Oleh: ALIBORON | 26 Oktober 2010

Dirkursus Ulama tentang Jihah (Arah Kiblat)

Dasar Hukum

Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud kiblat adalah Ka’bah yang berada di Masjid al-Haram kota Mekah Saudi Arabia, sebagaimana ditegaskan dalam Firman Allah SWT surat Al-Baqarah (2): 143, 144, 149, dan 150:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلاَّ عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللهُ وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang Telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit[1] Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Dan dari mana saja kamu keluar (datang), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan dari mana saja kamu (keluar), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, Maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

Perintah menghadap ke arah kiblat ditegaskan kembali oleh Hadis Rosulullah saw riwayat Bukhari-Muslim dari Abu Hurair­ah r.a.:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ

“Apabila kamu hendak salat, maka sempurnakanlah berwudu, lalu menghadap kiblat, kemudian takbir (salat)”.

Kemudian penegasan bahwa yang dimaksud dengan kiblat itu Ka’bah diperoleh dari Hadis riwayat Bukhari-Muslim dari Ibnu Abbas r.a.:

لَمَّا دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيْتَ دَعَا فِي نَوَاحِيهِ كُلِّهَا وَلَمْ يُصَلِّ حَتَّى خَرَجَ مِنْهُ فَلَمَّا خَرَجَ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ فِي قِبَلِ الْكَعْبَةِ وَقَالَ هَذِهِ الْقِبْلَةُ *

“Ketika Nabi saw masuk ke dalam Baitullah, beliau ber­do’a  di setiap sudut-sudutnya dan tidak salat sehingga beliau keluar dari Baitullah, setelah keluar beliau salat dua raka’at dengan mengadap (di hadapan) Ka’bah, dan (Nabi saw) bersabda: ini adalah kiblat”.

Problematika dan Gagasan Fiqh

Syaikh Ahmad al-FalakyDari beberapa dalil Al-Qur’an dan Hadits di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa titik kiblat yang sesungguhnya dimaksudkan dalam syari’at Islam adalah ka’bah yang terletak di Masjid al-Haram. Problematika muncul ketika bagaimana jika tidak melihat ainul ka’bah karena tempat yang jauh dari kabah. Menjawab pertanyaan ini memunculkan keragaman dalam fiqh antara lain dikemukakan beberapa pendapat ulama, sebagai berikut:

أن الصحيح عندنا أن الواجب اصابة عين الكعبة وبه قال بعض المالكية ورواية عن أحمد وقال أبو حنيفة الواجب الجهة[2].

Sesungguhnya pendapat yang sahih menurut kami (Syafi’iyah), yang wajib adalah tepat mengarah fisik kabah. Demikian juga  menurut sebagian ‘Ulama Malikiyyah dan satu riwayat dari Imam Ahmad. Imam Abu Hanifah bahwa yang wajib adalah arah kabah.”

(ثم صلى إلى الجهة) أي لا إلى عين الكعبة. (تقليدا لابي حنيفة) أي في قوله بصحة الصلاة إلى جهة الكعبة[3]

(Lalu shalat menghadap arah kabah) maksudnya tidak ke arah fisik kabah. (Taqlid ke Abu Hanifah) maksudnya pada pendapatnya tentang sahnya shalat ke arah kabah.”

وَقَالَ فِي الْعَارِضَةِ : الْفَرْضُ فِي الِاسْتِقْبَالِ لِمَنْ عَايَنَ الْبَيْتَ عَيْنَهُ وَلِمَنْ غَابَ عَنْهُ نَحْوَهُ وَقَالَ بَعْضُ عُلَمَائِنَا : يَلْزَمُ طَلَبُ الْعَيْنِ وَهَذَا بَاطِلٌ قَطْعًا ، فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إلَيْهِ لِأَحَدٍ وَمَا لَا يُمْكِنُ لَا يَقَعُ بِهِ التَّكْلِيفُ وَإِنَّمَا الْمُمْكِنُ طَلَبُ الْجِهَةِ فَكُلُّ أَحَدٍ يَقْصِدُ قَصْدَهَا وَيَنْحُو نَحْوَهَا بِحَسَبِ مَا يَغْلِبُ عَلَى ظَنِّهِ إنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ قَلَّدَ أَهْلَ الِاجْتِهَادِ انْتَهَى[4] .

“Berkata dalam kitab al-‘Aridhah: Yang wajib dalam menghadap kiblat bagi orang yang dekat adalah menghadap kabah itu sendiri, namun bagi yang jauh cukup menghadap arahnya saja. Sebagian ‘ulama kita (Malikiyyah) berkata: “wajib menghadap fisik kabah” Namun ini batil secara pasti. Karena tiada jalan bagi seseorang untuk sampai kesitu. Dan tidak ada pembebanan (taklif) untuk sesuatu yang tidak mungkin. Yang mungkin hanyalah mencari arah kabah. Setiap orang menuju kesana, mengarah kearah sana sesuai dengan apa yang kuat menurut dzan-nya. Itu apabila ia termasuk ahli ijtihad, namun apabila ia tidak termasuk ahli ijtihad maka ia taqlid pada ahli ijtihad. Selesai.

Sementara itu Ibnu Ruysd dalam Bidayah al-Mujtahid, menulis sebagai berikut:

اتفق المسلمون على أن التوجه نحو البيت شرط من شروط صحة الصلاة لقوله تعالى: (ومن حيث خرجت فول وجهك شطر المسجد الحرام) أما إذا أبصر البيت، فالفرض عندهم هو التوجه إلى عين البيت، ولا خلاف في ذلك. وأما إذا غابت الكعبة عن الابصار، فاختلفوا من ذلك في موضعين.[5]

Dengan demikian Ibnu Rusyd berpendapat sama seperti kebanyakan Ulama, bahwa jika dimungkinkan menghadap bangunan kabah maka wajib menghadap bangunan kabah itu. Namun bila kabah itu tidak tampak, Ibnu Rusyd mengakui adanya perbedaan di antara ulama. Perbedaan ulama tersebut ia gambarkan sebagai berikut :

أحدهما: هل الفرض هو العين، أو الجهة؟ والثاني: هل فرضه الاصابة أو الاجتهاد: أعني إصابة الجهة، أو العين عند من أوجب العين، فذهب قوم إلى أن الفرض هو العين. وذهب آخرون إلى أنه الجهة.[6]

Ibnu Rusyd

Merujuk pada pendapat Ibnu Rusyd di atas terdapat dua permasalahan penting, pertama: kewajiban itu menyangkut menghadap bangunan kabah atau hanya cukup arahnya saja. Kedua, bagi orang yang berpandangan wajib mengarah ke bangunan kabah, masalahnya adalah harus persis tepat menghadap kiblat atau upaya semaksimal mungkin mengarah ke kiblat atau bangunan kabah.

Ibnu Rusyd sendiri menurut pendapat penulis memiliki kecenderungan hanya menghadap arah saja. Dalam Bidayah al-Mujtahid ia mengutip pendapat yang menyandarkan pada sebuah hadits berbunyi:

ما بين المشرق، والمغرب قبلة، إذا توجه نحو البيت[7]

“Di antara timur dan barat adalah kiblat. Jika seseorang menghadapnya, seperti menghadap al-bait (Kiblat).

Ibnu Rusyd memperkuat argumen dengan menggambarkan sebuah shaf yang panjang ketika shalat di luar daerah kabah yang keadaan demikian tentu akan menimbulkan masalah jika yang dimaksud jihah itu identik dengan bangunan kabah itu sendiri. Selanjutnya Ibnu Rusyd menyatakan:

فإن إصابة العين شئ لا يدرك إلا بتقريب وتسامح بطريق الهندسة، واستعمال الارصاد في ذلك، فكيف بغير ذلك من طرق الاجتهاد، ونحن لم نكلف الاجتهاد فيه بطريق الهندسة المبني على الارصاد المستنب منها طول البلاد، وعرضها.[8]

Ibnu Rusyd berpendapat bahwa untuk mengarah secara persis ke bangunan kabah sangat sulit kecuali dengan bantuan ilmu ukur dan menggunakan teropong, sementara kita (umat Islam) menurutnya tidak diperintahkan berijtihad  dalam hal menentukan arah kiblat tersebut dengan menggunakan ilmu ukur dan teropong sebagai alat untuk mengetahui posisi suatu tempat.

Sementara itu Ibnu Taymiyah dengan menyebutkan sebuah hadits yang artinya: “Masjidil Haram kiblat Makkah, Makkah kiblat tanah suci (sekelilingnya), dan tanah suci kiblat bumi” memahami bahwa kiblat begitu luas, terbentang dari Syria ke arah selatan, dari Nejed ke barat, dari Sudan ke timur, dan dari Yaman ke utara dan sebagainya. Beliau bahkan berpendapat bahwa penggunaan ilmu bumi matematis untuk menentukan arah kiblat adalah suatu bid’ah.[9]

Dari pernyataan demikian Ibnu Taimiyah termasuk ulama yang memiliki pandangan bahwa tidak dituntut  untuk mengetahui persis letak kiblat itu dengan pasti.

Dari beberapa pendapat di atas, cukup untuk merepresentasikan nuansa persamaan dan perbedaan dalam konsep arah kiblat. Secara umum ulama fiqih sepakat menyatakan bahwa kiblat orang yang melihat ka’bah adalah tepat menghadap ke bangunan ka’bah itu sendiri. Namun kiblat bagi orang yang tidak melihat ka’bah karena terpaut jarak yang cukup jauh misalnya, perbedaan pendapat di kalangan para fukaha dalam kasus ini cukup beragam. Berdasarkan beberapa pendapat di atas jumhur ulama kecuali fukaha mazhab Syafi’ie tidak wajib menghadap ka’bah melainkan cukup dikira-kira arahnya. Sedangkan fukaha mazhab Syafi’i tetap mewajibkan untuk menghadap tepat pada bangunan kabah sesuai dengan firman Allah:“…dan dimana saja kamu berada, palingkan wajahmu ke arahnya…”.

Penutup

Perbedaan pendapat dalam fiqh tentang arah kiblat berangkat dari masalah ketika Kabah tidak bisa dilihat langsung, saat kabah bisa disaksikan atau arahnya diyakini ulama sepakat hukumkan menghadap ain kabah adalah wajib. Apabila jaraknya jauh dan arah kiblat tidak bisa dipastikan maka sebagian ulama berpendapat cukup menghadap arahnya, kecuali Imam Syafi’i.[10] Alasan ulama “mazhab jihah” menghadap tepat ke ain (wujud) kabah itu sendiri adalah memberatkan umat Islam.

Dalam hal ini saya berpendapat, yang disebut arah adalah garis yang menghubungkan titik atau suatu tempat dengan kabah yang terletak di Masjidil Haram, bukan sudut yang melebar. Dengan demikian perlu usaha yang sungguh-sungguh agar arah yang dimaksud benar-benar ke titik kabah itu, atau sekitar masjidil haram. Jika ulama daApalagi dengan perkembangan hulu berpandangan ada faktor kesulitan, maka sekarang faktor kesulitan itu sudah dapat di atasi oleh ilmu pengetahuan khususnya matematika yang dapat menentukan suatu titik manapun di permukaan bumi dengan pressei yang sanagt baik.


[1]Maksudnya ialah Nabi Muhammad saw sering melihat ke langit berdo’a dan menunggu-nunggu turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah.

[2] Lihat  : Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Juz 3 h. 208.

[3] Lihat : I’anah al-Thalibin, Juz 4 h. 251

[4] Mawahib al-Jalil fi Syarh al-Mukhtashar Syaikh Kholil, dalam al-Maktabah al-Syamilah, al-Ishdar al-Tsâni, juz 4, h. 49, website: http://www.shamela.ws.

[5] Ibn al-Rusyd, Bidayat al-Mujtahid, Beirut: Dar Ibn ‘Ashashah, h. 213

[6] Ibid.

[7] Ibid. h. 214

[8] Ibid.

[9] Lihat Nurcholish Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992 h. 84

[10] Makna arah dalam konteks pembahasan ini perlu penjelasan, apakah garis yang menghubungkan titik sebuah tempat ke kabah atau yang disebut arah adalah sudut yang melebar dari suatu titik ke arah kabah. Penulis lebih cenderung pada pengertian yang pertama. Konsekuensinya ijtihad untuk menentukan arah kiblat harus dilakukan seteliti mungkin dengan menggunakan segenap kemampuan dan ilmu.

.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: