Oleh: ALIBORON | 26 Oktober 2010

Epistemologi Hermeneutika

A. Pendahuluan

Dewasa ini para filosuf kontemporer berusaha menghidupkan kembali topik tentang hermeneutik sebagai suatu yang menarik dalam bidang filsafat. Hermeneutik sebagai sebuah metode memang belum berlaku secara universal, tetapi metode ini tetap berguna mendukung pemahaman tentang kebenaran dan interpretasi secara filosofis.

Dalam makalah ini penulis bermaksud menyingkap tentang konsepsi-konsepsi hermeneutik dari tokoh-tokoh penting yang dapat dipandang sebagai peletak dan pengembang hermeneutik dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora modern. Beberapa tokoh yang dikaji pemikirannya adalah : Friedrich Schleiermacher (1768-1834), Wilhelm Dilthey (1833-1911), Martin Heidegger (1844-1976), Hans-Georg Gadamer (1900- ), Jurgen Habermas (1929 –  ), Paul Ricoeur (1913- ), Jacques Derrida (1930- ), Mohammed Arkoun (1913- ), dan  Hassan Hanafi (1913- )

Walaupun hermeneutik umumnya lebih banyak berkaitan dengan analisis linguistik-gramatikal (kebahasaan), namun pendekatannya cukup variatif dari masing-masing pengajurnya. Karena itu tulisan ini menekankan pada pemahaman konsep hermeneutika tokoh-tokoh di atas, di samping itu yang lebih penting adalah memahami bagaimana memanfaatkan cara kerja hermeneutik sebagai model cara berpikir filosofis dari berbagai aliran hermeneutika tersebut.

B. Konsep Dasar Epistemologi Hermeneutik

Istilah epistemologi berasal dari kata episteme yang berarti pengetahuan, dan logos yang berarti teori. Secara etimologis, berarti teori pengetahuan.[1] Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan, teori tentang metode atau dasar dari ilmu pengetahuan atau studi tentang hakikat tertinggi kebenaran dan batas ilmu manusia.[2]

Ekky al-Maliki mendefinisikan epistemologi sebagai filsafat yang sistematis tentang proses mengetahui sebagai proses khas manusia. Wilayah kajiannya adalah tentang teori pengetahuan, tentang sumber (rasio-emperis), sarana, batas-batas (ruang dan waktu), struktur (subjek-objek), dan keabsahan (teori kebenaran) sebuah sistem pengetahuan.[3] Dapat pula dikatakan bahwa epistemologi merupakan ilmu yang berorientasi pada persoalan-persoalan filsafat, metode dan sistem. Secara filsafat epistemologi berorientasi mencari hakikat dan kebenaran ilmu; secara metode berorientasi mengantar manusia memperoleh ilmu; dan secara sistem berusaha menjelaskan realitas ilmu dalam sebuah hirarki yang sistematis.[4]

Kata hermeneutik atau hermeneutika adalah peng-Indonesiaan dari kata kerja hermeneutics. Kata ini berasal dari  bahasa Yunani hermeneuo atau hermeneuein yang mempunyai pengertian mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata, menerjemahkan, atau bertindak sebagai penafsir. Kata bendanya adalah hermeneia yang berarti ‘penafsiran’ atau ‘interpretasi’.[5] Dalam bahasa Inggris menjadi hermeneutics (to interpret) yang berarti menginterpretasi, menjelaskan atau menerjemahkan.[6] Kata ini sering diasosiasikan dengan nama seorang dewa Yunani, Hermes yang dianggap sebagai utusan para dewa bagi manusia. Hermes adalah utusan para dewa di langit untuk membawa pesan kepada manusia.[7]

Secara umum term hermeneutik dapat dipahami sebagai “usaha peralihan dari suatu yang relatif gelap ke suatu yang relatif terang”. Dalam ungkapan lain, hermeneutik adalah sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti.[8] Dapat juga diartikan sebagai sebuah kiat untuk memahami, yaitu metode dan prinsip untuk memahami teks.[9]

Sementara menurut Noeng Muhadjir Hermeneutik adalah metode yang berupaya mencari kebenaran ilmu dengan cara mencari makna dari susunan kalimat, konteks budaya, tafsir transendensi dan lain-lain. Konsep teorinya berangkat dari linguistieck, dan menangkap seluruh teks bacaan[10]. Noeng juga memandang kebermaknaan sesuatu dapat dilandaskan pada narasi bahasa, historis, hukum, etika atau lainnya. Penulis memaknai yang dimaksudkan Noeng diatas, bahwa kebermaknaan suatu teks tentu bukan didekati dengan linguistik semata, tetapi juga harus dikonfirmasikan dengan dimensi sosial lainnya yang mengitari teks tersebut.

Karena varian hermeneutik ini cukup banyak, maka untuk memahami dengan baik masing-masing aliran penulis selanjutnya menguraikan satu demi satu konsepsi hermeneutik dari para tokohnya dan bagaimana mengoperasikan hermeneutik tersebut dalam kerangka pemikiran atau penafsiran filosofis.

C. Tokoh-Tokoh Hermeneutik dan Ajarannya

1. Friedrich Schleiermacher (1768-1834)

Friedrich Schleiermacher adalah seorang filosof dan teolog berkebangsaan Jerman. Ia dilahirkan tanggal 21 November 1768 di Breslau, dan wafat tanggal 12 Februari 1834 di Jerman. Menempuh pendidikan di Universitas Halle dan akhirnya menjadi Profesor di sana.[11]

Tulisan-tulisannya yang terpenting adalah : On Religion : Speeches to Its Cultured Despisers (1799); On Revelation and Mythology (1799); Soliloquies (1800); Outline of a Critique of Previous Ethical Theory (1803); Brief Outline of the Study of Teology (1811); Dialectics (1814/15) with introduction to Dialectics (1833); in Collected Work, III, 1835-64; The Christian Faith 1821-22; Hermeneutics (1974) serta banyak karya lainnya dalam bentuk tulisan tangan dan makalah[12].

Schleiermacher mendefinisikan Hermeneutik sebagai: ..the art avoiding to misunderstandings[13]. Di sini dia menegaskan bahwa hermeneutik adalah sebuah seni untuk menjelaskan sesuatu yang sebelumnya tidak dipahami.

Schleiermacher juga mengatakan bahwa tugas hermeneutik  adalah memahami teks “sebaik atau lebih baik dari pengarangnya sendiri dan memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri”.[14]

Dari Dictionary of Philosophy and Religion dikutip keterangan berikut :

“Schleiermacher stressed both grammatical, and technical or psychological, interpretation. The latter required identification with the mind-set of outhor, a radical principle since his main application of hermeneutics was to scripture. Beyond scripture, however, his techniques applied to any individual work cast in language and, beyond language , to all human manifestations, including conversations and work of art.[15]

Dari keterangan di atas secara lebih sederhana dapat dijelaskan tentang pemikiran Schleiermacher, bahwa hermeneutik memiliki dua dimensi penafsiran, pertama, grammatical interpretation, terkait dengan pemahaman terhadap aspek bahasanya. Kedua, psychological interpretation, adalah suatu dimensi yang menggali sesuatu yang tersembunyi mengenai aspek orisinil dan individual yang tersembunyi dari pengarang (outhor), sehingga memungkinkan seseorang menangkap “setitik cahaya” pribadi penulis yang dengan itu akan menciptakan kembali pemahaman yang kreatif. Melalui dua proses penafsiran ini, menurut gagasan Schleiermacher seseorang mampu menjelaskan asumsi yang sesuai dengan orisinalitas ekspresi yang diproduksi pengarang. Inilah yang dikatakan Schleiermacher bahwa kita bisa memahami sang pengarang secara baik, bahkan lebih baik daripada dia memahami dirinya sendiri.

Menurut Schleiermacher, tugas seorang hermeneut adalah membawa kembali kehendak makna yang menjadi jiwa suatu teks. Proses interpretasi harus masuk menembus  segala dogmatisasi penafsiran untuk sampai pada maksud si pengarang melalui daya intuisi yang dimiliki manusia.[16]

Dengan kata lain Schleiermacher mengatakan tugas pokok seorang hermeunet ialah bagaimana menafsirkan sebuah teks klasik atau teks yang asing sama sekali dimunculkan kembali dari kerangkeng dogma agar menjadi milik kita yang hidup di zaman dan tempat serta suasana kultural yang berbeda.

“Makna tidak bersemayam pada teks”, adalah ungkapan yang dapat menjelaskan pandangan Schleiermacher tentang hermeneutik. Di sini pengarang dapat diragukan, apakah maksud pengarang benar-benar sebagaimana teks yang dimaksud si pengarang? Artinya, apakah maksud pengarang tidak terdistorsi dalam teks yang dibuatnya, yang ia sendiri tidak menyadari.

Konsep Schleiermacher di atas dapat didekati dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud (1856-1939). Dalam psikoanalisis dikenal adanya manifest content dan latent content. Manifest content adalah  apa-apa yang timbul pada kesadaran dan terungkap melalui berbagai wahana (teks, karya seni, mimpi, dan sebagainya), sedang latent content adalah apa yang tersembunyi  dalam alam bawah sadar. Apabila maksud si pengarang bukanlah maksud sebenarnya, maka upaya menjadikannya sebagai tujuan akhir pemahaman menjadi sia-sia apabila tidak disertai pengetahuan mengenai proses-proses psikologis dalam diri pengarang.

Maka melalui metode hermeneutik Schleiermacher, pembaca dipaksa untuk keluar dari keberadaannya sekarang untuk bertualang melintasi waktu ke konteks historis. Di sinilah letak kesulitannya, karena keberadaan penafsir tidak pernah bisa dilepaskan dari penafsirannya terhadap suatu teks. Penafsiran yang semata-mata memfokuskan diri pada keberadaan si penyusun teks dan mengabaikan keberadaan kita sebagai penafsir, justru akan mempermiskin pemahaman kita, apalagi dengan menyadari bahwa setiap penafsir adalah entitas yang subjektif, terbatas, memiliki kepentingan, kehendak, kecenderungan yang tak pernah bisa dilepaskan ketika menyelami penyusun teks.

Teori interpretasi pada dasarnya adalah teori membaca, yang pada akhirnya juga merupakan teori tentang teks. Pemahaman seseorang tergantung pada bagaimana membaca teks. Atas dasar ini, maka teori membaca juga akan tergantung pada pemahaman.[17]

Menurut Schleiermacher, ada empat faktor yang terdapat pada interpretasi, yaitu : (a) Bilding, yaitu pembentukan jalan pikiran; (b) Sensus Cummonis, yaitu pertimbangan praktis yang baik; (c) Pertimbangan, yaitu menggolongkan hal-hal yang khusus atas dasar pandangan tentang hal yang universal; (d) Selera, yaitu keseimbangan antara insting panca indera dengan kebebasan intelektual.[18]

2. Wilhelm Dilthey (1833-1911)

Wilhelm Dilthey adalah seorang filosuf berkebangsaan Jerman. Ia dilahirkan di Biebrich pada tanggal 19 November 1833 dan meninggal 30 September 1911 di Berlin. Belajar di Universitas Heidelberg dan Berlin. Mengajar di Universitas Basel, Kiel dan Breslau. Menjadi Guru Besar sejak 1882 dalam bidang Sejarah Filsafat  di Universitas Berlin. Interesnya pada sejarah lebih banyak dipadukan dengan filsafat. Dilthey menaruh perhatian bukan pada bidang filsafat semata, namun juga psikologi dan ilmu sosial pada umumnya. Pemikiran filsafatnya banyak dipengaruhi oleh Emanuel Kant.[19]

Tulisan-tulisan Wilhelm Dilthey yang terpenting adalah : Introduction to the Sciences of the Spirit (1883); Experience and Poetry (1905); Studies on the Foundation of the Sciences of the Spirit (1905); The Essence of Philosophy (1907); The Types of World View (1911).

Dilthey menganjurkan mempergunakan hermeneutik, sebab hermeneutik adalah dasar Geisteswlssenschaften (ilmu pengetahuan tentang batin manusia). Selanjutnya ia mengatakan metode pengoperasian hermeneutik terbagi atas dua macam, yaitu interpretasi data dan riset sejarah.[20]

Jika Schleiermacher telah membangun Hermeneutik umum, maka langkah Dilthey adalah berusaha menemukan fondasi epistemologi bagi disiplin ini untuk diterapkan pada ilmu-ilmu humaniora. Ia mengkritik tradisi romantis[21] dari mazhab  sejarah Jerman dan berkehendak melengkapi penelitian sejarah dengan karakter ilmiah, ia juga bersikap tidak simpati memasukkan metode positivistik tanpa kritik ke dalam wilayah ilmu-ilmu humaniora. Karena itu ia menekankan pentingnya interpretasi data dan riset sejarah dalam mengoperasikan hermeneutik.

Karakteristik Hermeneutika Dilthey dijelaskan sebagai berikut :

menghadapi kehendak kaum Romantis yang terus menerus mendesakkan kehendaknya dan menghadapi kehendak kaum subjektivitas yang skeptis di dalam wilayah sejarah dengan cara meletakkan dasar-dasar penafsiran sejarah yang valid dengan mana kepastian di dalam sejarah ditegakkan.[22]

Yang diinginkan oleh Dilthey adalah pemahaman sejarah harus di jamin oleh fakta, bahwa pokok masalah dari ilmu-ilmu humaniora adalah adanya objektifikasi-objektifikasi kehidupan. Perbedaan mendasar antara aliran Schleiermacher yang romatis-historis dengan Dilthey adalah dalam pendekatan dalam mengoperasikan hermeneutik. Jika Schleiermacher dengan pendekatan gramatikal dan psikologikal yang dampaknya amat relatif, karena sulitnya melepaskan unsur subjektivitas penafsir atau pembaca teks, maka dalam epistemologi Dilthey hermeneutik dioperasikan dengan data dan riset untuk meminimalisir faktor subjektif. Epistemologi Dilthey ini dipandang berjasa dalam penerapan hermeneutika dalam ilmu-ilmu humaniora. Di masa-masa akhirnya, Dilthey juga dipandang berupaya “rediscovery of I in the Thou” , artinya “menemukan saya di dalam kamu”. Mendukung aliran romantisme sejarah, dengan cara yang lebih empati.

Menurut Dilthey, pengoperasian hermeneutik dibagi dua. Pertama, interpretasi data, semua bagian dalam interpretasi berlangsung menurut aturan-aturan yang berlaku supaya segala kesulitannya dapat diatasi. Jadi seni interpretasi lahir beserta dengan aturan-aturannya sendiri. Sedangkan hermeneutik justru lahir karena adanya konflik antara aturan-aturan tersebut, dan juga karena munculnya antagonisme karena gaya yang berbeda-beda dalam karya-karya interpretasi. Hermeneutik adalah seni menginterpretasi naskah yang bersifat monumental atau karya-karya besar.[23] Jadi, interpretasi data adalah aturan-aturan yang dibuat untuk mengarahkan, menyederhanakan dan mempersingkat kerja.

Kedua, riset sejarah, ia menyatakan bahwa peristiwa sejarah dapat dipahami dalam tiga proses; (a) memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli; (b) memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah; (c) menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasan yang berlaku pada saat sejarawan hidup.[24]

3. Martin Heidegger (1844-1976)

Martin Heidegger adalah seorang filosuf berkebangsaan Jerman. Ia dilahirkan di Meskirch dan pernah menempuh studi filsafat di bawah bimbingan Edmund Husserl di Universitas Freiburg mendalami aliran fenomenologi. Karya terbesarnya berjudul Being and Time, yang dipublikasikan  pada tahun 1927 dan didedikasikan untuk gurunya, Husserl. Di masa Hitler berkuasa, Heidegger menjabat sebagai Rektor Universitas  Freiburg, dilantik oleh Hitler dalam suatu upacara.

Tulisan-tulisannya yang terpenting adalah : The Theory of Categories and Meaning in Duns Scotus (1916); Being and Time (1927); Kant and the Problem of Metaphysics (1929); On the Essence of Reason (1929); What is Metaphysics? (1929); The self-Assertion of the German University (1933); Holderlin and the Essence of Poetry (1936); On the Essence of Truth (1943); Plato’s Theory of Truth (1947); Cart Tracks : a Collection of Lecturer (1949); Introduction of Metaphysics (1953); What is Thinking (1954); On the Question of Being (1955); What is Philosophy ? (1956); Identity and Difference (1957); Composure (1959); On the Way to Speech (1959); The Question Concerning the Thing (1962); Phenmenology and Theology (1970); Views (1970).

Menimba pengetahuan dari Husserl memberikan pengaruh besar pada Heidegger. Ia berkembang dalam dialektika  fenomenologi. Karenanya pula hermeneutika Heidegger menjadi kontradiktif dengan fenomenologi. Hal tersebut dapat dijelaskan, jika fenomenologi adalah seni membiarkan fenomena berbicara sendiri, maka hermeneutika adalah seni melihat fenomena sebagai teks yang mengundang pertanyaan untuk kemudian diinterpretasi. Jika kedua metode tersebut digabung menjadi satu akan terjadi kontradiksi karena fenomenologi membiarkan  fenomena-fenomena berbicara sendiri, sedangkan hermeneutika justru menafsirkan fenomena yang berarti fenomena-fenomena tidak berbicara sendiri.[25]

Belajar dengan gurunya Husserl, justru membuat Heidegger telah menjadi seorang pemberontak terbaik dari arus aliran fenomenologi gurunya. Bahkan karyanya yang monumental tentang kritik terhadap fenomenologi ia dedikasikan kepada gurunya. Heidegger kemudian dianggap sebagai pencetus hermeneutika fenomenologi.

Hermeneutika fenomenologi Heidegger adalah hermeneutika yang melingkar, maksudnya sebagai berikut : supaya memahami keseluruhan, saya perlu mengetahui apa makna meng-ada sebagai sesuatu; sedangkan untuk memahami apa makna meng-ada sebagai sesuatu, memerlukan pemahaman tentang apa makna meng-ada secara keseluruhan. [26]

Paragraf di atas adalah inti dari hermeneutik Heidegger. Jika dipahami lebih sederhana, untuk memahami suatu kata kita perlu memahami konteksnya, tetapi untuk memahami konteks saya harus pertama-tama mengetahui makna katanya.

Prinsip-prinsip hermeneutika Heidegger dalam suatu prosedur penafsiran adalah sebagai berikut : Pertama, biarkan fakta-fakta berbicara sendiri, hal ini berarti manusia harus sadar bahwa selama ini manusia selalu bicara dengan penuh kepentingan, asumsi, kehendak, harapan tentang fakta-fakta. Kedua, tidak ada fakta telanjang tak terinterpretasi, fakta selalu relatif terhadap latar belakang konseptual-teoritis yang kita miliki[27]. Copernicus memandang matahari terbit dengan latar belakang konseptual-teoritis pandangan heliosentrisnya; seorang pakar cuaca melihat awan berarrak secara berbeda dengan seorang penyair aliran romantisisme.

Hermeneutika fenomenology Heidegger berbeda dengan hermeneutika filsafat sebelumnya[28], ia mengupayakan suatu pemahaman makna teks tanpa mempedulikan keberadaan si penafsir. Hermeneutika Heidegger hendak melepaskan diri dari kerangka epistemolologi dimana subjek tidak lagi berhadapan dengan objek yang terhampar di depannya, melainkan subjek selalu sudah berada di dunia lain yang sudah bermakna, apa yang terhampar di hadapan bukan representasi sebenarnya dan siap pakai.

Apabila konsep tersebut dikaitkan dengan teks, maka makna teks pada dirinya tidak ada lagi, karena begitu Dasein berada di dunia, maka makna teks sudah merupakan penafsiran tradisi sebelumnya yang membentuk suatu horizon makna. Hermeneutika bukan lagi suatu metode untuk memahami teks, melainkan memahami keberadaan dasein yang selalu bertanya-tanya tentang keberadaannya di dunia bersama-sama yang lain, dan di antara benda-benda. Hermeneutik oleh Heidegger dilepaskan dari kerangka epistemologi untuk dikembalikan pada ontologi eksistensial.

4. Hans-Georg Gadamer (1900- )

Hans-Georg Gadamer adalah filosuf berkebangsaan Jerman. Lahir di Marburg an der Lahn Jerman pada tahun 1900. Ia memiliki latar belakang pendidikan formal  dalam bidang studi bahasa-bahasa dan kebudayaan klasik serta filsafat. Gelar doktor filsafat diraihnya ketika berusia 29 tahun di Merburg. Setelah itu menjadi tenaga pengajar di Leipzig pada tahun 1939 dan di Frankfurt pada tahun 1947. Di akhir karirnya ia menjadi guru besar di Heidelberg.[29]

Kebanyakan karya-karya Gadamer membahas dan menginterpretasi pemikiran-pemikiran filosofis terdahulu seperti Plato, Herder, Goethe dan Hegel. Adapun karya monumentalnya adalah  Wahrheit und Methode : Grundzuge Einer Philosophischen Hermeneutiki, yang selesai disusun  pada tahun 1960. Dengan karya ini, Gadamer menjadi seorang filosof terkemuka di bidang hermeneutika. Terbitnya buku ini dianggap sebagai salah satu peristiwa paling penting dalam filsafat Jerman kontemporer. Karya Gadamer ini kemudian diterjemahkan  ke dalam Bahasa Inggris oleh  Garret Barden dan John Cumming yang terbit tahun 1975 dengan judul Truth dan Method.

Di samping Truth and Method karya Gadamer yang juga membahas hermeneutika adalah Kleine Schriften yang terdiri atas 3 volume yang sebagian isinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh David E. Linge dengan judul Philosophical Hermeuneutics (1976).[30]

Ia berpendapat tentang hermeneutik adalah seni, bukan proses mekanis, tetapi juga merupakan usaha memahami dan menginterpretasi sebuah teks. Jika pemahaman adalah jiwa dari hermeneutik, maka pemahaman tidak bisa dijadikan pelengkap proses mekanis. Pemahaman dan hermeneutika hanya dapat diberlakukan sebagai suatu karya seni. Selanjutnya ia mengatakan filsafat hermeneutika memahami dirinya sendiri bukan sebagai posisi mutlak sebuah pengalaman, melainkan sebagai jalan pengalaman itu. Bahkan ia menegaskan bahwa tidak ada prinsip yang lebih tinggi daripada mengusahakan diri tetap terbuka untuk berbicara dengan orang lain.[31]

Gadamer  tidak sepenuhnya menolak aliran romantis, namun ia mengemukakan kelemahan hermeneutik romantis dengan mengemukakan keberatannya. Pertama, menyangkut pendapat mereka bahwa hermeneutika bertugas menemukan arti yang asli dari suatu teks, lalu mencari arti yang oleh pengarang diletakkan dalam teks itu. Bagi Gadamer, arti suatu teks tetap terbuka  dan tidak terbatas pada maksud si author dengan teks tersebut. Menurutnya, interpretasi tidak semata-mata reproduktif tetapi juga produktif. Dalam kalimat Gadamer sendiri tertulis :

That is why understanding is not mereley a reproductive, but always a productive attitude as well[32]

Keberatan kedua menyangkut pendapat hermeneutik romantis tentang waktu. Penafsir/Pembaca tidak mungkin dapat melepaskan diri dari situasi historis dimana ia berada, dan karena itu setiap usaha untuk  merekonstruksi zaman si author oleh si reader adalah suatu hal yang mustahil dan sia-sia. Karena antara keduanya penuh dengan historisitas yang melingkarinya. Menurut Gadamer suatu teks tidak terbatas pada masa lampau (waktu teks ditulis), tetapi memiliki keterbukaan untuk masa kini dan mendatang untuk ditafsirkan menurut cakrawala pemahaman suatu generasi.[33]

Dengan demikian menurut Gadamer, interpretasi suatu teks merupakan tugas yang tidak pernah selesai dan setiap zaman harus mengusahaakan interpretasinya sendiri. Karena itulah interpretasi definitif yang tekstual dan interpretasi yang relatif model romantisme tidak diharapkan.

Selain itu juga, ia menganjurkan bahwa untuk dapat memahami sebuah teks, kita harus membuang jauh segala bentuk pra konsepsi dengan maksud supaya kita menjadi terbuka terhadap apa yang dikatakan sebuah teks. Sebuah teks, baik itu peraturan perundang-undangan maupun kitab suci, harus dipahami setiap saat, dalam setiap situasi khusus, dalam cara yang baru dan berbeda dengan yang lama, jika hal tersebut ingin dipahami sebagaimana mestinya.[34]

Dalam konsep interpretasi produktif versi Gadamer, adalah terjadi karena adanya bahasa sebagai isu sentral. Sehingga tugas utama hermeneutika adalah pemahaman terhadap bahasa.

The principle of hermeneutics simply means that we should try to understand everything that can be understood. This is what I mean by the sentences, being that can be understood is language.[35]

Pemahaman yang dimaksud Gadamer dalam interelasinya dengan term hermeneutika adalah Being is Language yang lebih mengarah kepada dialektika searah  antara tiga dunia, yaitu the world of text, the world of author dan the world of reader. Pemahaman berlangsung  melalui suatu proses  yang melingkar yaitu bertolak dari pra pemahaman tentang realitas yang hendak dipahamai, tanpa pra pemahaman ini tidak mungkin dapat diperoleh pemahaman  yang sungguh tentang teks tersebut. Proses ini yang disebut Gadamer sebagai hermeneutic circle (lingkaran hermeneutika).

Bagi Gadamer setiap pemahaman selalu merupakan sesuatu yang bersifat historik dialektik, pemahaman sangat terkait dengan sejarah dalam pengertian bahwa pemahaman itu  merupakan fusi dari masa lalu dengan masa kini. Menurutnya sejarah adalah sebuah perjalanan tradisi yang ingin membangun visi dan horison kehidupan di masa depan. Setiap manusia dan setiap generasi adalah anak kandung dan sekaligus pewaris sebuah tradisi. Sebuah tradisi akan berbicara kepada kita ketika secara kritis kita interogasi yang kemudian melahirkan sebuah persahabatan yang diikat oleh keinginan untuk berbagi pengalaman dan gagasan antar generasi. Pendekatan seperti ini disebut Gadamer sebagai  Effektive History.[36]

Dikatakan effective historis karena baik sejarah sebagai objek kajian maupun subjek yang menafsirkan sama-sama berada dalam kapal tradisi yang tengah berjalan.

Hermeneutik Gadamer dikenal juga dengan sebutan hermeneutik dialektis. Proses hermeneutik dialektis tersebut dapat diskemakan sebagai berikut :

Dunia Teks

 

 

Dunia Pengarang      Dunia Pembaca

Bagan tersebut menggambarkan adanya gerak bolak balik yang bersifat segitiga-hermeneutis. Di samping ia melakukan perjalanan intelektual ke masa lalu untuk menelusuri dan memasuki ruang-ruang historis juga kembali ke masa kini untuk mendapatkan makna baru.

5. Jurgen Habermas (1929 –  )

Jurgen Habermas dilahirkan tahun 1929 di Dusseldorf Jerman. Menempuh studi di Universitas Gottingen, Zurich dan Bonn. Dia mengajar di Universitas Heidelberg dan Frankfurt. Habermas menulis banyak buku, di antaranya yang terpenting adalah : The Structural Trasformation of the Public Sphere (1962); Theory and Practice (1963); On the Logic of Social Science (1967); Knowledge and Human Interest (1968); “Technology and Science as Ideology” in Toward a Rational Society (1968); Hermeneutics and the Critique of Ideology (1976) (a collection trans. From Klein Schripten); The Reconstruction of Historical Materialism (1976); Communication and the Evolution of Society (1979); Theory of Communication (1981); Philosophical Discourse on Medornity (1985); The Theory of Communicative Action (1985); Postmetaphysical Thinking (1988); Moral Consciousness and Communicative Action (1990); Justification and Application : Remark on Discourse Ethics (1993).[37]

Habermas berpendapat bahwa pemahaman hermeneutik melibatkan tiga kelas ekspresi kehidupan, yaitu : linguistik, tindakan, dan pengalaman. Memahami pada dasarnya membutuhkan dialog, sebab proses memahami adalah proses kerjasama dimana pesertanya saling menghubungkan diri satu dengan lainnya secara serentak di dunia kehidupan (lebenswelt). Lebenswelt mempunyai tiga aspek, yaitu dunia objektif, dunia sosial, dan dunia subjektif. Dunia objektif adalah totalitas semua entitas atau kebenaran yang memungkinkan terbentuknya pernyataan-pernyataan yang benar. Jadi, totalitas yang memungkinkan kita berpikir secara benar tentang semua hal, termasuk manusia dan binatang. Dunia sosial adalah totalitas semua hubungan interpersonal atau antar pribadi yang dianggap sah dan teratur. Dunia subjektif adalah totalitas pengalaman subjek pembicara atau sering juga disebut “duniaku sendiri”, pengalamanku sendiri.[38]

Menurut Habermas, pemahaman dalam hermeneutik mempunyai tiga momen, yaitu : pertama, pengetahuan praktis-reflektif yang mengarah pada pengetahuan diri, dengan cara membaur diri dengan masyarakat.  Kedua, Pemahaman yang kaitannya dengan kerja yang akan ketindakan yang nyata (praksis). Ketiga, pemahaman yang global, yang mengandaikan adanya tujuan khusus, dapat ditentukan secara independen, dengan tujuan akhirnya kehidupan sosial.[39]

Habermas melakukan kritik terhadap hermeneutik historis, menurutnya  ilmu-ilmu ini bukan merupakan pendekatan yang  mendalam bagi studi fenomena sosial. Karena ilmu-ilmu ini dibatasi oleh batasan-batasan medium dalam kajian mereka, yakni bahasa.

Habermas menegaskan bahwa batasan-batasan macam ini bisa ditemukan dalam tulisan Wittgenstein dan Gadamer. Seperti Dilthey, Wittgenstein memahami grammatical sebagai susunan yang kompleks dari simbol-simbol dan tindakan. Untuk menghindarkan kesimpulan yang relativistik ini Habermas kembali kepada sumbangsih Gadamer. Hermeneutika Gadamer memusatkan perhatian pada fenomena terjemahan, dengan itu mengatasi batas isolasi gramatical dan membawa refleksitas bahasa ke dalam kesadaran.

Namun Habermas mengkritik tendensi Gadamer yang hendak mengabsulotkan  tradisi budaya. Karena pengubahan itu mengabaikan fakta bahwa bahasa itu sendiri tergantung kepada proses sosial yang di dalam wataknya tidak  linguistik sepenuhnya. Sebagaimana Habermas nyatakan :

Bahasa juga merupakan medium bagi kekuatan yang dominan dan kekuatan sosial. Bahasa sebagai pelayan untuk hubungan-hubungan yang sah dari kekuasaan yang terorganisir. Sepanjang digunakan  untuk hubungan-hubungan  kekuasaan yang sah dan kelembagaannya benar-benar ada dan tidak artikulatif, sepanjang hubungan-hubungan ini mengekspresikan  diri mereka secara sah, bahasa juga bersifat ideologis.[40]

Bahasa dengan mana ilmu-ilmu hermeneutik historis bergerak hanya merupakan salah satu momen dari totalitas sosial yang juga menghasilkan momen melalui pelaksanaan kontrol teknis dan kekuasaan politik. Mengabaikan wilayah yang terakhir ini (baca : Proses sosial), artinya menghentikan bahasa dalam ruang filsafat bahasa dan hermeneutik-pasti akan jatuh ke dalam perangkap konservatif yang naif dan idelisme yang bersifat pasrah.

6. Paul Ricoeur (1913-  )

Paul Ricoeur adalah seorang filosof berkebangsaan Perancis. Ia lahir di Valence, Perancis Selatan, pada tahun 1913. Menempuh pendidikan di Universitas Rennes dan Sorbonne. Pernah menjadi dosen di Universitas Strasbourg, Paris-Nanterre dan Universitas Chicago.

Karya tulisnya yang terpenting adalah : The voluntary and the Involuntary (1950); The Symbolism of Evil (1960); On Interpretation : Essay on Freud (1965); The Conflict of Interpretations (1969); The Live Methapor (1975); Hermeneutics and The Human Sciences (1981) dan lainnya.[41]

Menurutnya, hermeneutik adalah sebagai interpretasi terhadap simbol-simbol dan perhatian terhadap teks. Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya lisan dapat dipersempit.[42]

Menurut Ricoeur, sebuah teks dipandang sebagai  sebuah karya hasil kajian yang berada di bawah kondisi penulisan. Karena itu mengatakan teks sebagai sebuah karya berarti mengatakan bahwa teks itu adalah suatu keseluruhan karya yang tersusun yang tidak bisa disederhanakan sebagai sekedar komposisi kalimat.

Ricoeur melihat antara teks dan perbincangan adalah sama sebagai bentuk merealisasikan gagasan, namun keduanya memiliki karakteristik berbeda. Ia menempatkan karakteristik tersebut dalam konsep utama, yakni teori “distanciation” yang dibaginya menjadi empat distansi [43] :

Prinsip pertama adalah memisahkan antara peristiwa saat dan tempat pengucapan terjadi dengan tujuan di balik apa ucapan. Demikian pula halnya dengan tulisan, karena apa yang dituangkan di dalam sebuah tulisan adalah makna yang mempunyai tujuan, dan pengungkapan semacam ini mungkin dikerjakan dengan menuangkan ucapan menjadi tulisan yang mengandung tujuan. Dengan mengucapkan sesuatu dengan sendirinya tidak terungkapkan dalam tulisan, namun tindakan yang diperlihatkan ketika dalam mengucapkan sesuatu, misalnya, gerak-gerik ketika seseorang memperlihatkan kebenciannya terhadap sesuatu atau seseorang dan tindak yang diperlihatkannya dengan mengucapkan sesuatu seperti  cis, uh, dan lainnya bisa direalisasikan dalam tulisan melalui berbagai acuan tata bahasa dan frase.

Ringkasnya, dalam konsep distansi yang pertama di atas memperlihatkan adanya perbedaan antara tindak mengucapkan dengan tindak menulis. Tindak menulis tidak disertai gerak-gerik wajah, mulut, tangan, kepala, mata yang semua ini bisa terjadi ada tindak mengucapkan, meskipun tanpa bahasa kata.

Prinsip kedua, adalah  berkenaan dengan hubungan antara ungkapan yang ditulis dengan penutur asli. Dalam wacana ucapan, apa yang dimaksud dan diinginkan sang pembicara dengan makna yang dibicarakan sering tumpang tindih, sedang dalam tulisan kondisi seperti itu tidak dijumpai.

Pada distansi kedua ini dapat dicontohkan, misalnya dalam bahasa lisan perbincangan sehari-hari di antara kita memperlihatkan adanya tumpang tindih dan sangat bersifat terbuka, berubah-ubah topik, meloncat-loncat dari masalah sepakbola langsung ke masalah pemilu. Karena itulah bagi Ricoeur, materi yang dibicarakan dalam teks itu sebenarnya lebih kaya dari apa yang dikatakan oleh sang pengarang. Tugas hermeneutika adalah menyingkap karya teks dan membongkar sampai ke akar-akar psikologis pengarangnya.

Prinsip distansi ketiga adalah mengetengahkan perbedaan antara ungkapan tertulis dengan pendengar aslinya (original audience). Di dalam perbincangan, pendengar bisa mengembangkan wacana perbincangan melalui situasi dialogis, sedangkan di dalam tulisan, teks itu dialamatkan kepada pendengar yang tidak dikenal dan juga terbatas pada kelompok yang membaca. Dengan demikian, teks mengalami dekontekstualisasi (kondisi tanpa konteks-hubungan) dengan kondisi riel masyarakat pembacanya, dan dirinya terbuka bagi semua pembaca yang tanpa batas.

Prinsip keempat adalah berkenaan dengan pembebasan teks dari batas-batas referensi yang nyata dan yang terjadi. Berbeda dengan wacana ucapan, dalam wahana tulisan batasan itu hilang. Jadi dalam prinsip ketiga ini Ricoeur hendak menyatakan bahwa rujukan dari karya tulis yang kita baca, kita cermati dan kita telaah tidak lagi merujuk dunia nyata yang terbuka untuk dialog, tetapi suatu dunia yang digambarkan dengan referensi yang tidak nyata. Kita dapat mencontohkan, dalam wacana lisan kita berhadapan dengan pendengar, konkrit, nyata, langsung, diketahui oleh mata kita, dalam waktu da tempat tertentu. Sedang dalam wacana tertulis, ciri-ciri terbuka seperti itu tidak ada.

Keempat distansi di atas menggambarkan jarak yang terjadi antara teks dengan pembacanya. Untuk menepis jarak dimaksud adalah dengan hermeneutika. Bagi Ricoeur, hermeneutika bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi dalam simbol-simbol tersebut. Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya, sehingga dapat mengurangi keanekaragaman makna dari simbol-simbol. Untuk merealisasikan tujuan tersebut Ricoeur menetapkan tiga langkah, yaitu :

  1. langkah simbolik atau pemahaman dari simbol-simbol
  2. pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna
  3. langkah filosofis, yaitu berpilar dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya.[44]

Dengan langkah tersebut yang dicari sebenarnya adalah dinamika internal sebuah teks, dengan menemukan daya yang dimiliki kerja teks selanjutnya digunakan untuk memproyeksikan diri keluar dan membuat makna teks itu muncul ke permukaan.

7. Jacques Derrida (1930- )

Derrida adalah seorang filosof berkebangsaan Perancis. Ia dilahirkan di El-Biar, Algeria (Baca :Aljazair) pada tahun 1930. Derrida menempuh pendidikan di Ecole Normale Superieure, Universitas Paris, dan Harvard University. Dia mengajar di Ecole Normale Superieure, Ecole des Hautes Etudes Sciences Socialis. Tulisan-tulisannya yang terpenting adalah : Of Grammatology (1967); Speech and Phenomena and Other Essays on Husserl’s Theory of Signs (1967); Writing and Difference (1967); Dissemination (1972); Position (1972);Margin of Philosophy (1972); The Archaeology of the Frivolous (1973); Glas (1974); Truth in Painting (1978); The Post Card (1980); On the Right to Philosophy (1990); Given Time (1991); Raising the Tone of Philosophy (1993).

Menurut Derrida, hermeneutik adalah pemahaman dalam karya. Tujuannya adalah membongkar rahasia pandangan dunia dari pengarang dan memungkinkan kita untuk menyadur bahwa esensi fenomenologis dari memahami tidak lain adalah kemampuan seseorang untuk mendengarkan sendiri apa yang ia katakan. Pemberi tanda adalah orang yang dapat merasakan nafas pengarang dan maksud dari isyarat atau makna yang melekat pada pengarang.[45]

Sebuah teks tidak akan merupakan sebuah teks jika dalam pandangan sekilas tidak menyembunyikan hukum-hukum komposisinya dan aturan-aturan permainannya. Teks tersebut harus selalu kelihatan seakan-akan sulit dimengerti, hukum dan aturannya tidak boleh tersembunyi di balik rahasia yang sulit dipecahkan. Di samping itu pula menurut Derrida, teori interpretasi pada dasarnya adalah teori membaca, yang pada akhirnya juga merupakan teori tentang teks. Atas dasar ini, maka teori membaca juga tergantung pada pemahaman.[46]

Derrida banyak dipengaruhi oleh filsuf Jerman Martin Heidegger. Heidegger menulis bahwa pemikir-pemikir barat  sejak zaman Yunani klasik selalu memikirkan  dan membicarakan hal dan benda yang ada, tetapi melupakan “ada” itu sendiri  yang melandasi dan merangkum segalanya. Derrida menunjukkan kritik serupa pada pemikiran Barat yang tradisional. Pemikiran Barat itu, menurut Derrida dikuasai oleh “logosentrisme”. Logosentrisme berdasarkan anggapan bahwa “ada” adalah sama dengan kehadiran dan yang benar adalah yang rill atau hadir.

Derrida membantah  pandangan logosentris tersebut. Menurutnya penanda (Derrida sering memakai istilah “bekas” atau “jejak”) adalah lebih awal dari petanda. Lebih dari itu, menurut Derrida tidak ada “petanda transendental”. Inilah landasan epistemologi Hermeneutika Derrida. Bagi Derrida tidak ada sesuatu di luar, tidak ada teks yang berada diseberang sana. Sebaliknya, objek pemikiran atau pembiaraan baru dibentuk di dalam rangka teks tertentu.

Menurut Derrida, konsepsi logosentri berhubungan dengan sikap filsafat tradisional  yang mengutamakan subjek sebagai asal realitas atau paling sedikit  sebagai yang memahami realitas secara rasional: subjek menciptakan realitas dan dengan demikian menyusun kembali realitas secara rasional. Sikap mengutamakan subjek itu ditentang oleh Derrida. Derrida menggarisbawahi bahwa manusia sebagai pemikir atau penulis sama sekali tidak bertindak secara bebas atau berdaulat karena sangat tergantung pada teks dan suatu keseluruhan teks yang saling berkaitan dan mempengaruhi.

Namun, “logosentrisme” dipakai Derrida dalam arti lain yang berbeda., yaitu untuk kenyataan bahwa  manusia tidak mengungkapkan diri  dan malahan tidak dapat berpikir kecuali melalui bahasa, tradisi kebahasaan,  tradisi teks tertentu. Dengan kata lain, manusia tidak dapat berpikir atau menulis apapun tanpamerujuk  pada tradisi pemikiran tertentu yang mengendap dan dilestarikan dalam sekian banyak teks yang saling berkaitan. Untuk memberikan  gambaran tentang keadaan itu Derrida menulis bahwa manusia berada dalam suatu “kungkungan logosentris”.

Manusia bisa melepaskan diri dari kungkungan itu tapi hanya dari dalam tradisi teks atau wacana tertentu. Proses kritik dari dalam itu yang disebut Derrida sebagai “dekonstruksi” atau “pembongkaran” terhadap teks. Pembongkaran itu akan menampakan aneka ragam aturan  yang sebelumnya tersembunyi yang menentukan teks. Satu hal yang dapat ditampakkan melalui proses pembongkaran  yang mendapat perhatian khusus dalam filsafata Derrida, adalah “yang tak terpikirkan” dan “yang tak terpikir”. Yang paling menentukan dalam tradisi pemikiran  dan tradisi teks menurut Derrida , bukanlah yang yang positif, melainkan berbagai aturan yang bersifat negatif : mengenai yang tidak dipikirkan atau tidak dapat atau boleh dipikirkan. Melalui pembongkaran teks atau tradisi teks, manusia bisa menyadari ketentuan negatif itu dan meniadakannya.

8. Mohammed Arkoun (1913- )

Mohammed Arkoun  lahir di Aljazair tanggal 1 Februari 1928 di Taourirt-Mimoun, di Kalibia, suatu daerah pegunungan berpenduduk Berber di sebelah Timur Aljir. Kedaan demografis pada daerah itu menghadapkannya  pada tiga bahasa : yakni bahasa Kalibia, Arab dan Perancis. Sejak muda ia sudah akrab dengan berbagai tradisi dan pemikiran. Ia belajar di sekolah menengah di Oran jauh dari kampung halaman. Memasuki Universitas Aljir dari tahun 1950-1954 dalam bidang bahasa dan sastra Arab. Setelah tahun 1954 ia menetap di Perancis  dan mendaftar sebagai mahasiswa di sana. Pada tahun 1961 ia diangkat menjadi dosen pada Universitas Sarbonne tempat ia mendapat gelar Doktor Sastra tahun 1969. [47]

Arkoun banyak menerbitkan karyanya dalam bahasa Perancis, antara lain yang terpenting adalah : Traite d’ethique (traduction francais avec introduction et notes du Tahdhib al-Akhlak de Miskawaih (1969), (Tulisan tentang etika (terjemahan Perancis  dengan pengantar dan catatan-catatan dari tahzib al akhlak karya Miskawaih) ; Pour une critique de la raison islamique (1984) atau Kritik Nalar Islami.[48]

Epistemologi Hermeneutik Arkoun sangat kental dengan pengaruh Derrida yakni dalam wacana dekonstruksi teks, meskipun Arkoun lebih jelas menegaskan bahwa Dekonstruksi mesti disertai rekonstruksi. Sementara Derrida sudah menekankan dekonstruksi tidak sama dengan destruksi (pemusnahan), karena bagi Derrida tujuannya tidak untuk menghapuskan  atau memusnahkan wacana, melainkan hanya menampakkan  segala aspek dan unsurnya.

Bagi Arkoun dalam wacana Dekonstruksi-Rekonstruksi, pemistikan, pemitologisan, peng-ideologi-an, pemitosan, harus dibuang dan pengidean harus dipulihkan. Di sisi lain Arkoun juga mengkritik islamologi Barat yang hanya mengadakan pemusnahan dan meninggalkan reruntuhan, tidak membangun kembali.

Menurut Arkoun, hermeneutik itu tidak terpisahkan dari tiga unsur, yaitu bahasa, pemikiran, dan sejarah. Ia membedakan antara dua model teks, yaitu pertama, teks pembentuk (an-nash al-mu’assis) di satu pihak, dan kedua, teks yang menjelaskan atau menginterpretasikan teks pembentuk yang disebut juga dengan teks hermeneutis (an-nash al-tafsiri).[49] Arkoun memberikan ilustrasi terhadap dua model teks di atas dengan mengambil peristiwa sejarah, yaitu revolusi Perancis yang terjadi tahun 1789. Akibat peristiwa ini telah merangsang lahirnya komentar dan teori yang begitu luas sejak munculnya hingga sekarang.[50] Karena peristiwa tersebut, muncul banyak sekali literatur, interpretasi, dan penjelasan yang begitu beragam, bahkan saling bertentangan.

Keadaan tersebut (revolusi Perancis) dapat dibandingkan dengan keadaan yang terjadi dengan teks al-Quran. Teks al-Quran telah melahirkan sedemikian banyak literatur, interpretasi, dan penjelasan sejak lahirnya hingga sekarang. Hal yang serupa, antara revolusi Perancis dan kasus al-Quran, adalah teks pertama atau pembentuk, sedangkan literatur-literatur yang muncul kemudian yang memberikan interpretasi terhadap al-Quran adalah teks kedua atau teks hermeneutik.[51]

Dalam bahasa agama, ada tiga wacana kajian hermeneutik, yaitu :

  1. Ungkapan yang digunakan untuk menjelaskan objek pemikiran yang bersifat metafisis, terutama Tuhan.
  2. Bahasa kitab suci, terutama bahasa al-Qur’an.
  3. Bahasa ritual keagamaan.[52]

Selanjutnya, Arkoun mengemukakan tiga kemungkinan untuk “membaca” al-Quran, yaitu :

  1. Secara liturgis untuk mengaktualisasikan saat awal Nabi mengajarkan al-Quran. Dengan cara ini orang melakukan komunikasi rohani secara vertikal dan horizontal dan sekaligus melakukan pembatinan kandungan wahyu.
  2. Secara eksegeris termaktub dalam mushaf yang dilakukan oleh mufassir.
  3. Memanfaatkan temuan-temuan metodologis yang disumbangkan ilmu bahasa dan ilmu kemanusiaan kontemporer.[53]

Untuk memahami epistemologi hermeneutik, ada dua istilah yang erat kaitannya, yaitu “dekonstruksi (pembongkaran) dan “rekonstruksi” (membangun kembali)..[54] Arkoun, mengungkapkan adanya tugas terbesar sekarang adalah untuk membongkar literatur-literatur heresiografis[55], dan keluar dari ideologi-dogmatis dengan selubung legitimasi teologis.[56] Kemudian meninggalkan keterbatasan, pembekuan dan penyelewengan wacana sebelumnya.[57]

Bagi Arkoun apabila historisitas pluralitas dan relativitas pemikiran Islam ini benar-benar disadari, maka seluruh pemikiran Islam, filsafat atau lainnya, dengan berbagai aliran yang ada di dalamnya, tidak lagi harus disakralkan dan dikenalkan sedemikian rupa. Dengan demikian, dimungkinkan dibukanya wacana baru pemikiran Islam yang merupakan upaya hermeneutik terhadap al-Quran sejalan dengan tantanan historis yang sedang dihadapi umat Islam.

9. Hassan Hanafi (1913-  )

Hasan Hanafi adalah seorang filosuf muslim dalam bidang hukum Islam, seorang pemikir Islam dan guru besar pada Fakultas Filsafat Universitas Kairo. Ia memperoleh Doktor di Sarbone University, Paris pada tahun 1966. Ia banyak menyerap pengetahuan  Barat. Ia mengkonsentrasikan diri pada kajian  pemikir Barat pra modern dan modern. Meskipun ia menolak dan mengkritik Barat, tapi ide-ide liberalisme Barat, demokrasi, rasionalisme dan pencerahan telah mempengaruhi pikirannya. Salah satu keprihatinan utama Hassan Hanafi adalah bagaimana melanjutkan proyek yang didesain untuk membuat dunia Islam bergerak menuju pencerahan yang menyeluruh.[58]

Epistemologi Hassan Hanafi adalah Hermeneutika. Hermeneutik menurut Hasan Hanafi, bukan sekedar ilmu interpretasi, tapi ilmu yang menjelaskan penerimaan wahyu sejak tingkat perkataan hingga tingkat dunia, prosesnya dari huruf hingga kenyataan, dari logos hingga praksis dan dari “pikiran Tuhan” ke kehidupan manusia.[59] Metode yang dipergunakan untuk itu adalah:

1. Kritik sejarah yang berfungsi untuk membuktikan keaslian kitab suci, otensitas ditentukan oleh proses pengalihan dalam dimensi horizontal, yaitu wahyu Allah yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. yang didektikan Jibril lalu disampaikan kepada sahabat untuk dihapal dan disalin serta disimpan dalam bentuk tulisan sampai sekarang. Tradisi itu tidak terdapat pada teks kitab suci lain.[60]

2. Kritik eidetis, yaitu pemahaman yang tunduk kepada aturan tata bahasa dan situasi kesejarahan yang menyebabkan timbulnya teks tersebut. Proses pemahaman di sini tidak boleh didahului oleh keyakinan atau ramalan. Kitab suci harus ditafsirkan dalam bahasa aslinya untuk memungkinkan analisis linguistik yang tepat. Dalam prosesnya ada tiga tahapan, yaitu : a. analisis linguistik dengan menggunakan aturan bahasa dan memperhatikan ketiga makna dalam setiap bahasa, yaitu makna etemologis, makna biasa dan makna baru (dasar);  b. analisis historis dengan melihat sejarah yang melatar belakangi teks yang bersifat langsung (saat itu), tidak langsung (situasi sejarah); dan c. generalisasi yang tidak terikat dan tidak pula mengabaikan  situasi saat dan situasi sejarah, hingga pemahaman teks tetap segar dan eksis.

3. Kritik praksis, adalah pembentukan sebuah dogma yang teologi positifnya dapat dikenali dalam kehidupan dunia[61]

Tahapan penafsirannya adalah :

  1. Tahap analisis realitas kontemporer dengan pendekatan interdisipliner.
  2. Tahap analisis bahasa yang memuat analisis bentuk dan isi.
  3. Tahap generalisasi yang melahirkan satu konsep tertentu.[62]

Dalam tahapan ini metode hermeneutik Hanafi dapat disederhanakan dalam konsep segitiga hermeneutik berupa hubungan triatrikal antara konteks, teks dan interpretasi subjek. Hubungan ketiganya berlangsung secara dialektik.

D. Penutup

Pada dasarnya hermeneutik berhubungan dengan bahasa dalam arti yang amat luas. Aktivitas berpikir, membuat interpretasi, berbicara, menafsirkan, menulis, melukis dan lain sebagainya melalui bahasa. Karena berbahasa selalu melibatkan penafsiran kehendak batin, maka tidaklah semua yang kita ucapkan selalu berhasil mempresentasikan seluruh isi hati, pikiran, dan benak kita. Kebenaran sebuah bahasa bukan semata terletak pada susunan gramatikanya saja, makna tidak bersemayam pada kata, tetapi juga pada tata-pikir, intensi dan implikasi dari sebuah ucapan.

Peran hermeneutik sebagai metode berpikir falsafi, radikal, dan ilmiah berupaya mencari kebenaran ilmu dengan cara mencari makna dari susunan kalimat, dari konteks budaya, dari tafsir transendensi, dan pendekatan lainnya sebagai jejaknya. Para tokoh hermeneutik memiliki metode atau cara kerja masing-masing yang mereka anjurkan guna melacak jejak “teks” tersebut untuk menangkap seluruh makna teks bacaan, dari yang nyata dan yang tersembunyi, dari yang terungkap dan tak terungkapkan.

Selanjutnya yang dapat penulis simpulkan, hermeneutik adalah sebuah metode penafsiran yang sangat terbuka, membongkar kemapanan, dan bersifat relatif-absulot. Dalam perspektif hermeneutik tidak ada lagi yang bisa mengklaim kebenaran suatu penafsiran, semua kebenaran harus diukur dalam konteks dialektika zaman, tempat, kondisi historis dan sosiologis serta faktor-faktor subjektif seperti psikologis dan semua variabel lainnya yang unlimited.

Pertanyaan mendasar terhadap epistemologi ini dari berbagai alirannya adalah bagaimana membebaskan hermeneut dari faktor subjektif, sementara ia dia sendiri memiliki dimensi subjektif seperti psikologis, kecenderungan dan kepentingan. Maka tak akan  ada penafsiran atas teks yang jadi, final dan siap pakai. Yang terjadi akan selalu ada penafsiran dari penafsiran dari penafsiran dan seterusnya…..penafsiran tiada henti.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adian, Donny Gahral, Percik Pemikiran Kontemporer (sebuah pengantar komprehensif), Bandung : Jalasutra, 2006

Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qur’an : Kajian Kritis, Jakarta : Gema Insani Press, 2005

Arkoun, Al-Fikr al-Islam Naqd wa Ijtihad, Terjemah Hasyim Salih, London : Dar al Saqi, 1990

———, Membedah Pemikiran Islam, terjemah oleh Hidayatullah, Bandung : Pustaka, 2000

Burhanuddin Salam, Logika Materiil (Filsafat Ilmu Pengetahuan), Jakarta : PT. Renika Cipta, 1997

Chumaidi Syarif Romas, Wacana Teologi Islam Kontemporer, Yogyakarta : Tiara Wacana, 2000

Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer : Sebuah Pengantar Komprehensif, Yogyakarta : Jalasutra, 2006

Ekky al-Malaky, Filsafat  Untuk Semua : Pengantar Mudah Menuju Dunia Filsafat, Jakarta : Penerbit Lentera, 2001

E. Sumaryono, Hermeneutika : Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta : Kanisius, 2002.

Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani : Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi, Yogyakarta : Penerbit Qalam, 2003

F. Budi Hardiman, “Hermeneutik : Apa itu?” dalam Basis, Januari 1991

Hasan Hanafi, Dialog Agama dan Revolusi, terjemah oleh Tim Pustaka Firdaus, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1991

Hasan Susanto, Hermeneutika, Prinsip dan Metode Penafsiran Al-Kitab, Malang : Seminar Al-Kitab Asia Tenggara, 1989

Imam Chanafie al-Jauhari, Hermeneutik Islam, Membangun Peradaban Tuhan di Pentas Global, Yogyakarta : Ittiqa Press, 1999

Jean Grondin, Sejarah Hermeneutika : Dari Plato sampai Gadamer, Yogyakarta, Arruzz Media, 2007

John B. Thompson, Filsafat Bahasa dan Hermeneutik : untuk Penelitian Sosial, Surabaya: Visi Humanika, 1986

Komaruddin Hidayat, Arkoun dan Tradisi Hermeneutik dalam Tradisi Kemodernan dan Meta Modernisme, Penyunting J. Hendrick Maulemen, Yogyakarta : LkiS, 1996

Muhammad Solihin, Perkembangan Pemikiran Filsafat dari Klasik hingga Modern, Bandung : Pustaka Setia, 2007

Mukhtar Sholihin, Epistemologi Ilmu Menurut Al-Ghazali : Studi Analisis Kitab Risalah al-Laduniyah, Bandung : Puslit IAIN Sunan Gunung Jati, 1999

M. Nur Ichwan, Hermeneutika Al-Qur’an : Analisis Perkembangan Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer, Yogyakarta : Fak. Ushuluddin IAIN Suka, 1995

Nashr Hamid Abu Zaid, Hermeneutika Inklusif : Mengatasi Problema Bacaan dan Cara-cara Pentakwilan atas Diskursus Keagamaan, Yogyakarta : ICIP, 2004.

Noeng Muhajir, Filsafat Ilmu : Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, Yogyakarta : Rake Sarasin, 1998

Nurcholish Madjid, Masyarakat Religius, Jakarta : Paramadina, 1997

Reese, William L. Dictionary of Philosophy and Religion : Eastern and Western Thought, New York : Humanities Press, 1996

Richard E. Palmer, Hermeneutika : Teori Baru  mengenai Interpretasi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005

Sayyed Hussein Nashr, Islamic Studies : Essay on Low and Society, Beirut : Libreirie Du Liban, 1967

Shimogaki, Kazuo, Kiri Islam : Antara Modernisme dan Postmodernisme (Telaah Kritis atas Pemikiran Hassan Hanafi), Yogyakarta : Lkis, 1993

 

Thomson, John B.,  Filsafat Bahasa dan Hermeneutik : untuk Penelitian Sosial , diterjemahkan oleh A. Khozin Afandi dari judul asli Critical Hermeneutics.

Tim Penulis Rosda, Kamus Filsafat, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 1995

 


[1] Burhanuddin Salam, Logika Materiil (Filsafat Ilmu Pengetahuan), (Jakarta : PT. Renika Cipta, 1997) h. 97.

[2] Tim Penulis Rosda, Kamus Filsafat, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 1995) h. 96.

[3] Ekky al-Malaky, Filsafat  Untuk Semua : Pengantar Mudah Menuju Dunia Filsafat, (Jakarta : Penerbit Lentera, 2001) h. 27

[4] Mukhtar Sholihin, Epistemologi Ilmu Menurut Al-Ghazali : Studi Analisis Kitab Risalah al-Laduniyah, (Bandung : Puslit IAIN Sunan Gunung Jati, 1999), h. 26

[5] F. Budi Hardiman, “Hermeneutik : Apa itu?” dalam Basis, Januari 1991, h. 2. Juga E. Sumaryono, Hermeneutika : Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius, 2002), h. 23.

[6] Hasan Susanto, Hermeneutika, Prinsip dan Metode Penafsiran Al-Kitab, (Malang : Seminar Al-Kitab Asia Tenggara, 1989), h. 1

[7] Dalam Agama Islam, nama Hermes sering diidentikkan dengan Nabi Idris yang pertama kali mengenal tulisan, teknik dan kedokteran. Di kalangan Mesir Kuno, Hermes dikenal sebagai Thot, sementara di kalangan Yahudi dikenal sebagai Unukh dan di alangan masyarakat Persi Kuno sebagai Hushang. Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani : Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi, (Yogyakarta : Penerbit Qalam, 2003, h. 20 dan Sayyed Hussein Nashr, Islamic Studies : Essay on Low and Society, (Beirut : Libreirie Du Liban, 1967), h. 64.

[8] Ibid, h. 24

[9] Noeng Muhajir, Filsafat Ilmu : Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, (Yogyakarta : Rake Sarasin, 1998), h. 85

[10] Ibid.

[11] Lihat : William L. Reese, Dictionary of Philosophy and Religion : Eastern and Western Thought, (New York : Humanities Press, 1996) p. 685.

[12] Ibid.

[13] Ibid. h. 686

[14] E. Sumaryono, op. cit., h. 45-60.

[15] Ibid.

[16] Lihat : Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer (sebuah pengantar komprehensif), (Bandung : Jalasutra, 2006) h. 2009

[17] Ibid. h. 133

[18] Imam Chanafie al-Jauhari, Hermeneutik Islam, Membangun Peradaban Tuhan di Pentas Global, (Yogyakarta : Ittiqa Press, 1999). H. 36

[19] Lihat : William L. Reese, Dictionary of Philosophy and Religion : Eastern and Western Thought, (New York : Humanities Press, 1996) p. 176.

[20] E. Sumaryono, op. cit., h. 45-60.

[21] Mazhab romantis adalah sebutan lain dari aliran hermeneutik Schleiermacher. Disebut romantik atau historis karena cara kerja hermeneutiknya mengajarkan untuk kembali ke masa lalu di mana teks itu dibuat oleh penulisnya agar dapat memahami makna sebenarnya yang masih tersembunyi dalam teks.

[22] Dikutip dari John B. Thomson, Filsafat Bahasa dan Hermeneutik : untuk Penelitian Sosial h. 69., sumber diterjemahkan oleh A. Khozin Afandi dari judul asli Critical Hermeneutics. John B. Thomson mengutip keterangan di atas dari Karya Wilhelm Dilthey : “Selected Writing”.

[23] Ibid. h. 55.

[24] Imam Chanafi al-Jauhari, op. cit., h. 34.

[25] Penjelasan lebih luas dapat dilihat pada Donny Gahral Adian, h. 214-219

[26] Ibid, h. 217.

[27] Ibid, h. 218.

[28] Bandingkan dengan aliran lain, Hermeneutika Scheileirmacher misalnya dibangun dengan kerangka epistemologi  yang mengandaikan struktur subjek-objek, bagaimana subjek memperoleh pengetahuan yang jernih tentang maksud pengarang teks dengan melalui pendekatan gramatikal dan psikologis.

[29] The Cambridge Encyclopedia (Cambridge : Cup Press, 1990, h. 477

[30] Lihat Wasito Poespoprojo, Hermeneutika Filsafati : Relevansi dri Beberapa Perspektifnya Bagi Kebudayaan Indonesia (Bandung : Unpad, 1985), h. 92-94.

[31] Ibid. h. 67-85.

[32] Hans Georg Gadamer, Truth and Method. (New York : Seaburry Press, 1975). P. 264

[33] Ibid

[34] E. Sumaryono, op. cit., h. 35.

[35] Hans Georg Gadamer, Philosophical Hermaneutics , tran and edit by David E. Linge (Barkeley : The University of California, 1986) p. 31

[36] Joel C. Weinscheimer. Gadamer Hermeneutics : A Reading of Truth and Method. (London : Yale University, 1985) p. 6-7.

[37] William L. Reese, ibid. h. 278

[38] Ibid., h. 87-102.

[39] Imam Chanafie al-Jauhari, op. cit., h. 107.

[40] John B. Thomson, ibid. h. 160

[41] Lihat William L. Reese, ibid. h. 654

[42] E. Sumaryono, op. cit., h. 35.

[43] Penjelasaan tentang konsep distansi Ricoeur ini dapat dibaca dalam John B. Thomson, ibid. h. 99-102.

[44] Imam Chanafie al-Jauhari, op. cit., h. 38-39.

 

[45] E. Sumaryono, op. cit., h. 116.

[46] Ibid., h. 117.

[47] Lihat pada Kata Pengantar : Mohammed Arkoun, Kritik Nalar Islami…………..,(Jakarta : Inis, 1984)

[48] Ibid.

[49] Arkoun, Al-Fikr al-Islam Naqd wa Ijtihad, Terjemah Hasyim Salih (London : Dar al Saqi, 1990), h. 234.

[50] Ibid. h. 234. Juga Mukhtar Sholihin, op. cit., h. 79.

[51] Ibid., h. 80.

[52] Komaruddin Hidayat, op. cit., h. 5.

[53] Mukhtar Solihin, op. cit., h. 110.

[54] Nurcholish Madjid, Masyarakat Religius, (Jakarta : Paramadina, 1997), h. 58-61.

[55] Literatur heresiografis, yaitu catatan tentang bid’ah-bid’ah atau penyimpangan terhadap keagamaan yang dilakukan oleh berbagais sekte, yang banyak sekali jumlahnya.

[56] Arkoun, Membedah Pemikiran Islam, terjemah oleh Hidayatullah, (Bandung : Pustaka, 2000), h. 246. Juga Mukhtar Solihin, op. cit., h. 109.

[57] Ibid.

[58] Lihat : Kazuo Shimogaki dalam Kiri Islam : Antara Modernisme dan Postmodernisme (Telaah Kritis atas Pemikiran Hassan Hanafi), (Yogyakarta : Lkis, 1993), h. 3.

[59] Hasan Hanafi, Dialog Agama dan Revolusi, terjemah oleh Tim Pustaka Firdaus, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1991), h.1.

[60] Ibid. h. 5-15

[61] Ibid., h. 22

[62] M. Nur Ichwan, Hermeneutika Al-Qur’an : Analisis Perkembangan Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer, (Yogyakarta : Fak. Ushuluddin IAIN Suka, 1995), h. 69-70.

 


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: