Oleh: ALIBORON | 26 Oktober 2010

Periwayatan Hadits bi al-Makna

A. Pendahuluan

Tulisan ini akan mengenyampingkan perbedaan pendapat  tentang   pengertian hadis dengan al-sunnah. Pendapat yang populer di kalangan ulama hadis menyebutkan bahwa hadis dan al-sunnah dua istilah yang semakna.[1] Meskipun diakui pendapat itu memunculkan kritik yang cenderung membedakan antara dua istilah tersebut. Nurcholis Madjid  misalnya, dia menilai  sunnah lebih luas dari hadis.  Pemahaman Rasulullah terhadap pesan atau wahyu Allah dan teladan beliau dalam melaksanakannya membentuk  “tradisi” atau sunnah kenabian (al-sunnah nabawiyah). Sedangkan  hadis  merupakan bentuk  reportasi  atau penuturan   tentang  apa yang disebabkan  Rasulullah SAW  atau yang dijalankankan dalam praktik, atau tindakan orang lain yang didiamkan beliau.[2]

Dalam ajaran Islam, hadis atau  sunnah  (selanjutnya disebut hadis)   menempati posisi yang sangat  penting , yaitu  sebagai sumber ajaran kedua setelah Alquran.  Jika diskusi lebih spesifik lagi, dari sudut pandang periwayatan, setidaknya ada  dua cara periwayatan hadis. Pertama, periwayatan dengan lafaz (dalam tulisan ini disebut pula lafal) , yaitu hadis  diriwayatkan  oleh perawinya sesuai dengan redaksi  atau lafal hadis yang diterimanya dari orang yang menyampaikan hadis tersebut kepadanya, tanpa ada perubahan, pengurangan, penambahan, atau perbedaan. Kedua, periwayatan dengan makna, yaitu  periwayatan  hadis dengan redaksi yang berbeda dari redaksi hadis yang diterima oleh para perawi, namun isi maksud dan maknanya sama.

Terkait dengan hal tersebut  tulisan ini akan mencoba menyorot lebih jauh tentang periwayatan hadis dengan makna.  Diskusi  tentang periwayatan  dengan makna sangat terkait dengan hadis  qauliyah. Hal ini disebabkan  hadis fi’liyah dan taqririyah redaksinya  bukan berasal dari Rasulullah, melainkan dari  sahabat yang membuat reportasi  kehidupan beliau.

B. Beberapa Penyebab Periwayatan Bil Ma’na

Pada awal Islam sampai khalifah kedua, hadis  tidak ditulis dalam buku-buku yang berjilid. Ketika itu hadis masih merupakan tulisan-tulisan yang terserak pada lembaran-lembaran hati (hafalan). Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa keengganan untuk menulis hadis tersebut disebabkan kekuatiran tercampurnya ayat al-Quran   dengan hadis Nabi SAW.

Lebih-lebih lagi  bagi generasi selanjutnya  yang tidak menyaksikan  zaman tanzil ( masa turunnya wahyu ), yang tidak mustahil adanya dugaan bahwa seluruh  yang tertulis  adalah wahyu, hingga bercampur aduk antara al-Quran  dan hadis Nabi SAW.[3]

Mengutip Rasm  Jafarian, Jalaluddin Rahmat mensinyalir  keengganan menulis hadis pada era sahabat tersebut menjadi sebab periwayatan  dengan makna. Lebih jauh dia menulis, karena  orang  hanya menerima hadis secara lisan, ketika menyampaikan  hadis  mereka hanya menyampaikan maknanya. Dalam rangkaian periwayatan,  redaksi hadispun dapat berubah-ubah. Makna adalah masalah  persepsi, masalah penafsiran, maka redaksi hadis berkembang sesuai dengan penafsiran orang yang meriwayatkannya.[4]

Sehingga dalam perkembangan  selanjutnya, para sahabat  menyebarkan hadis Nabi Muhammad SAW yang diketahuinya kepada orang lain baik dengan lapazh sebagaimana  ia mendengar/menerima hadis tersebut dari Nabi SAW  apabila hadis itu masih  melekat pada telinga mereka. Atau mereka menyampaikannya  berdasarkan  makna yang dikandung hadis tersebut apabila mereka  tidak hafal lagi dengan lafaznya.[5]

Dengan demikian,  faktor terjadinya periwayatan hadis bilma’na adalah     belum ditulisnya hadis sehingga berlanjut pada  faktor ingatan  dan hafalan  perawi hadis  dengan lapaz hadis yang diterimanya. Hal ini dikuatkan lagi dengan pendapat Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, “Jika seseorang perawi tidak lupa  dengan lapazh hadis,  maka ia tidak boleh meriwayatkannya bilma’na, sebab kalam Nabi SAW adalah  kalimat (perkataan) yang fasih (fashahah) yang  tidak terdapat pada  perkataan  lainnya”.  Hal ini berarti perawi  yang lupa  dengan lapazh hadis yang diterimanya  boleh meriwayatkan  hadis itu  dengan maknanya  saja, dengan syarat-syarat tertentu.

C. Ketentuan Periwayatan Hadis Bilma’na

Keabsahan periwayatan hadis  bil mana memunculkan  kontroversi di kalangan ulama. Abu Bakar ibn al Arabi (w. 573 H/1148) berpendapat bahwa  selain sahabat  Rasulullah SAW tidak diperkenankan  meriwayatkan hadis secara makna. Lebih jauh,  Abu Bakar  mengemukakan alasan  yang mendukung pendapatnya tersebut. Pertama, sahabat  memiliki  pengetahuan  bahasa Arab yang tinggi dan kedua, sahabat menyaksikan langsung keadaan perbuatan  Nabi SAW. [6]

Namun,  pendapat yang populer  di kalangan ulama hadis  menyatakan   selain sahabat  diperkenankan  meriwayatkan  hadis secara makna dengan beberapa  ketentuan yang harus dipenuhi, yaitu :

  1. Memiliki pengetahuan bahasa Arab. Dengan demikian periwayatan matan hadis akan  terhindar  dari  kekeliruan.
  2. Periwayatan dengan makna  dilakukan bila sangat  terpaksa misalnya  karena lupa susunan secara lafaz atau harfiah.
  3. Yang diriwayatkan dengan makna  bukan merupakan  bentuk bacaan bacaan yang sifatnya ta’abbudi, seperti zikir, doa, azan, takbir dan syahadat, serta   bukan  yang berbentuk jawami al kalim.
  4. Periwayat  hadis secara makna atau mengalami  keraguan  akan susunan matan  hadis  yang diriwayatkannya agar menambah  kata    او كما قا ل   atau  او نحو هذا  atau yang semakna dengannya setelah menyatakan  matan hadis  yang bersangkutan.
  5. Kebolehan periwayatan hadis secara makna  hanya terbatas  pada masa sebelum  dibukukannya  hadis secara resmi. Sesudah  masa  pembukuan (kodifikasi) hadis, periwayatan hadis harus secara lafaz. [7]

Para sahabat lainnya berpendapat bahwa dalam keadaan  darurat karena tidak hafal  persis seperti  yang di wurud-kan Rasulullah SAW, dibolehkan meriwayatkan hadis secara maknawi. Periwayatan  maknawi  artinya periwayatan  hadis  yang matannya  tidak sama  dengan yang didengarnya  dari Rasulullah SAW, tetapi isi atau maknanya tetap terjaga  secara utuh  sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW.[8]

Shubhi Ismail  menyebut empat syarat  yang harus dipenuhi periwayatan dengan makna  adalah  pertama,  perawi hadis  itu betul-betul seorang yang alim  mengenai ilmu nahwu, sharaf dan ilmu  bahasa Arab; kedua, perawi itu harus mengenal dengan baik segala madlul lafal dan maksud-maksudnya; ketiga, perawi itu harus  betul-betul mengetahui  hal-hal yang berbeda di antara lafal-lafal tersebut; dan keempat, perawi itu harus mempunyai  kemampuan menyampaikan  hadis dengan  penyampaian  yang benar  dan jauh dari kesalahan  atau kekeliruan.  Di samping empat syarat  tersebut Abu Rayyah  menambah satu syarat lagi, yaitu tidak boleh penambahan atau pengurangan di dalam terjemahan (penyampaian hadis dengan makna) terserbut.[9]

Apabila syarat-syarat tersebut  tidak terpenuhi, maka tidak boleh meriwayatkan hadis  bil ma’na , tetapi boleh meriwayatkan bil-lafzh. Imam Asy-Syafi’i menyebutkan tentang sifat-sifat  seorang perawi sebagai berikut :

  1. Tsiqah dalam beragama
  2. Terkenal kejujurannya  dalam periwayatan hadisnya.
  3. Mengetahui dengan apa  yang diriwayatkannya
  4. Mengetahui seluk beluk makna hadis berdasarkan lapazhnya.
  5. Terkenal sebagai perawi hadis  bil lafzh.
  6. Hafal jika ia meriwayatkan  hadis dari hapalannya.
  7. Hafal dengan tulisannya jika ia meriwayatkan hadis dari catatan (tulisannya).

Selain itu, orang yang mengetahui dengan segala makna hadis dari segi lapaznya, ia boleh meriwayatkannya  dengan maknanya  saja apabila ia tidak dapat  mendatangkan  lapazhnya  yang asli, karena ia menerima  hadis  itu dengan lapaz  dan maknanya. Namun ia tidak mampu  untuk menyampaikan salah satunya (lapazhnya ), maka boleh saja  ia meriwayatkan  hadis itu dengan maknanya  selama dapat menghindari kekeliruan (zalal) dan kesalahan (khatha’),  Sebab tidak menyampaikan  hadis dengan  maknanya  dinilai menyembunyikan hukum. [10]

Dari dua  pendapat tersebut, paling tidak menunjukkan satu hal  penting bahwa periwayatan hadis secara makna  tidak bebas dilakukan  oleh para perawi. Meskipun demikian, kebolehan tersebut juga membuka  peluang  perbedaan dan keragaman susunan redaksi matan. Perbedaan redaksi  matan tersebut   terjadi terutama karena  adanya  perbedaan sanad yang disebabkan  perbedaan perawi. Perawi yang berbeda  akan  menyebabkan  kemungkinan  terjadinya perbedaan  dalam menerima suatu riwayat  dan perbedaan  dalam  ketentuan  yang dipedomani serta aplikasinya  dalam periwayatan hadis secara makna.

Sebagai contoh perbedaan redaksi matan yang  disebabkan  perbedaan sanad adalah hadis tentang niat. Hadis  itu ditemui  dalam Shahih Al Bukhari,  Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Al Tirmidzi, Sunan Al Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, dan Musnad  Ahmad Ibnu Hambal. Sahih Bukhari  menyebut hadis  tentang niat  dalam  tujuh tempat. [11]

Perbedaan   tersebut dapat dilihat sejak  awal matan pada  empat redaksi hadis berikut :

Hadis pertama :[12]

حد ثناابو النعمان حد ثناحما د بن زيد عن يحي بن سعيد عن محمد بن ابرا هيم عن علقمة بن وقا ص قا ل سمعت عمر بن الخطا ب رضي الله عنه يقو ل سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقو ل يا ايها الناس انما ا لأ عما ل با لنية

Hadis kedua : [13]

حد ثنا قتيبة بن سعيد حد ثنا عبد الو ها ب قا ل سمعت  يحي بن سعيد  يقو ل اخبر نى  محمد بن ابرا هيم انه سمع علقمة بن وقا ص الليثي يقو ل   سمعت عمر بن الخطا ب رضي الله عنه يقو ل سمعت رسول الله  صلى الله عليه و سلم يقو ل  انما ا لأ عما ل با لنية

Hadis ketiga : [14]

حد ثنا الحميدى عبدالله بن الز بير قا ل حد ثنا سفيا ن قا ل حد سنا  يحي بن سعيد الا نصا رى قا ل ا خبر نى  محمد بن ابرا هيم  التيمي انه سمع    علقمة بن وقا ص الليثي   يقو ل  سمعت عمر بن الخطا ب رضي الله عنه على المنبر قا ل سمعت ر سو ل الله  صلى الله عليه و سلم يقو ل ا نما ا لأ عما ل با لنيا ت

Hadis Keempat : [15]

حد ثنا عبد الله بن مسلمة قا ل أخبرنا مالك عن يحي بن سعيد عن محمد بن ابرا هيم عن علقمة بن وقاص عن عمرأن رسول الله صلى الله عليه و سلم قا ل انما ا لأ عما ل با لنية

Dari empat buah hadis tersebut, bisa dilihat sahabat Rasulullah  yang menjadi perawi pertama  untuk seluruh sanad  hadis tersebut adalah Umar ibn Al Khathab. Nama-nama perawi dalam sanad hadis  tersebut  adalah orang yang sama  pada  tingkatan (thabaqat) pertama sampai dengan keempat, yaitu :

  1. 1. Umar ibn al Khathab
  2. 2. Alqamah ibn Waqqash al Laitsi
  3. 3. Muhammad ibn Ibrahim al Tamimi dan
  4. 4. Yahya ibn Sa’id al Anshari

Akan tetapi, terdapat  perbedaan perawi pada  thabaqat kelima, yaitu :

  1. 1. Hammad ibn Zaid
  2. 2. Abdul Wahab
  3. 3. Sufyan ibn Uyainah
  4. 4. Malik ibn Anas

Perbedaan  perawi juga terjadi pada  thabaqat keenam, yaitu sebelum Bukhari, yaitu :

  1. 1. ِAbu al Nu’man
  2. 2. Qutaibah
  3. 3. Al Humaydi Abd Allah ibn Zubair
  4. 4. Abd Allah ibn Maslamah

Dengan demikian terlihat bahwa  periwayatan secara makna  tidak hanya memunculkan  perbedaan redaksi, tetapi  juga dalam hal pemilihan kata-kata, sesuai  dengan perbedaan  waktu dan kondisi di mana perawi itu berada.[16] Sangat mungkin, kata-kata tersebut  semakna dengan kata-kata yang lazim  digunakan  pada masa Rasulullah SAW.

D.  Status Hadis yang Diriwayatkan Bilma’na

Seperti telah disorot pada bagian awal tulisan ini bahwa  periwayatan secara makna  oleh selain sahabat memunculkan dua pendapat yang berbeda, yaitu  pendapat  yang membolehkan serta pendapat yang melarang  periwayatan secara makna. Ibnu Sirin, Sa’lab, Abdullah bin Umar dan Abu Bakar Razi merupalam tokoh yang tidak  membolehkan sama sekali  periwayatan hadis secara makna.  Mereka yang menolak periwayatan  hadis  dengan makna  mempunyai dalil  seperti sebuah hadis  yang diriwayatkan at Turmudzi, dan diriwayatkan pula  oleh Ahmad bin Hanbal, Ibn Majah dan Ibnu Hibban.

حد ثنا محمو د بن غيلا ن حد ثنا ابو داود انبأ نا شعبة عن سما ك بن حرب قا ل سمعت عبد الر حمن بن عبد الله بن مسعو د يحد ث عن أبيه قا ل سمعت  النبي صلى الله عليه وسلم  يقو ل نضر الله امر أ سمع منا شيأ فبلغه كما سمع فر ب مبلغ أو عى من سا مع قا ل ابو عيسى هذا حديث حسن صحيح وقد رواه عبد الملك بن عمير عن عبد الر حمن بن عبدالله

Menceritakan kepada kami Mahmud bin Gailan, menceritakan kepada kami Abu Daud, mengabarkan kepada kami Syub’ah dari Simak bin Harb, ia berkata, “aku mendengar ‘Abd Rahman bin Abdullah bin Mas’ud menceritakan dari ayahnya, katanya, “aku mendengar Nabi SAW bersabda, “Allah mempercantik rupa seseorang yang mendengar sesuatu  dari kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia dengar. Banyak sekali   orang yang  menyampaikan  lebih mengerti daripada orang yang menerimanya

Selain dalil  naqli tersebut,  mereka  juga mengemukan dalil rasional untuk menentang periwayatan hadis dengan makna. Pertama, periwayatan dengan makna dapat memunculkan  perbedaan  pengertian lafal yang disampaikan  perawi dengan  lafal aslinya. Sementara  perawi tersebut  menganggap perbedaan tersebut tidak ada.  Kedua, jika seorang perawi  boleh mengganti  lafal yang diucapkan Rasulullah dengan  lafalnya sendiri, tentunya,  perawi berikutnya dapat mengganti lafal yang didengarnya dengan lafalnya sendiri.

Jika  kita  berasumsi sama dengan  pendapat yang  melarang  periwayatan secara maknawi, maka bisa disepakati bahwa  hadis yang diriwayatkan  dengan makna oleh selain sahabat  patut diduga sebagai hadis dhaif.

Akan tetapi, pendapat yang populer  mengungkapkan bahwa keshahihan  sebuah hadis  berdasarkan cara periwayatan hadis bilma’na atau  billafazh bukanlah sebuah persoalan, asal perawi  yang meriwayatkan  hadis tersebut  memenuhi syarat-syarat  tertentu  seperti yang telah disebutkan di atas.

Tokoh-tokoh yang membolehkan periwayatan hadis dengan makna ini antara lain ialah Ali bin Abi Thalib, Ibn Abbas, Anas bin Malik, Abu Darda’, Wasilah bin al Asqa’, Abu Hurairah, Hasan al Bashri, asy Sya’bi, ‘Amr bin Dinar, Ibrahim an Nakha’i, Mujahid dan Ikrimah. Mereka tidak hanya sekedar membolehkan, tetapi  juga meriwayatkan dengan  makna.[17]

Dengan demikian, dapat  diduga bahwa  sebenarnya ulama yang membolehkan periwayatan dengan makna  bukan berarti tidak  waspada terhadap  kemungkinan pemalsuan hadis, mereka  sangat  waspada dan mengkhawatirkan  akan terjadinya kekeliruan  dalam periwayatan hadis dengan makna sehingga mereka menetapkan  syarat-syarat yang berat.

Jika sepakat dengan pendapat tersebut, maka  kesahihan hadis  tidak dilihat   dari bentuk periwayatannya, lafaz  atau makna. Sehingga hadis yang diriwayatkan dengan makna atau dengan  lafaz bisa  shahih bisa juga dhaif.   Hadis tersebut  harus dilihat dari syarat-syarat  kesahihahan  sebuah hadis.

Dengan mengutip Hasby As Shiddieqy, bisa dipahami bahwa hadis shahih ialah  hadis yang bersambung sanadnya  dengan riwayat orang  yang dipercaya (tsiqah )   dari orang yang terpercaya sejak awal  sampai akhir  tanpa ada syadz tanpa ada “Illat”. Sedangkan hadis hasan  adalah hadis yang selamat lafaznya  dari keburukan susunan. Selamat maknanya  dari menyalahi  ayat atau khabar muttawatir, dan isnadnya bersambung dengan orang  yang adil dan dhabit. [18]

Jika dilihat dari sudut redaksi  matan,  periwayatan hadis dengan makna dapat ditolak jika matan hadis tersebut  memiliki kelemahan kalimat, lemah  dari  segi  makna, jelas bertentangan dengan Alquran, berlebihan tentang pahala dan dosa, dan bertentangan  dengan sejarah di masa Rasulullah SAW. [19]

D. Penutup

Tulisan ini  menawarkan  beberapa kesimpulan, yaitu :

  1. Periwayatan hadis dengan makna  diperlukan syarat-syarat tertentu  yang  akan memelihara kemurnian dan keotentikan hadis.
  2. Meskipun pendapat yang populer membolehkan periwayatan dengan makna, namun menuntut persyaratan berat bagi perawinya dan  periwayatan hadis dengan lafal lebih diprioritaskan.

Dafar Pustaka

A. Hafiz Anshary AZ, Periwayatan Hadis dengan Lafal dan Makna, dalam Khazanah Nomor 54  Oktober Desember  2000, IAIN Antasari, 2000

Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Rajawali Pers, Jakarta, 2000

Ahmad Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan  Sanad Hadis,  Bulan  Bintang,  Jakarta, 1995

Bukhari,  Shahih Bukhari, Juz  I, III, VII dan VIII, Dar el Fikr, Beirut, tth.

Fatcthur Rahman, Ikhtisar Musththalahul Hadis, Al Maarif,  Bandung, 1974.

Jalaluddin Rahmat, Dari Sunnah ke Hadis atau Sebaliknya, dalam Budhy Munawar Rachman (ed), Konstektualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Paramadina, Jakarta, 1995

Mahmud Yunus, Ilmu Musthalah al Hadis, Al Maktabah al Sa’diyah Putra, 1950

Mudasir, Ilmu Hadis, Pustaka Setia, Jakarta, 1999

Muhammad ‘Ajjaj al Khatib, Ushul al Hadis, Dar al  Fikr, 1989

Nawer Yuslem, Ulumul Hadis, Mutiara Suber Widya, Jakarta, 2001

Nurcholis Madjid, Pergeseran Pengertian Sunnah ke Hadis Implikasinya dalam Pengembangan Syariah, dalam Budhy Munawar Rachman (ed), Konstektualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Paramadina, Jakarta, 1995

TAMBAHAN :

Dalam hal meriwayatkan hadist dengan makna ada beberapa pendapat ulama :

  1. Boleh dilakukan demikian oleh orang yang benar-benar mengetahui makna lafaz. Sebagian ulama membolehkan jika khabar itu bukan dari jawami’ul kalim . Kalau dari jawami’ul kalim  tidak boleh.
  2. Tidak boleh meriwayatkan dengan maknanya. Wajib dinukilkan  lafal baik oleh yang  mengetahui maupun yang tidak. Inilah mazhab Malik. Namun dipandang menyempitkan keadaan karena para salaf juga sering meriwayatkan hadits dengan makna. Bahkan sahabat ada yang meriwayatkan hadits dengan suatu lafaz dan pada waktu lain dengan lafaz berbeda
  3. Dibedakan pada lafal yang bisa ditakwil dan tidak bisa ditakwil. Apabila tidak bisa ditakwil boleh, sementara bila bisa ditakwil tidak boleh dengan lafal
  4. Tidak boleh jika masih hapal lafal hadits dan boleh jika tidak hapal. Ini pendapat al Mawardy dan al Ruyani
  5. Boleh meriwayatkan dengan makna jika yang diriwayatkan itu perintah atau larangan, tidak boleh jika pekabaran; umpamanya sabda Rasululah :

لا تبيعوا الذهب با الذهب

Jangan kamu menjual emas dengan emas

اقتلوا الاسودين فى الصلاة

Bunuhlah lipan dan ular dalam sembahyang

Hadits pertama boleh diriwayatkan dengan lafal :

انه ص. م. نهى عن بيع الذهب با الذهب

Bahwasanya Nabi SAW mencegah menjual emas dengan emas

انه ص. م. امر بقتل الاسودين فى الصلاة

Bahwasanya Nabi SAW memerintahkan membunuh lipan dan ular dalam sembahyang

  1. Boleh pada lafal yang muhkam, tidak boleh pada  lafal mujmal, musytarak dan majaz yang tidak mashur
  2. Boleh dengan makna jika bermaksud mengemukakan hujjah, tapi tidak boleh jika dimaksudkan menyampaikan riwayah.
  3. Tidak boleh dengan makna kalau nabi menyebut sesuatu jumlah yang mengandung makna, jika jumlah itu tidak dipahamkan oleh orang umum sebagaimana  dimaksudkan Nabi, karena disampaikan dalam lafaz yang lain.

Sumber :

M. Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirajah Hadiets, Jakarta : Bulan Bintang, 1958 h. 167-169


[1]Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Rajawali Pers, Jakarta, 2000 h. 73

[2]Nurcholis Madjid, Pergeseran Pengertian Sunnah ke Hadis Implikasinya dalam Pengembangan  Syariah, dalam Budhy Munawar Rachman (ed), Konstektualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Paramadina, Jakarta, 1995 h. 210

[3] Fatcthur Rahman, Ikhtisar Musththalahul Hadis, Al Maarif,  Bandung, 1974. h. 47

[4] Jalaluddin Rahmat, Dari Sunnah ke Hadis atau Sebaliknya, dalam Budhy Munawar Rachman (ed), Konstektualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Paramadina, Jakarta, 1995 h. 229

[5] Mahmud Yunus, Ilmu Musthalah al Hadis, Al Maktabah al Sa’diyah Putra, 1950 h. 252

[6] Ahmad Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan  Sanad Hadis,  Bulan  Bintang,  Jakarta, 1995h. 70

[7] Ibid., h. 71

[8] Mudasir, Ilmu Hadis, Pustaka Setia, Jakarta, 1999. h. 99

[9] A. Hafiz Anshary AZ, Periwayatan Hadis dengan Lafal dan Makna, dalam Khazanah Nomor 54  Oktober Desember  2000, IAIN Antasari, 2000 h. 95

[10] Muhammad ‘Ajjaj al Khatib, Ushul al Hadis, Dar al  Fikr, 1989. h. 252

[11] Nawer Yuslem, Ulumul Hadis, Mutiara Suber Widya, Jakarta, 2001. h. 171

[12] Bukhari,  Shahih Bukhari, Juz  VIII, Dar el Fikr, Beirut, tth. h. 59

[13] Bukhari,  Shahih Bukhari, Juz  VIII, Dar el Fikr, Beirut, tth. h. 231

[14] Bukhari,  Shahih Bukhari, Juz  I, Dar el Fikr, Beirut, tth. h. 2

[15] Bukhari,  Shahih Bukhari, Juz  I, Dar el Fikr, Beirut, tth. h. 21

[16] Nawer Yuslem, Ulumul Hadis, Mutiara Suber Widya, Jakarta, 2001. h. 173

[17] A. Hafiz Anshary AZ, op. cit. h. 93

[18] Hasbi Ash Shiddieqy, 1981 : 50

[19] (Mustafa Al Siba’i,  1995  :  66-70)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: