Oleh: ALIBORON | 26 Oktober 2010

Pemikiran Kalam Ahlussunnah

I.    Pendahuluan

Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah adalah salah satu faham dan atau aliran yang membahas ajaran-ajaran dasar dalam teologi Islam[1]. Dalam istilah Arab, ajaran-ajaran dasar itu dinamai ushuluddin atau aqaid. Dari sekian banyak aliran teologi Islam yang dimasukkan sebagai aliran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Maturidiyah sendiri dalam perkembangan selanjutnya terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan Maturidiyah Samarkhan dan Maturidiyah Bukhara.[2] Namun dalam makalah ini membatasi pada Aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah Samarkhand sebagai dua aliran utamanya.

Tulisan ini selanjutnya akan mengetengahkan pokok-pokok pikiran kedua aliran tersebut.

II.  Asy’ariyah

A. Sekilas tentang Tokoh Pendiri Aliran Asy’ariyah

Asy’ariyah dinisbahkan kepada pendirinya Abul Hasan ‘Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin ‘Abdillah  bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa al-Asy’ari. Al-Asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260 H/875 M. Semula dia adalah seorang  murid dari al-Jubba’i (seorang tokoh Mu’tazilah) di Bashrah. Al-Asy’ari menjadi penganut ajaran Mu’tazilah sampai tahun 300 H atau 912 M. Ia meninggal tahun 324 H/975 M di Bagdad. Setelah mendalami ajaran Mu’tazilah hingga umur 40 tahun, terjadilah perbedaan antara dia dengan gurunya al-Juba’I mengenai berbagai masalah kalam, yang akhirnya tidak puas atas jawaban-jawaban  gurunya, sehingga ia meninggalkan aliran mu’tazilah.

Asy’ariyah meninggalkan aliran Mu’tazilah dengan alasan yang masih merupakan sesuatu yang kabur, belum terungkap apa di balik rahasia itu. Karena itu, tidaklah terlalu mudah dibenarkan dan diyakini bahwa ia meninggalkan  aliran yang dianut gurunya, karena tidak puas atas jawaban gurunya Al-Juba’i.[3]

Kaum Mu’tazilah, terutama tokoh-tokohnya dikenal sangat terampil dalam menggunakan akal pikiran bahkan sangat mengagungkan akal dalam melihat suatu persoalan, faktor ini salah satunya dapat diduga menjadi salah satu alasan mengapa Asy’ari meninggalkan aliran tersebut.

Pembentukan aliran baru dari Asy’ari ini juga disebabkan faktor sosial. Ia melihat bahwa aliran Mu’tazilah sudah berada dalam keadaan lemah. Masyarakat sudah tidak bisa menerima kebaikannya lagi karena menimbulkan fitnah, penyiksaan, pengaliran darah  ulama penentangnya dengan mihnah[4]. Diduga al-Asy’ari melihat  adanya bahaya bagi umat Islam kalau paham Mu’tazilah yang sulit  untuk dicerna dan diterima umat, tidak diganti dengan  kalam atau teologi yang teratur untuk menjadi pegangan mereka.

B. Paham dan Ajaran Aliran Asy’ariyah

Untuk mengetahui paham dan ajaran Asy’ariyah, ada baiknya dikemukakan lebih dahulu paham dan ajaran yang dikemukakan  oleh pendirinya mengenai berbagai aspek teologis. Doktrin-doktrin al-Asy’ari yang terpenting adalah :

Pertama, Tuhan sifat-sifat-Nya. Perbedaan pendapat di kalangan mutakalimin mengenai sifat-sifat Allah tak dapat dihindarkan walaupun mereka setuju bahwa mengesakan Allah adalah wajib. Al-Asy’ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Di satu pihak, ia berhadapan dengan kelompok sifatiah (pemberi sifat), kelompok Mujassimah (antropomorsis), dan kelompok musyabbihah yang berpendapat bahwa Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam AlQur’an dan Sunnah dan sifat-sifat itu harus dipahami menurut arti harfiahnya. Di lain pihak, ia berhadapan dengan kelompok Mu’tazilah yang berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain selain essensi-Nya. Tangan, kaki, telinga Allah, ‘arsy atau kursi tidak boleh diartikan secara harfiah, melainkan harus dijelaskan secara alegoris.

Menghadapi dua kelompok yang berbeda tersebut, Al-Asy’ari berpendapat , melainkan secara simbolis (kontra dengan kelompok sifatiah). Selanjutnya ia berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip. Sifat-sifat Allah berbeda dengan Allah sendiri, tetapi-sejauh menyangkut realitasnya (hakikah)- tidak terpisah dari esensi-Nya. Dengan demikian tidak berbeda dengan-Nya.

Kedua, Kekuasaan Tuhan atas perbuatan manusia. Al-Asy’ari memiliki paham dan keyakinan yang ditafsirkan banyak kalangan condong ke paham Jabariyah mengenai kehendak mutlak Tuhan dan keadilan Tuhan. Dia berpandangan bahwa kehendak Tuhan tidak tunduk kepada siapapun. Apa saja yang dikehendaki Tuhan, itulah yang ada, dan apa yang ada, itulah yang dikehendakinya.[5]

Di atas Tuhan tidak ada sesuatu apapun yang dapat membuat hukum dan menentukan apa yang boleh dan tidak boleh diperbuat Tuhan, karena Dia adalah Raja yang Maha Memaksa, bagiNya tidak ada batasan apapun yang bisa membatasiNya.[6] Asy’ariyah mendasarkan pandangannya atas beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya adalah :

والله خلقكم وماتعملون (الصافات : 26)

Ayat ini mengandung arti : “Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu”. Maka perbuatan manusia diciptakan Allah. Begitu pula dengan ayat yang lain:

وما تشا ؤون الاأن يشاءالله (الانسان : 30)

Ayat di atas berimplikasi bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan, dan bahwa kehendak yang ada dalam diri manusia, sebenarnya tidak lain adalah kehendak Tuhan.[7]

Sementara Mu’tazilah sebagai antitesa faham Asy’ariyah menjadikan prinsip keadilan Tuhan sebagai landasan dan kerangka dalam memandang hakikat perbuatan manusia, maka sebaliknya Asy’ariyah bertitik tolak dari konsep kemutlakan kehendak dan kekuasaan Tuhan untuk menyusun  teorinya mengenai perbuatan manusia. Oleh karenanya, akan ditemukan bahwa aliran Asy’ariyah lebih dekat kepada paham Jabariyah dari pada Qadariyah.[8], sebab sebagai konsekuensi logis  dari doktrin Tuhan Maha Kuasa dan Maha Berkehendak adalah pengakuan atas kelemahan manusia secara hakiki. Dan manusia dalam kelemahannya banyak bergantung kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan.

Selanjutnya untuk mengambarkan hubungan antara perbuatan manusia dengan kehendak dan kekuasaan Tuhan, al-Asy’ari mengemukakan teori “kasb” yang oleh kebanyakan ahli ilmu kalam dirasakan sulit untuk dipahami. Asy’ari menjelaskan arti kasb sebagai sesuatu yang terjadi dari muktasib(yang memperoleh) dengan perantaraan daya yang diciptakan (qudrah haditsah). Makna kasb di sini bererti perolehan. Dalam Maqalat al-Islamiyyyin disebutkan kata iktishab memberi makna bahwa sesuatu terjadi dengan perantaraan daya yang diccipatkan dan dengan demikian menjadi kasb (perolehan) bagi orang yang dari dayanya perbuatan itu timbul.[9]

Pada prinsipnya Asy’ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh Allah. Daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya, tetapi yang berlaku adalah bahwa Allah menciptakan perbuatan untuk menusia  dan menciptakan pula pada diri manusia daya untuk melahirkan perbuatan-perbuatan tersebut. Jadi perbuatan-perbuatan di sini adalah ciptaan Allah dan merupakan kasb (perolehan) bagi manusia. Dengan begitu kasb mempunyai pengertian  penyertaan perbuatan  dengan daya manusia yang hadits. Dan ini berimplikasi bahwa perbuata manusia  dibarengi dengan daya dan kehendakNya dan bukan atas daya dan kehendak manusia itu sendiri.[10]

Dari sini dapat disimpulkan bahwa fa’il (pelaku) sebenarnya suatu perbuatan manusia adalah Allah dan manusia merupakan wadah bagi  fi’il (perbuatan) yang disebut kasb. Namun demikian karena dia juga berdaya  dan mempunyai kehendak yang ditujukan untuk mewujudkan kasb ini, maka bisa saja menisbastkan perbuatan kepada manusia. Hanya saja, yang perlu dicermati adalah adanya pandangan bahwa daya dan kehendak itu tidak berpotensi untuk menjadi pencipta atau pelaku. Ia hanya merupakan penyerta bagi perbuatan Tuhan dan wujudnya menjadi kasb. Oleh karena itu tidak bisa tidak, perbuatan manusia harus diletakkan dalam kerangka kemutlakan kekuasaan dan kehendak Tuhan.

Tampaknya, Aliran Asy’ariyah muncul dengan teori kasbnya untuk menengahi pertentangan antara Qadariyah dan Jabariyah[11] dengan menyatakan bahwa manusia wajib berusaha, namun disandarkan bahwa usaha manusia itu tidak dapat berpengaruh terhadap jalan kehidupannya yang telah ditentukan Tuhan. Namun demikian, ini tidak selalu harus diinterpretasikan sebagai suatu tanda fatalistis. Mungkin saja yang dimaksudkan oleh pernyataan tersebut ialah apapun yang dilakukan manusisa tidak akan melampaui ketentuan sunnatullah, yaitu hukum alam ciptaan Tuhan dan hal ini hanya tepat untuk analisis tingkat Tuhan, tetapi tidak tepat untuk analisis tingkat manusia. Bila dibawa ke pikiran manusia, maka faham yang demikian itu  mungkin akan berakhir dengan anggapan  bahwa konsep Asy’ariyah tidak percaya  pada hukum alam dan kausalitas. Apalagi di kalangan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, dikenalkan adanya rukun iman yang ke-6, yaitu percaya kepada qadla dan qadar Tuhan, hal ini menambah anggapan bahwa paham Asy’ariyah adalah falatistik dan Jabariyah.

Ketiga, akal dan wahyu serta kreteria baik dan buruk. Walaupun Al-Asy’ari dan orang-orang Mu’tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu, keduanya berbeda dalam menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Al-Asy’ari mengutamakan wahyu, sementara Mu’tazilah mengutamakan menggunakan rasio.

Dalam menentukan baik dan buruk pun terjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Al-Asy’ari berpendapat bahwa baik dan buruk harus berdasarkan wahyu, sedangkan Mu’tazilah berdasarkan pada rasio.

Keempat, qadimnya al-Qur’an. Al-Asy’ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim dalam persoalan qadimnya al-Qur’an, yaitu pandangan Mu’tazilah bahwa Al-Qur’an diciptakan (makhluk) sehingga tidak qadim dan pandangan mazhab Hambali  dan Zahiriah yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah Kalam Allah (yang qadim dan tidak diciptakan). Bahkan Zahiriah berpendapat bahwa semua huruf, kata, dan bunyi al-Qur’an adalah  qadim. Untuk mendamaikan kedua pandangan yang saling bertentangan itu, dalam teori Al-Asy’ari al-Qur’an bukan makhluk sebagaimana dalam konsep teologi Mu’tazilah, melainkan kalam Allah yang qadim. al-Qur’an yang qadim itu  tidak mempunyai huruf dan suara.

Kelima, melihat Allah. Al-Asy’ari tidak sependapat dengan kelompok ortodok ekstrim, terutama Zahiriah yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dan Allah bersemayam di Arsy. Selain itu, Al-Asy’ari  juga tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengingkari rukyatullah (melihat Allah) di akhirat. Al-Asy’ari yakin dapat bahwa Alah dapat di lihat di akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan. Kemungkinan ru’yat dapat terjadi manakala Allah sendiri yang menyebabkan Dia dapat di lihat atau bilamana Ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.

Keenam, keadilan. Pada dasarnya Al-Asy’ari dan Mu’tazilah setuju bahwa Allah itu Adil. Namun mereka berbeda dalam cara pandang makna keadilan Tuhan. Al-Asyari tidak sependapat dengan ajaran Mu’tazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga  Ia harus menyiksa orang yang salah dan berpendapat bahwa Allah tidak memiliki keharusan apapun karena Ia adalah Penguasa Mutlak. Jika Mu’tazilah  mengartikan  keadilan dari visi manusia yang memiliki dirinya, sedangkan Al-Asy’ari dari visi bahwa Allah adalah pemilik mutlak.

Ketujuh, kedudukan orang berdosa. Al-Asy’ari menolak ajaran posisi menengah yang dianut Mu’tazilah. Mengingat kenyataan iman merupakan lawan kufr, predikat seseorang haruslah satu di antaranya. Jika tidak mukmin dia kafir. Oleh karena itu, Al-Asy’ari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufr.

C. Perkembangan Aliran Asy’ariyah dan Tokoh-Tokohnya

Al-Asy’ari berupaya mengambil jalan tengah antara dua kubu yang dipandangnya menjunjung akal secara berlebihan (rasionalis) dan aliran tekstualis. Kita melihat Al-Asy’ari mendasarkan ajaran-ajarannya pada dalil naqli dan  dan dalil aqli. Ia menetapkan apa yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits, menyangkut persoalan aqidah, seperti sifat-sifat  Allah, hari akhirat, malaikat, hisab, siksa, pahala, kemudian mendapatkan dalil akal  dan penjelasan logis, dan berdalil dengannya untuk kebenaran yang datang dari al-Qur’an dan Hadis itu. Ia tidak menggunakan akal sebagai hakim atas nash-nash dengan cara mentakwilkan ayat, namun menggunakan  akal untuk membantu makna apa yan dikehendaki oleh zhahir nash-nash tersebut.

Setelah Imam Al-Asy’ari meninggal, ajarannya mengalami perkembangan dan kemajuan. Tidak seperti pada masa awal pertumbuhannya, pada perkembangan selanjutnya tampak lebih mendahulukan penafsiran akal daripada nash. Ada dua tokoh Asy’ariyah setelah al-Asy’ari sendiri yang berusaha untuk merasionalkan pandangan-pandangan al-Asy’ariyah sehubungan dengan perbuatan manusia. Yang pertama adalah Ibnu Qasim al-Baqillani, yang dilahirkan di Bashrah dan meninggal di Bagdad sekitar tahun 403 H /1013 M dan yang kedua adalah Abdul Malik al-Juwaini al-Naisaburi (419 H/1028 M-478H/1085 M).

Al-Baqillani dianggap melangkah lebih jauh dari Asy’ari.[12] Kalau Asy’ari menganggap perbuatan manusia itu diciptakan Tuhan seluruhnya, sehinga daya yang diciptakan Tuhan pada manusia sama sekali tidak dipahami sebagai daya yang efektif, maka al-Baqilani berpendapat, manusia mempunyai peranan yang efektif dalam mewujudkan perbuatannya. Ia menggunakan istilah genus atau al-Jinsu untuk semua gerak perbuatan yang diciptakan Tuhan dan memaki istilah espece atau al-Nau’u untuk gerakan yang mengambil bentuk, seperti berdiri, duduk, berjalan, berbaring dan sebagainyayang merupakan ciptaan manusia sendiri. Dengan kata lain, gerak mutlak diciptakan Tuhan, sedangkan gerak dalam contoh berdiri, duduk dan semacamnya merupakan perbuatan yang efektif dan diciptakan oleh manusia dan inilah yang dimaksudnya sebagai kasb. Al-Baqillani juga membedakan  antara khlq dan kasb. Khlaq merupakan penciptaan perbuatan dari tiada menjadi ada, sedangkan kasb adalah penciptaan perbuatan dari iradat yang sudah diciptakan Allah. Khalq adalah perbuatan Allah, sementara kasb adalah perbuatan manusia. Dengan demikian, kasb dalam pemahaman al-Baqillani berperan dan memberi bekas secara efektif bagi perbuatan-perbuatan manusia, sekalipun berasal dari daya yang diciptakan Tuhan.[13]

Abdul Malik al-Juwaini al-Naisaburi, yang lahir pada tahun 419 H/1028M dan wafat pada tahun 478H/1085 M), bahkan maju selangkah lagi ke depan mendekati Mu’tazilah dalam kaitannya denga perbuatan manusai. Dalam bukunya al-Irsyad dan Luma’ul-Adillah, di samping ia menekankan ta’wil (interpretasi) terhadap ayat-ayat Tuhan yang bersifat tajjassun atau antromorphist. Al-Juwaini tampaknya sependapat dengan Mu’tazilah untuk mentakwilkan ayat-ayat demikian itu. Selain itu ia menulis bahwa manusia tidak terpaksa dalam mewujudkan perbuatannya dan bahwa manusia berkuasa atas perbuatannya. Ini berarti bahwa manusia punya daya sendiri dalam perbuatannya.[14]

Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Harun Nasution[15] memposisikan al-Juwaini sebagai tokoh Asy’ariyah yang kembali dengan melalui jalan berkelok kepada ajaran Mu’tazilah. Bahkah Montgomery Watt[16] menyatakan abahwa al-Juwaini telah bergeser  ke arah posisi Mu’tazilah.

Al-Ghazaliy, sebagai tokoh ketiga dari al-Asy’ariyah, dianggap sebagai revitalisator dari konsep Asy’ari. Nyaris tidak ada yang baru dari al-Asy’ari sebagaimana pendahulunya (al-Baqillani dan Juwaini). Dari Al-Ghazali lah, ajaran Asy’ari berkembang pesat merasuk ke lapisan-lapisan masyarakat dunia Islam, sebagai  seorang teolog yang mahir memainkan pedang filsafat dan akhirnya dikenal sebagai pendekar rohani dan seorang sufi yang alim.

Menurut al-Ghazali, Tuhan tidak memiliki kewajiban-kewajiban. Ia tidak wajib menciptakan makhluk dan karenanya tidak wajib pula membuat syari’at dan memberikan taklif. Oleh karena itu, tidaklah ia wajib memberikan pahala kepada hamba-hamba-Nya yang taat sebagaimana Ia tidak wajib berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya. Seterusnya menurut al-Ghazaliy, Tuhan boleh saja membebankan sesuatu yang tidak bisa terpikul oleh  manusia (ta’lif ma la yuthaq), karena taklif sendiri merupakan hak prerogatif Allah. [17]

Dari dua tokoh Asy’ariyah, Al-Asy’ari pendiri dan Al-Ghazaliy penyebar yang efektif, memandang bahwa Tuhan memiliki kehendak dan kekuasaan mutlak. Tuhan dimetaforakan sebagai raja absulot yang tidak terkait kepda dan apapun, tidak terikat kepada janji-janjiNya, kepada hukum-hukum dan norma-norma keadilan (menurut ukuran manusia), dan seterusnya.

Pemikiran-pemikiran Asy’ariyah dipelajari pertama melalui karya-karaya Imam al-Ghazaliy (450-505 H/1058-1111M), seorang tokoh Asy’ariyah, murid al-Juwaini, yang kembali mengulang pokok-pokok pendapat Al-Asy’ari. Pemikiran Asy’ariyah yang serupa dengan pemikiran Al-Ghazaliy juga dipopulerkan oleh al-Sanusi. Pemikiran-pemikiran teologis al-Ghazaliy yang tercantum dalam Ihya’u Ulumiddin yang sejalan dengan pemikiran Al-Asyari di antaranya adalah tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, tentang dapatnya Tuhan dilihat oleh Manusia di akhirat, dan tentang mungkinnya Tuhan membebani  Manusia manusia dengan kewajiban-kewajiban yang tidak mampu dipikulnya.[18] Dari kitab-kitab ini, lahir buku-buku kecil baik berupa matan ataupun syarah yang sejalan dengan padangan kedua tokoh yang disebutkan di atas.

D. Faktor Pendukung Keberhasilan Aliran Asy’ariyah

Jika dianalisa dengan seksama, maka akan terlihat bahwa penyebaran aliran Asy’ariyah yang dapat meluas dan menggantikan kedudukan aliran Mu’tazilah adalah karena beberapa faktor :

Pertama, Al-Asy’ari sebagai pendiri aliran ini adalah sosok yang terkenal taqwa, cerdas dan terampil dalam olah logika. Karena kefasihan lidahnya dan kemampuannya dalam berdiskusi maka kadang-kadang gurunya, al-Juba’i mewakilkan padanya pada berbagai diskusi yang dipimpinnya.

Kedua, Al-Asy’ari mempunyai banyak pengikut dari ulama-ulama keempat mazhab besar, yang menyebabkan mudah tersebar dan tersiarnya aliran pemikiran dia.

Ketiga, Al-Asy’ari dan pengikut-pengikutnya mampu meneruskan ajaran dan meletakannya ke dalam buku-buku yang tidak sedikit jumlahnya, sehingga ajarannya dapat bertahan dan terus dipelajari. Diantara buku-buku itu : Maqalatul al-Islamiyyah; Al-Ibanah fi Ushuli al-Diniyah; Al-Luma (ketiganya di tulis Al-Asy’ari), Al-Tauhid oleh Al-Baqillani; Al-Irsyad oleh Al-Juwaini; Qawaidu al-Aqaid; Al-Iqtishad; Iljamu al Awam (ketiganya ditulis oleh  Al-Ghazali); Umdatu al Taufik oleh al-Sanusi.

Keempat, seperti disebutkan sebelumnya bahwa dalam aliran Asy’ari manusia digambarkan lemah, yang tidak berdaya apa-apa berhadapan dengan kekuasaan yang absulot, apalagi kekuasaan mutlak Tuhan. Dengan pendekatan sejarah  dianalisa teologi ini timbul merupakan refleksi keadaan masyarakat Islam pada abad 9 M. Karena teologi ini didirikan atas kerangka landasan yang menganggap bahwa akal manusia lemah, maka di sinilah letak kekuatan teologi Asy’ariyah itu, yaitu ia dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang bersifat sederhana dalam pemikiran.

Kelima, kunci keberhasilan teologi Al-Asy’ari karena sejak berdirinya ia telah berpihak kepada awamnya-umat Islam yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia sunni. Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan ajaran-ajaran Mu’tazilah. Sejarah menunjukkan bahwa aliran Asy’ari berhasil menarik rakyat banyak berkat campur tangan khalifah al-Mutawakkil, ketika yang terakhir ini membatalkan aliran Mu’tazilah sebagai paham resmi pada waktu itu.

Keenam, sifat akomodatifnya pada Dinasti yang berkuasa sebagai konsekuensi logis dari paham manusia lemah dihadapan penguasa merupakan salah satu faktor penting tersebarnya aliran ini secara meluas. Dengan demikian aliran ini sering mendapat dukungan, bahkan menjadi aliran  dari Dinasti yang berkuasa. Sungguhpun demikian tentu ada pengaruh negatif dari paham ini, karena dinilai menghilangkan kesadaran pemikiran rasional di dunia Islam.

Ketujuh, teologi Asy’ariyah mempunyai basis yang kuat pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara hidup pemikiran, serta jauh dari pengetahuan. Tetapi teologi ini akan menjadi lemah di saat berhadapan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemua teknlogi baru.[19]

II.  MATURIDIYAH

A. Sekilas tentang Tokoh Pendiri Aliran Maturidiyah

Tokoh pendiri aliran Maturidiyah adalah Abu Mansur A-Maturidi. Ia dilahirkan di daerah Samarkand, wilayah Termsoxiana di Asia Tengah, daerah yan sekaran disebut Uzbekistan. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, namun hanya diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-3 Hijriah. Ia wafat pada tahun 333 H/944 M. Guruna dalam bidang fiqh  dan teologi bernama Nasyr bin Yahya Al-Balakhi yang wafat pada tahun 268 H. Imam Al-Maturidi hidup pada masa khalifah  Al-Mutawakkil yang memerintah dari tahun 232-274 H / 847-861 M.

Karir pendidikan Al-Maturidi lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi daripada fiqh, sebagai usaha memperkuat pengetahuannya untuk menghadapi paham-paham teologi yang banyak berkembang dalam masyarakat Islam, yang dipandangnya tidak sesuai  dengan kaidah yang benar menurut akal dan syara. Pemikiran-pemikirannya sudah banyak dituangkan dalam bentuk karya tulis, diantaranya adalah : Kitab al- Tauhid; Maqalat fi al Kalam; Raddu Awail al-Adillah li al-Ka’bi; Raddu Wa’id al Fussaqli al Ka’bi; Raddu Tahzib al-Jadl li al-Ka’bi; Bayanu Wahm al-Mu’tazilah; Raddu al-Ushul al-Khamsah li Abi Muhammad al-Babili; Al-Raddu ‘ala  al-Ushul al-Qaramithah; Raddu al-Imamah li Ba’di al-Rawafid; Al-usul fi Qa’imat Kutub al-Maturidi.[20]

Buku-buku di atas mengindikasikan kedalaman ilmunya di bidang kalam. Selain itu ia juga banyak menulis buku tentang tafsir, fiqh dan ushul fiqih dan lain-lain.

B. Paham dan Ajaran Aliran Maturidiyah

Doktrin-doktrin teologi Al-Maturidi dapat diringkas sebagai berikut :

Pertama, akal dan wahyu. Dalam pemikiran teologinya Al-Maturidi mendasarkan pada al-Qur’an dan akal. Dalam hal ini ia sama dengan Al-Asy’ari. Namun porsi yang ia berikan kepada akal lebih besar daripada yang diberikan oleh Al-Asy’ari.

Menurut Al-Maturidi, mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal. Karena itu di dalam Al-Qur’an manusia diperintahkan  supaya menggunakan akalnya semaksimal mungkin. Namun akal menurut Al-Maturidi tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban lainnya, kecuali dengan bimbingan wahyu.

Dalam masalah baik dan buruk, Al-Maturidi berpendapat bahwa sesuatu yang baik dan buruk itu adalah dapat ditentukan dengan akal, namun kewajiban berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk hanya dapat diketahui dengan wahyu.

Kedua, Perbuatan Manusia. Bagi Al Maturidi, manusia dapat berbuat sekehendak hatinya , manusia puna kebebasan untuk bertindak. Wahyu menjelaskan kepada manusia tentang perbuatan-perbuatan yang diperintahkandan perbuatan-perbuatan yang dilarang. Ada perbuatan yang diancam dan ada pula yang diberi upah. Tuhan  yang memerintahkan dan melarang suatu perbuatan, manusialah yang berbuat dan melakukan perbuatan.

Manusia dapat berbuat dengan daya yang diberikan oleh Allah kepadanya. Tidak mungkin ia dapat berbuat kalau ia tidak diberikan  daya untuk itu. Sama halnya seseorang tidak dapat mengetahui sesuatu yang ia sendiri tidak punya pengetahuan untuk itu.

Dengan demikian Al-Maturidi membagi perbuatan antara perbuatan manusia disebut al-Khalq, sedangkan yang disandarkan kepada manusia disebut kasb. Tuhan menciptakan daya dalam diri manusia, manusia berbuat dengan daya yang diciptakan Tuhan itu. Karena manusia diberikan kebebasan untuk mengunakan daya itu, maka ia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap penggunaan daya tersebut.

Untuk mempertegas pandangannya, al-Maturidiy membawa teori masyiah dan ridha  ke dalam masalah ini. Manusia melakukan segala perbuatan baik dan buruk atas kehendak (masyi’ah) Tuhan. Tetapi, tidak semuanya dengan kerelaan Tuhan, karena Tuhan tidak suka manusia berbuat jahat. Dengan begitu, manusia bebrbuat baik atas kehendak Tuhan dan dengan kerelaanNya. Sebaiknya, manusia berbuat buruk juga atas kehendak Tuhan tetapi tidak atas kerelaan-Nya

Ketiga, Sifat-sifat Tuhan. Berkaitan dengan masalah sifat Tuhan, dapat ditemukan persamaan antara pemikiran Al-Maturidi dengan Al-Asy’ari. Seperti halnya Al-Asy’ari, ia berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat seperti Sama’, Bashar dan sebagainya. Walaupun begitu pengertian Al-Maturidi tentang sifat Tuhan berbeda dengan Al-Asy’ari yang mengartikan sifat Tuhan sebagai sebagai sesuatu yang bukan zat, melainkan melekat pada zat itu sendiri. Adapun menurut al-Maturidi, sifat tidak dikatakan sebagai esensi-Nya dan bukan pula selain esensi-Nya. Sifat-sifat Tuhan itu inheren dengan zat tanpa terpisah. Menetapkan sifat bagi Allah tidak harus membawa pengertian antromorfisme karena sifat tidak berwujud yang tersendiri zat, sehingga berbilang sifat tidak akan membawa pada berbilangnya yang qadim (ta’addud al-qudama).

Tampaknya paham al-Maturidi tentang makna sifat Tuhan cenderung mendekati paham Mu’tazilah. Perbedaan keduanya terletak pada pengakuan Al-Maturidi tentang adanya sifat-sifat Tuhan, sedangkan Mu’tazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan.

Keempat, Melihat Tuhan. Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan. Tentang melihat Tuhan ini diberitakan oleh Al-Qur’an dalam surah Al-Qiyamah ayat 22 dan 23.

Al-Maturidi lebih lanjut mengatakan  bahwa Tuhan kelak di akhirat dapat ditangkap dengan penglihatan karena Tuhan mempunyai wujud walaupun ia immaterial. Namun, melihat Tuhan di akhirat kelak tidak memperkenalkan bentuknya (bila kaifa) karena keadaan di akhirat kelak tidak sama dengan keadaan di dunia.

Kelima Kalam Tuhan. Al-Maturidi membedakan antara kalam (sabda) yang tersusun dengan huruf dan bersuara dengan kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau makna abstrak). Kalam nafsi adalah  sifat qadim bagi Allah, sedangkan kalam yang tersusun  dari huruf-huruf  dan suara adalah baharu (hadis). Kalam nafsi tidak dapat kita ketahui hakikatnya dan bagaimana Allah bersifat dengannya (bila kaifa), dan manusia tidak dapat mendengar atau membacanya, kecuali degan suatu perantara.

Menurut Al-Maturidi, Mu’tazilah memandang Al-Qur’an sebagai tersusun dari huruf-huruf dan kata-kata, sedangkan Al-Asy’ari memandangnya dari segi  makna abstrak. Berdasarkan kedua pandangan tersebut, kalam Allah menurut menurut Mu’tazilah  bukan sifatNya dan bukan pula zatNya, melainkan perbuatan yang diciptakan Tuhan dan tidak bersifat kekal. Pendapat Mu’tazilah ini  diterima Al-Maturidi, hanya saja Al-Maturidi lebih suka menggunakan istilah hadis sebagai ganti makhluk untuk sebutan Al-Qur’an. Dalam konteks ini pendapat Al-Asy’ari juga ada kesamaan dengan pendapat Al-Maturidi, karena yang dimaksud Al-Asy’ari dengan sabda adalah makna abstrak, yang tidak lain dari kalam nafsi menurut Al-Maturidi yang merupakan sifat kekal Tuhan.

Keenam, Pengutusan Rasul. Karena tidak selamanya mampu mengetahui kewajiban yang dibebankan  kepada manusia, seperti kewajiban mengetahui baik dan buruk serta kewajiban lainnya dari syari’at yang dibebankan kepada manusia, maka menurut Al-Maturidi akal memerlukan bimbingan ajaran wahyu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban tersebut. Jadi pengutusan rasul berfungsi sebagai sumber informasi. Tanpa mengikuti ajaran wahyu yang disampaikan rasul berarti manusia membebankan kepda akalnya sesuatu yang berada di luar kemampuannya.

Pandangan Al-Maturidi ini tidak jauh berbeda dengan pandangan Mu’tazilah  yang berpendapat bahwa pengutusan Rasul ke tengah-tengah umatnya adalah kewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik dan terbaik dalam kehidupannya dengan ajaran para rasul tersebut.

Ketujuh, Pelaku Dosa Besar. Al-Maturidi berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat. Tuhan telah menjanjikan  akan memberikan balasan kepada manusia sesuai  dengan perbuatannya. Kekal dalam neraka adalah balasan untuk orang yang berbuat dosa syirik. Adapun berbuat dosa besar selain syirik  tidak akan  menyebabkan  pelakunya kekal dalam neraka. Karena itu , perbuatan  dosa besar (selain syirik) tidaklah menjadikan  seseorang kafir atau murtad. Menurut Al-Maturidi, iman itu  cukup dengan tashdiq dan iqrar, adapun amal adalah penyempurnaan iman. Oleh karena itu, amal tidak akan menambah atau  mengurangi esensi iman, kecuali menambah atau mengurangi sifatnya saja.

C. Perkembangan Aliran Maturidiyah

Dalam perkembangannya, aliran Maturidiyah cukup populer di dunia Islam, meskipun tidak sejajar dengan popularitas aliran Asy’ariyah. Karyanya banyak dikenal meskipun yang kini bisa dipelajari tinggal beberapa kitab saja. Pemikiran kalam Al-Maturidi diterima oleh mayoritas ummat Islam, termasuk umat Islam d Indonesia. Padahal dilihat dari pengaruh letak geografis tepat ia tinggal, yakni di pedalaman samarkhand (tepatnya diperkampungan maturid), jelas sangat jauh dibandingkan  Al-Asy’ari yang tinggal di pusat kota sekaligus pusat peradaban umat Islam kala itu.

Namanya nyaris selalu disejajarkan  dengan nama Al-Asy’ari dalam hal popularitas dan penegakannya terhadap akidah Ahlussunnah wa-aljamaah. Keduanya kemudian disebut-sebut sebagai imam dan peletak dasar pemikiran kalam Ahl al-Sunnah wal al-Jamaah. Walaupun agaknya terhadap Al-Maturidi sendiri pengakuan umat Islam lebih kepada namanya sebagai salah satu imam, tetapi bukan terhadap pemikiran-pemikiran kalamnya. Pemikirannya seolah-olah tenggelam terdominasi dalam doktrin-doktrin kalam Al-Asy’ari yang telah dibumbui juga oleh  para ulama Asy’ariyah. Pemikiran Al-Maturidi kurang mendapat perhatian yang seimbang, apalagi pengaruhnya terhadap pembentukan karakteristik ummat. [21]

II.  PENUTUP

Sebagai penutup dari makalah ini disampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Asy’ariyah adalah sebuah sistem teologi pada hakikatnya didirikan atas kerangka landasan yang menganggap bahwa akal manusia memiliki daya yang lemah. Sehingga kurang memberikan porsi pada kemampuan akal dalam pengertian yang luas. Dalam paham ini dengan teori kasb-nya dapat ditarik kesimpulan bahwa perbuatan manusia sebenarnya  adalah perbuatan Tuhan juga. Inilah yang menyebabkan banyak yang menilai pada dasarnya Asy’ariyah adalah sebuah paham fatalis. Asy’ari dipandang gagal  sebagai katalisator paham Jabariyah dan Qadariyah.
  2. Kehadiran paham ini adalah reaksi (perlawanan) atas Mu’tazilah). Sebagian besar literatur menyatakan keluarnya Asy’ari dari paham Mutazilah karena gurunya kalah berdebat dan tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Hal tersebut mungkin benar, namun faktor yang tidak boleh diabaikan adalah faktor situasi yang sudah tidak kondusif bagi paham Mu’tazilah karena banyak mengalami perlawanan dari mayoritas ummat Islam.
  3. Al-Maturidi  sebagai pemikir kalam memberikan porsi yang tinggi terhadap kemampuan akal. Dalam sistem pemikirannya tentang kalam  Al-Maturidi lebih dekat dengan sistem teologi Mu’tazilah.
  4. 4. Dalam perkembangan ajaran, Asy’ariyah lebih populer di banding dengan Maturidiyah karena memiliki para pengikut yang banyak dari berbagai mazhab. Pemikirannya lebih tersosialisasi karena ia berada di pusat kota dan peradaban. Namun keduanya diakui setara di dunia Islam sebagai Imam mazhab Ahl-sunah wal Jamaah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Aziz Dahlan, Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam, Jakarta : Beunebi Cipta, 1987

Abu al-Hasan Ali Ibn Ismail al-Asy’ariy, al-Ibanah fi Ushul al Dinayah, Medinah : Al-Jami’ah al-Islamiyah, Cet. V, , 1409 H

Abu al-Hasan Ismail al-Asy’ariy, Maqalat al-Islamiyin wa Ikhilaf al-Mushallin, Maktabah al-Nahdah al-Mishriyyah, Kairo, 1969

Abu Hasan al-Asy’ari, Al-Luma’ fi al-Radd’ alaa Ahl al-Zaigh wal al- Bida’, Bagdad:  Syirkah Syahimah Mudhariyah, 955

Abu Yusr Muhammad Ibn Abd. Karim al-Bazdawiy, Kitab Ushuluddin, Isa Bab al-Halabiy, al-qahirah, 1963

Al-Ghazaly, Ihya Ulum al-Din, Syirkah Nur Asia, t.t.

Al-Juwaini, Luma al-Adillah, Dar-al Mishriyyah, Kairo, 1965

Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Dar al-Sya’b, Beirut, 1986

Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, Jakarta : UI Press, 1987

——————-, Islam Rasional : Gagasan Dan Pemikiran, Mizan, Bandung, 1995

Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyah, Dar al-Fikri al-Arabi, tt

Noer Iskandar Barsany, Pemikiran Kalam Imam Abu Mansur Al-Maturidi : Perbandingan dengan kalam Mu’tazilah dan Al-Asy’ari, Jakarta : Sri Gunting, 2001

Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1994

Quraish Shihab, Takdir dan Kodrat Allah pada harian Republika, Jum’at, 3 Mei 1996

——————–, Wawasan Al-Quran, Penerbit Mizan Bandung, 1998

Rosihan Anwar dan Abdul Rozak, Kamus Istilah Teologi Islam, Bandung : Pustaka Setia, 2002

W. Montgomery Watt, Islamic Philosophy dan Theoogy : An Extended Survey, Edinburg University Press, Edinburg, 1992

Zainun Kamal “Kekuatan dan Kelemahan Paham Asy’ari sebagai Doktrin Akidah” dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Bandung : Mizan, 1994

Tabel

Perbandingan Antar Aliran Tentang Perbuatan Manusia

 

KEHENDAK

 

DAYA

PERBUATAN  

ALIRAN

TUHAN MANUSIA
Manusia manusia Menciptakan daya sebelum berbuat Mengguankan daya yang telah diciptakan sesuai sunnatullah MU’TAZILAH
ASY’ARIYAH
Tuhan 

 

Tuhan (efektif) Menciptakan perbuatan 

 

Memperoleh perbuatan yang telah diciptakan (iktisab) Al-Asy’ari 

 

Manusia 

 

Manusia 

 

Menciptakan harakah (al-Jins) 

 

Mengguanakn harakah (al-Mau’u) 

 

Al-Baqillani 

 

Manusia 

 

Manusia Menciptakan Data (al-musabbul akhir) Menggunakan daya Al-Juaini
MATURIDIYAH
manusia Manusia Menciptakan daya Menggunakan daya Samarkand  (Al-Maturidy) (ridha dan masyi’ah)
Tuhan Tuhan (efektif) Mencptakan perbuatan Melakukan perbuatan yang diciptakan Tuhan Bukhara (Al-Bazdawiy

[1] Penyebutan kata “faham” merujuk ke Qadariyah atau Jabariyah, sedangkan kata “aliran” merujuk ke Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Maturidiyah, karena faham jabariyah dan qadariyah bisa ada di mana-mana. Pengikut aliran murjiah misalnya ada yang berpaham jabariyah dan ada yang berpaham qadariyah.

[2] Dahlan lebih cenderung menamakan aliran Bukhara ini dengan aliran Bazdawiyah. Lihat Abdul Aziz Dahlan  dalam Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam (Jakarta : Beunebi Cipta, 1987) hal. 107.

[3] Dalam banyak literatur aliran Sunnah diriwayatkan sebelumnya terjadi dialog karena gurunya tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan atas beberapa pertanyaannya, atau ia pernah bermimpi bertemu Rasulullah untuk meninggalkan paham itu dan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah. Hal tersebut mungkin benar. Namun salah satu faktor yang tidak boleh diabaikan adalah faktor sejarah yang pada saat itu sudah tidak kondusif bagi paham Mu’tazilah karena banyak mengalami perlawanan dari mayoritas ummat Islam. Tindakan khalifah al-Mutawakkil mengakomodir paham Asy’ari sebagai aliran Kerajaan dan meninggalkan Mu’tazilah yang semula menjadi paham kerajaan perlu dianalisa lebih jauh.

[4] Mihnah (inquistition) adalah peristiwa yang terjadi dalam lembaran sejarah  Islam yan bernuansa teologis dan politis, sebab para pemuka Mu’tazilah menginterogasi tokoh-tokoh ortodoksi  seperti Ahmad bin Hanbal, menyangkut keyakinan tentang apakah Al-Qur’an itu qadim atau baru. Tokoh Mu’tazilah berkeyakinan  mihnah harus dilaksanakan  dengan kekerasan karena ada legitimasi teologisnya. Kaum Mu’tazilah berpandangan kelompok ortodoksi  telah melanggar monotisme Tuhan. Dikatakan politis karena peristiwa mihnah terjadi atas sponsor dan intervensi langsung khalifah  Al-Makmun, penguasa dari Bani Abbasiyah yang mendukung ajaran-ajaran Mu’tazilah.

[5] Abu al-Hasan Ali Ibn Ismail al-Asy’ariy, al-Ibanah fi Ushul al Dinayah, Al-Jami’ah al-Islamiyah, Cet. V, Medinah, 1409 H h. 157.

[6] Lihat Abu Hasan al-Asy’ari, Kitab Al-Luma’ fi al-Radd’ alaa Ahl al-Zaigh wal al- Bida’, Syirkah Syahimah Mudhariyah, Bagdad, 1955, h. 117.

[7] Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, UI Press, Jakarta, 1987 h. 110.

[8] Harun Nasution dalam Islam Rasional h. 115 dan Teologi Islam  h. 106-107, malah menyebutkan bahwa kalau Mu’tazilah (rasional) menganut faham Qadariyah dan faham sunnatullah, maka Asy’ariyah (tradisional) menganut faham fatalisme (Jabariyah) dan menolak adanya sunnatullah yang mengatur alam semesta dan sedikit memakai akal dalam pemikiran teologinya. Namun demikian banyak kalangan yang berpandangan sebagaimana tulis mastuhu (1994 : 27) bahwa aliran Asy’ariyah telah menampilkan diri sebagai paham tengah antara Qadariyahdan Jabariyah, karena paham Qadariyah dan Jabariyah di dunia Pesantren Indonesia misalnya dianggap sesat.

[9] Abu al-Hasan Ismail al-Asy’ariy, Maqalat al-Islamiyin wa Ikhilaf al-Mushallin, Maktabah al-Nahdah al-Mishriyyah, Kairo, 1969, h. 221.

[10] Yang cukup rumit dipahami dari teori kasab ini adalah, meskipun kehendak dan daya manusia tidak efektifdan Allah lah  pembuat dan pencipta kasb yang sebenarnya, namun asy’ari tetap berpendirian bahwa kasb termasuk perbuatan ikhtiari dengan alasan dalam hal ini terdapat daya sehingga itu tidak bisa disebut paksaan. Dengan teori kasbnya Asy’ari berusaha menunjukkan peran manusia di dalam perbuatannya. Namun oleh para pengkritiknya, keteguhan  dan keyakinan dasar mengenai kemutlakan kehendak dan kekuasaan Tuhan kembali menggiringnya ke dalam kawasan paham yang cenderung agak jabariyah, meskipun ada yang menambahkan dengan predikat “moderat”.

[11] Lihat Nurcholish Madjid, Khazanah, op. cit h. 29 mengutip pendapat Muhammad Yusuf Musa dalam Al-Qur’an wa al-Falsafah, penengah antara Jabaritah dan Mu’tazilah, namun usaha al-Asy’ari tampaknya tidak berhasil untuk menjadi penengah.

[12] Lihat Harun Nasution, op.cit. hal 76.

[13] Lihat : Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Dar al-Sya’b, Beirut, 1986, h. 96

[14] Al-Juwaini, Luma al-Adillah, Dar-al Mishriyyah, Kairo, 1965, h. 99.

[15] Harun Nasution, Teologi Islam, op. cit . h. 72.

[16] Lihat W. Montgomery Watt, Islamic Philosophy dan Theoogy : An Extended Survey, Edinburg University Press, Edinburg, 1992, h. 105

[17] Al-Syahrastani, op. cit. h. 96

[18] Lihat : Al-Ghazaly, Ihya Ulum al-Din, Syirkah Nur Asia, t.t. hal. 107-108.

[19] Lihat : Zainun Kamal dalam “Kekuatan dan Kelemahan Paham Asy’ari sebagai Doktrin Akidah” dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Bandung : Mizan, 1994 h. 143

[20] Lihat :  Rosihan Anwar dan Abdul Rozak, Kamus Istilah Teologi Islam, Bandung : Pustaka Setia, h. 114-115

[21] Lihat : Noer Iskandar Barsany, Pemikiran Kalam Imam Abu Mansur Al-Maturidi : Perbandingan dengan kalam Mu’tazilah dan Al-Asy’ari, Jakarta : Sri Gunting, 2001, h. 73-74.

[9] Adz-Dzhabi, “Al-Israiliyat fi At-Tafsir zt’a Al-Hadist”, Majalat Ai-Azhar, Sya’ban 1388 H/Oktober 1968 M, him. 496 (selanjutnya disebut Al-Azhar).

[10] Adz-Dzahabi At-Tafsir zva Al-Mufasirun (selanjutnya disebut: At-Tafsir) him. 173—174.

[11] Ibid. him. 497.

[12] Ibid.

[13] Adz-Dzhabi, Al-Tafsir, him. 61

[14] Ibid. him. 173.

[15] Ibnu Khaidun, Muqaddimah, him. 491—98. Lihat: Adz-Dzahabi him. 177—78.

[16] Ibid. him. 61—62.

[17] Ibid. him. 171—173,

[18] Adz-Dzahabi, Al-Azhar, him. 497.

[19] Ibid.

[20] Ibid, him. 169—171.

[21] Ahmad Amin, Dhuha Al-Islam, (Mesir: Mathal ba’ah Lajnah Ai-Ta’lif wa Ai-Nasr,
1952), Jiid II, him. 310.

[22] Manna’ Al-Qattan, Mahabis Fi ‘Lilumi Al Qu’ran (Mesir: Mansyurat Ai’Ashari AlHadis, 1973), cet. Ke—2, him. 355.

[23] Yaitu: Surat Ar-Ra’du ayat 43; dan surat Ai-Ahqaf ayat 10.

[24] Adz-Dzahabi At-Tafsir, him. 184-187.

[25] Ahmad Ainin, Fajru Al Islam, hIm. 198, iihat Ibid. 189.

[26] Rasyid Ridha, Op. Cit. juz I, 9—10.

[27] Lihat: Adz-Dzahabi, Loc. Cit.

[28] ibid. him. 194.

[29] Ibid. him. 195—197.

[30] Ibid. him. 198—200. Lihat Ahmad Amin, Dhuha Al-Islam, II, him. 130.

[31] Pengertian At-Tafsir Al-M’tsur menurut Az-Zarqani, yaitu apa saja berasal dan AlQuran, As-Sunnah, atau perkataan sahabat sebagai penjeias terhadap maksud Allah
SWT. dalam kitabnya. Lihat: Az-Zarqani, Manabilu Al-’Irfan Fi Ulumi Al Qur’an (Mesir: Matha’ah Isa Al-Baby Al-Halabi Wa Syurakahu, jilid II)hlm. 12.

[32] Lihat: Surat Al-Baqarah Ayat: 4 dan ayat 285.

[33] Lihat: Surat A?-An’am ayat 91; dan surat A1-Maidah ayat: 14-15.

[34] Ibn Hajar A1-Asqalany, Loc. Cit.

[35] Ibid, juz VI, hIm. 226.

[36] Musnad Imam Ahmad juz III him. 287, lihat: Adz-Dzahabi, Op. Cit. him. 172-173.

[37] Ibnu Hajar, juz VIII, Loc. Cit.

[38] Ibnu Hajar, juz VI, Loc. Cit.

[39] ibid.

[40] Ibnu Katsir Ibn Ai-Quraisyi, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim (Mesir: Isa Ai-Babi Aql Halaby As-Syurakahu, juz I) hIm. 4.

[41] Adz-Dzahabi, Op. Cit. 246.

[42] Ibn Al-Araby, Ahkam Al Qur’an (Mesir: Isa Al Babi Ai-Halabi Wa Syurakahu, juz I). 11.

[43] Lihat Rasyid Ridha, Op. Cit. ju.z 1, him. 8.

[44] Lihat: Surat All Imran ayat 23.

[45] Rasyid Ridha, Op. Cit. him. 9.

[46] Adz-Dzahabi, Op. Cit. him. 191—192.

[47] Rasyid Ridha, Op. Cit. hIm. 10.

[48] Ibid. hIm. 347—348.

[49] Ibid hIm. 18.

[50] Lihat: Jamal Al din Al-Qasimi Mahasinu Ai-ta’wil, jaz I. H. 45-47.

[51] Adz-Dzahaby, Op.Cit. hIm. 179-180.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: