, www.muslim heritage .com/topics.

Daud, Wan. Mohd. Nor Wan, Filsafat dan Praktik  Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan.

FSTC Limited, Al Biruni, www.muslimheritage.com /topics/depault.cfm? artikelID =690

Ghani, Mahbud Sine, Cosine and The Measurement of the Earth, www.muslimheritage.com/topics/ default.cfm?articleID=662

Jaudah, Muhammad Gharib, 147 Ilmuwan Terkemuka  dalam Sejarah Islam, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar , 2007

King, David, Astronomy in the Service of Islam, Brookfield : Variorum, 1993.

Nakosteen, Mehdi, Kontribusi Islam atas Dunia Barat, Surabaya: Risalah Gusti, 1996

Poeradisastra, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern, Jakarta: Komunitas Bambu, 2008.

Said, Hakim (et.al), Al-Biruni: His Time, Life and Works, Pakistan : Hamdard Foundation, 1981.

Wikipedia, Abu Rayhan Al-Biruni, http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni.

Wikipedia, Abu Nashr Mansur , http://en.wikipedia.org/wiki/ Abu Nashr Mansur

Wikipedia, Indology, http://en.wikipedia.org/wiki/indology.


[1] Mehmed Aydin, Muslim Kontribution  to Philosophy-Ibnu Sina, Farabi, Beyruni, www.muslim heritage .com/topics.

[2] Wikipedia, Abu Rayhan Al-Biruni, http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni.

[3] Ibid.

[4] Muhammad Gharib Jaudah, 147 Ilmuwan Terkemuka  dalam Sejarah Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar , 2007) h. 248-249.

[5] Wikipedia, Abu Rayhan Al-Biruni, http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni.

[6] Wikipedia, Abu Nashr Mansur , http://en.wikipedia.org/wiki/ Abu Nashr Mansur

[7] Muhammad Gharib Jaudah, 147 Ilmuwan Terkemuka  dalam Sejarah Islam,  h. 249

[8] Wikipedia, Abu Rayhan Al-Biruni, http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni.

[9] Ibid.

[10] FSTC Limited, Al Biruni, www.muslimheritage.com /topics/depault.cfm? artikelID =690

[11] Wikipedia, Abu Rayhan Al-Biruni, http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni.

[12] ibid

[13] ibid

[14] Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Barat, Surabaya: Risalah Gusti, 1996, h. 233.

[15] Wikipedia, Abu Rayhan Al-Biruni, http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni.

[16] Wikipedia, Abu Rayhan Al-Biruni, http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni.

[17] Muhammad Gharib Jaudah, 147 Ilmuwan Terkemuka  dalam Sejarah Islam,  h. 256

[18] Wikipedia, Abu Rayhan Al-Biruni, http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni.

[19] Ibid.

[20] Muhammad Gharib Jaudah, 147 Ilmuwan Terkemuka  dalam Sejarah Islam,  h. 253

[21] Mahbud Ghani, Sine, Cosine and The Measurement of the Earth, www.muslimheritage.com/topics/ default.cfm?articleID=662

[22] Muhammad Gharib Jaudah, 147 Ilmuwan Terkemuka  dalam Sejarah Islam,  h. 254

[23] Wikipedia, Abu Rayhan Al-Biruni, http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni.

[24] Muhammad Gharib Jaudah, 147 Ilmuwan Terkemuka  dalam Sejarah Islam,  h. 260.

[25] FSTC Limited, Al Biruni, www.muslimheritage.com./topics/ depault.cfm?artikel ID=690

[27] Wan. Mohd. Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik  Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, h. 344.

[28] Wikipedia, Abu Rayhan Al-Biruni, http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni.

[29] Wikipedia, Abu Rayhan Al-Biruni, http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni.

[30] Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Barat, Surabaya: Risalah Gusti, 1996, h. 225.

[31] Mahbud Ghani, Sine, Cosine and The Measurement of the Earth, www.muslimheritage.com/topics/ default.cfm?articleID=662

[32] Muhammad Gharib Jaudah, 147 Ilmuwan Terkemuka  dalam Sejarah Islam, h. 257.

[33] Wan. Mohd. Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik  Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, h. 250

[34] FSTC Limited, Al Biruni, www.muslimheritage.com./topics/ depault.cfm?artikel ID=690


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: