Oleh: ALIBORON | 9 November 2010

Evolusi Konsep Geometrik Bentuk Bumi

Ide-ide awal mengenai “gambaran” atau bentuk geometrik fisik bumi sebagai implementasi dari konsep-konsep mengenai bumi telah berevolusi dari abad ke abad. Bentuknya-bentuk bumi hasil evolusi tersebut antara lain adalah tiram, lempeng datar, kotak persegi panjang, piringan lingkaran, bola, buah jeruk (orange) dan ellips putar.

Tiram. Tiram/oyster atau cakram datar yang terapung dipermukaan laut (konsepsi bumi dan alam semesta menurut bangsa Babilon  yang berkembang di sekitar  2500 tahun SM).

Lempeng Datar. Konsep demikian dikemukakan oleh Hecateus, bangsa Yunani kuno sekitar  500 SM

Kotak Persegi Panjang. Anggapan para geograf Yunani kuno pada  500 SM  hingga awal 400 SM.

Piringan Lingkaran. Konsep piringan lingkaran atau cakram berkembang berkembang dalam bangsa Romawi.

Bola. Bangsa Yunani Kuno, Pythagoras (495 SM), Aristoteles membuktikan bentuk bola bumi  dengan enam argumennya (340 SM), Archimemdes (250 SM), Erastosthenas (250 SM).

Buah Jeruk Manis/Orange. Dikemukakan oleh ahli fisika  Huygens (1629-1695 dan Isaac Newton (1643-1727)

Ellips Putar. Dikemukakan oleh French Academy of Sciences (didirikan 1666).

Dengan adanya pegepengan pada kedua kutubnya (sehingga menyebabkan  besar jari-jari kea rah ekuator lebih panjang dari pada yang ke arah kutub), maka nilai-nilai pengamatan bentuk bumi menghasilkan perbedaan-perbedaan  nilai panjang sekitar 20 km antara panjang jari-jari rata-rata bumi (ke arah ekuator) dengan jarak dari pusat bumi ke kutub (Perhatikan selisih antara nilai-nilai setengah sumbu panjang (a) dengan setengah sumbu pendek (b) ellipsoid referensi).

Gb. 1

Referensi Ellipsoid

Hasil-hasil pengamatan yang terakhir ini membuktikan  bahwa model geometrik yang paling tepat untuk merepresentasikan  bentuk bumi adalah adalah ellipsoid (ellips putar). Model-model bentuk bumi ellipsoid ini sangat diperlukan  untuk hitungan-hitungan jarak dan arah (terkadang beberapa pihak menyebutnya  sebagai: sudut jurusan, azimuth, bearing, atau heading) yang akurat dengan jangkauan yang sangat jauh.Sebagai contoh, Reciever GPS (juga sistem atau perangkat Loran-C sebagai pendahulunya) untuk memenuhi kebutuhan navigasi menggunakan model bumi ellipsoid dalam menentukan posisi-posisi pengguna atau target-target yang kemudian ditentukan.

Walaupun demikian, model-model bentuk bumi sebagai bidang datar terkadang juga masih digunakan  hingga saat ini untuk kebutuhan praktis seperti halnya plane surveying untuk jarak-jarak (alat ukur dan target) pengukuran cukup pendek (kurang dari 10 km) sehingga kelengkungan bumi dapat diasumsikan tidak berpengaruh dan dapat diabaikan. Sementara itu, di lain pihak, model-model bentuk bumi bulat atau  bola terkadang juga masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan navigasi dengan jarak-jarak pendek atau sebagai bentuk pendekatan karena sebenarnya model-model bumi bola juga masih belum berhasil di dalam usahanya memodelkan bentuk bumi secara penuh (realitas).

Oleh: ALIBORON | 6 November 2010

Menghitung Sudut Arah Kiblat dengan Segitiga Planar

Menentukan arah suatu tempat di permukaan bumi menggunakan konsep trigonometri planar (segitiga datar) bukanlah sebuah pilihan metode yang tepat. Kita telah mengetahui bahwa bentuk bumi menyerupai bola, konsep bola bumi inipun pada dasarnya hanyalah sebuah pendekatan, tetapi sudah cukup bagus untuk menentukan arah suatu tempat dengan tingkat ketelitian tertentu. Untuk menghasilkan tingkat ketelitian lebih tinggi masih ada faktor lain yang perlu diaplikasikan dalam formula trigonometri bola tersebut. Penulis telah membahasnya dalam tulisan yang lain. Lihat misalnya: aliboron.

Tulisan ini terkait dengan penggunaan konsep segitiga planar untuk menentukan arah kiblat bagi kaum muslimin. Dalam prakteknya memang masih ada yang menggunakan konsep ini sebagai model perhitungan. Penentuan arah kiblat seperti ini masih ada dilakukan oleh para santri yang belum mempergunakan system perhitungan  ilmu kur bola. Di antara kitab yang menerangkan masalah tersebut di atas adalah “Taqribul Maqshad” (lihat: Departemen Agama: Pedoman Penentuan Arah Kiblat) .

Metode penentuannya arah kiblat dengan segitiga planar dapat dilakukan dengan langkah-langka berikut:

  1. Tentukan koordinat tempat yang akan dicari arah kiblatnya
  2. Jumlahkan selisih lintang dan bujur tempat yang dicari arah kiblatnya dengan bujur dan lintang Makkah (Kabah). Jika lintang tempat berada di selatan, maka ditambahkan dengan lintang makkah, sedangkan bila lintang U di kurangkan. Logikanya semakin ke selatan lintang suatu tempat jaraknya dengan lintang kabah akan semakin jauh.
  3. Buat koordinat Kartesius 2 dimensi (X, Y) dengan titik perpotongannya adalah O. dimana O adalah merupakan titik yang dicari arah kiblatnya, X adalah selisih bujur kedua tempat dan Y adalah jarak lintang kedua tempat.
  4. Yang dimaksud dengan arah kiblat sendiri adalah besar sudut XOM atau MOX, tergantung dari mana titik mana sudut arah kiblat akan diukur.
  5. Besar sudut XOM atau MOX dapat dicari dengan menggunakan rumus “tangent”.

Berikut ini adalah contoh menghitung arah kiblat Kota Banjarmasin dengan aplikasi rumus segitiga planar.

  1. Koordinat Kota Banjarmasin diketahui 3.33° LS dan 114.6° BT dan Kota Mekkah diketahui 21.42 LU dan 39.83 BT.
  2. Jarak lintang kota Banjarmasin dan kota Makkah (Ka’bah)  = 21.42° + 3.33° = 24.75°. Sedangkan selisih bujur adalah = 114.6°-39.83° = 74.77°
  3. Jika dibuat dalam koordinat kartesius dapat digambarkan sebagai berikut:

4. Karena posisi M (X,Y) berada di sebelah utara dan barat maka besar sudut arah kiblat (O) dapat dihitung dari titik barat ke Utara, atau dihitung dari titik utara ke barat setelah nilainya dikurangkan dari 90°, yaitu (90°- XOM).
5. Sudut arah kiblat XOM dicari dengan rumus tangent.

Tangen O = 24.75 / 74.77 = 0.331.

Sudut XOM = 18° 18′ 55.17″ atau 18.31 ° dari titik Barat ke Utara atau 71.69° dari titik Utara ke Barat.

Menentukan arah kiblat dengan sstem seperti sangat mudah dan sederhana untuk dipraktekkan di lapangan, namun hasilnya tidak akan mencapai ketelitian yang tinggi. Kelemahan sistem karena menerapkan konsep planar dengan menganggap bumi ini datar seperti hamparan atau dalam bentuk miniaturnya persis seperti peta dunia.

Perhitungan arah kiblat di Banjarmasin dengan konsep segitiga planar jika dibandingkan dengan perhitungan menggunakan segitiga bola penyimpangannya tidak boleh diabaikan, karena mencapai angka 4° 33′ 36.7″. Jika orang di Banjarmasin shalat dengan nilai deviasi sudut demikian maka akan terjadi penyimpangan jarak dari titik kiblat (ka’bah) sejauh 682.5 km. Jarak 682.5 km tersebut dari titik Kabah sudah keluar dari Tanah Haram, apalagi Kota Makkah lebih-lebih titik Kabah. Mengingat ketentuan tentang kewajiban shalat wajib menghadap Kiblat (kabah atau Masjidil haram atau tanah haram), maka konsep segitiga planar ini tidak gunakan untuk menghitung arah kiblat, kecuali untuk jarak yang sangat dekat dengan titik kiblat.

Oleh: ALIBORON | 5 November 2010

Ketelitian dan Ketidakpastian

Di dalam sains eksak seperti matematika yang diterapkan pada fisika, astronomi dan ilmu falak pengukuran merupakan hal yang penting di samping perhitungan.Yang diinginkan dari setiap pengukuran adalah tingkat ketelitian yang tinggi. Tetapi di dunia realitas hampir tidak ada pengukuran yang benar-benar tepat, selalu ada ketidakpastian yang berhubungan dengan setiap pengukuran. Selain faktor kesalahan masalah terpenting adalah keterbatasan untuk membaca satuan di luar batas bagian terkecil yang ditunjukkan oleh instrumen ukur.

Jika kita mengukur ketebalan sebuah buku memakai penggaris yang satuan terkecil pengukurannya adalah centimeter, hasilnya dapat dipastikan akurat sampai 0,1 cm (1 milimeter). Mengapa? karena 0,1 cm adalah bagian terkecil pada penggaris itu. Selebihnya sulit bagi kita untuk memastikan berapa nilai di antara garis pembagi terkecil itu. Penggaris itu sendiri tidak dibuat atau dikalibrasi untuk pengukuran dengan tingkat ketelitian yang lebih baik dari itu.

Dengan demikian selain menyertakan nilai yang pasti, penting juga bagi kita untuk menyatakan nilai ketidakpastian dalam pengukuran tersebut. Misalnya jika kita dapat menuliskan tebal sebuah buku dengan cara 7,5 ± 0,1 cm, itu diartikan bahwa angka pengukuran yang pasti itu adalah 7, sedangkan 0,5 ± 0,1 berarti angka ketidakpastiannya berkisar antara 0,4 dan 0,6. Dengan penulisan yang demikian artinya buku itu ketebalannya berkisar antara 7,4 dan 7,6 cm.

Selanjutnya kita dapat menghitung persen ketidakpastian yang nilainya merupakan perbandingan antara ketidakpastian  dengan nilai yang terukur dikalikan dengan 100.  Dalam contoh di atas nilai ketidakpastiannya adalah : 0,1/7,5 x 100 = 1.3 persen, berarti tingkat ketelitian dalam pengukuran ketebalan buku adalah 1.3 persen. Inilah yang disebut dengan tingkat akurasi atau angka ketepatan sekaligus menyatakan nilai ketidakpastian.

Di dalam pengukuran arah kiblat jika kita menggunakan instrumen busur derajat yang memiliki satuan ukur terkecil adalah 1°, sementara arah kiblat kota semarang adalah 65° 30′ 25″. Dengan instrument ini kita tidak mungkin melakukan pengukuran terhadap arah kiblat Kota Semarang dengan klaim tepat . Ada nilai ketidakpastian yang harus dinyatakan juga, yaitu 1°. Dengan cara yang sama bila kita mengukur arah kiblat Kota Semarang dengan busur derajat, dengan mengabaikan kemungkinan kesalahan teknis lainnya maka tingkat ketelitiannya adalah 1.52 persen.

Seringkali ketidakpastian suatu nilai terukur tidak dinyatakan eksplisit. Jika panjang benda dinyatakan 5,2 cm, ketidak pastiannya dianggap sebesar 0,1 atau 0,2 cm . Dalam hal seperti ini penting bagi kita  untuk tidak menulis 5,20 cm, karena hal ini menyatakan  ketidak pastian sebesar 0,01 cm; dianggap panjang benda tersebut mungkin adalah 5,19 dan 5,21 cm. Sementara kalo kita menulisnya 5,2 cm maka nilai ketidakpastiannya menjadi antara 5,1 dan 5,3.

Pada sebuah persegi panjang dengan ukuran 11,3 cm dan 6,8 cm maka luas persegi panjang tersebut adalah 76,84 cm2.  Tetapi jawaban ini jelas tidak akurat sampai 0.01 cm2, sebab hasilnya bisa antara 11,2 x 6,7 = 75,04 cm2 dan 11.4 x 6.9 = 78.66 cm2. Sebaik-baiknya, kita cukup menyatakan jawabannya adalah 77 cm2, yang menyatakan ketidak pastian sekitar 1 atau 2 cm2.

Mungkin selama ini kita berasumsi apapun yang dihasilkan dari perhitungan matematik adalah pasti. Dalam konsep iya, namun implemetasinya ke pengukuran adalah hal yang berbeda, kepastiannya sangat dimungkinkan tereduksi.

Di dalam sains eksakpun ada relativitas, demikianlah ilmu

Oleh: ALIBORON | 2 November 2010

Prediksi Idul Adha di Arab Saudi dan Indonesia

IDUL ADHA DI ARAB SAUDI.

GURU-GURUKU

GURU-GURUKU

Pada 29 Dzulqadah 1431 H dari kota Makkah ijtima (conjunction) akan terjadi 6 Nopember 2010 pukul 07.52. Matahari terbenam pukul 17:42:12 di azimut 253° 3′ 5.2″, bulan terbenam pukul 17:46:44 di azimut 247° 13′ 33.3″. Matahari lebih dahulu tenggelam 4 menit 32 detik. Saat matahari terbenam tinggi hilal 0° 32′ 45.4″. Di beberapa kota lainnya ketinggian bulan saat sunset: Jeddah 0° 33′ 20.1″, Madinah 0° 13′ 14.1″, Thaif 0° 33′ 6.9″, Tabuk -0° 7′ 8.8″, Riyadh 0° 1′ 53.2″. Berdasarkan kalkulasi (hisab) di atas hilal telah wujud, namun secara astronomi pada ketinggian di atas tidak mungkin dirukyah (dilihat). Mengingat Arab Saudi menggunakan metode rukyah, maka akan dilakukan istikmal, yaitu bulan Dzulqadah disempurnakan menjadi 30 hari dan 1 Dzulhijjah di Arab Saudi akan jatuh pada 8 Nopember 2010 M. Dengan demikian Idul Adha (10 Dzulhijjah 1431H) di Arab Saudi jatuh pada Rabu 17 Nopember 2010 M dan Wukuf di Arafah dilaksanakan 16 Nopember 2010. Insya Allah.

IDUL ADHA DI INDONESIA,

Di Indonesia Idul Adha 1431 H berpotensi kembar. Dari Kota Banjarmasin : Konjungsi (ijtima) akhir Dzulqa’dah 1431 H jatuh pada Sabtu 6 Nopember 2010 M pukul 12:52 WITA. Matahari tenggelam lebih awal dari bulan. Sun set 18:11 Wita, moon set 18:16 Wita, elongasi (sudut lengkung) matahari-bulan 4° 45´, azimut bulan saat sun set 249° 35´, tinggi hilal di Banjarmasin saat sun set 0° 38′ 24″. Ketinggian hilal rata-rata dari seluruh kota di Indonesia di bawah 2 °, belum memenuhi kreteria imkan a-Rukyah. Dalam kaitan penetapan awal Dzulhijjah 1431 H hilal berada dalam posisi kritis (antara 0° s.d 2°). Hilal telah wujud namun tidak mungkin dirukyah . Dengan demikian dapat diprediksikan bahwa Muhammadiyah dengan kreteria wujud al-Hilal akan menentapkan 1 Dzulhijjah pada 7 Nopember 2010 M dan beridul Adha Selasa 16 Nopember 2010 M, sementara NU dan Pemerintah menetapkan Idul Adha Rabu 17 Nopember 2010 M. Insya Allah.

Keterangan:

Pada tanggal 6 Nopember 2010 M,

Daerah merah: Mustahil hilal terlihat, Putih hilal tidak mungkin terlihat, Biru: perlu batuan sarana optik untuk terlihat, Pink: mungkin terlihat dengan bantuan alat optik, Kuning: Dapat terlihat dengan mata telanjang asalkan cuaca bagus. Hijau: Sangat mudah dilihat.

By:Akhmad Syaikhu

Dari beberapa dalil yang digunakan sebagai pedoman menentukan waktu shubuh dan magrib didapatkan kesimpulan, pertama, waktu magrib dimulai sejak matahari terbenam sampai hilangnya mega merah. Yang disebut matahari tenggelam untuk menandai awal magrib adalah jika piringan matahari bagian atas sudah berhimpit dengan ufuk mar’i (horizon tampak). Matahari yang sesungguhnya pada saat itu berada pada ketinggian 16 menit di atas ufuk hakiki.[1] Kedua, waktu shubuh adalah dimulai sejak terbit fajar shadiq. Diketahui bahwa fajar pagi ada dua macam, yaitu fajar kadzib dan fajar shadiq. Disebut fajar kadzib (arab: yang dusta), karena berkas terang yang muncul saat itu tidak menunjukkan datangnya waktu shalat shubuh sebenarnya. Penjelasan secara astronomi atas peristiwa tersebut disebabkan atmosfir bumi memantulan cahaya yang membentuk berkas terang yang memanjang di langir timur. Sedangkan fajar shadiq merupakan fenomena fajar sesungguhnya dengan sifat-sifat yang berbeda dari yang pertama, sinar fajar shadiq melebar dari ufuk timur ke arah utara dan selatan. Kondisi yang demikian terjadi apabila ketinggian matahari mencapai -20° di bawah ufuk timur[2] yang menandai awal waktu shubuh. Waktu subuh akan berakhir ketika ketinggia matahari mencapai -1° di bawah ufuk. Dengan demikian dapat dipahami fenomena yang dijadikan pertanda waktu shalat subuh dan magrib adalah posisi matahari, yaitu ketinggian -20° saat awal subuh, -1° saat terbit,  16′ di atas ufuk hakiki saat terbenam dan ketika 18° di bawah ufuk saat akhir magrib.

Terkait dengan fenomena ketinggian matahari saat subuh dan magrib, selain faktor pembiasan sinar oleh atmosfir yang mengakibatkan nilai ufuk (mar’i) tidak selalu 90 derajat dari titik zenit, melainkan rata-rata 89° 44′ juga dipengaruhi oleh posisi pengamat. Tulisan ini selanjutnya menguraikan pengaruh posisi ketinggian pengamat terhadap penentuan waktu subuh dan magrib.

Konsep Dasar

Jika kita menggunakan referensi koordinat topografik atau geoid, maka kondisi bumi tidak lagi digambarkan bulat seperti yang dipakai dalam referensi koordinat geografik. Sistem koordinat bumi tidak lagi dinyatakan dalam dua dimensi, melainkan tiga dimensi, yakni (x, y, dan z) dimana z adalah faktor ketinggian tempat.

Dalam perhitungan hisab awal bulan, ketinggian tempat dalam beberapa metode perhitungan sudah dimasukkan sebagai faktor koreksi, misalnya hisab dalam ephemeris yang digunakan oleh Departemen Agama dan software JAS (Jordanian Astronomical Society). Dalam Software JAS dapat diketahui memasukkan faktor koreksi ketinggian tempat karena memberikan pilihan atau opsi tentang ketinggian lokasi, sementara di Al-Mawaqit hingga versi yang terakhir belum dimasukkan faktor koreksi ketinggian dengan alasan tidak signifikan.

Referensi geoid memperlakukan permukaan bumi sesuai topografinya. Ada gunung, lembah curam dan dalam, hamparan datar luas, lautan dan sebagainya. Pada ketinggian tertentu akan memberi pengaruh yang tidak boleh di abaikan, terutama dalam konteks penentuan ketinggian matahari sebagai pedoman penentuan waktu shalat. Secara empirik, ketika kita ingin menyaksikan objek yang berada dalam posisi di horizon jauh, objek itu akan masih terlihat pada ketinggian tertentu, sementara dalam ketinggian 0 meter sudah tidak dapat diamati. Ini menunjukkan bahwa faktor ketinggian berpengaruh terhadap kenampakan suatu objek. Demikian pula jika objek itu adalah matahari, semakin tinggi suatu tempat pengamatan maka semakin lambat pula matahari terbenam.

Di dalam hisab penentuan awal bulan untuk mempertinggi nilai akurasi sudah dimasukkan faktor koreksi ketinggian tempat, harusnya demikian pula dalam penentuan waktu shalat, khususnya waktu subuh dan magrib, karena di waktu-waktu itulah kenampakan matahari akan dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Sayangnya buku-buku falak, baik yang bersumber dari sistem hisab klasik maupun yang modern, termasuk sistem hisab ephemeris yang digunakan sebagai standar oleh Kementerian Agama juga tidak mempertimbangkan koreksi ketinggian tempat ini. Beberapa buku memang ada menyebutkan pengaruh ketinggian tempat (DIP), tetapi dalam rumus-rumus dan aplikasi perhitungannya sama sekali tidak menggambarkan bahwa koreksi ketinggian menjadi elemen yang diperhitungkan. Jika alasannya adalah tidak signifikan, menurut penulis sangat relatif tergantung pada distingsi tempat-tempat yang dilakukan perhitungan.

Dalam tulisan ini saya ada keterbatasan karena belum menampilkan contoh lokasi yang memiliki dingtingsi perbedaan ketinggian yang relatif baik untuk menunjukkan signifikansi faktor DIP. Namun jika secara imajinatif, kita membayangkan ada suatu daerah dengan luas tertentu, dengan topografi yang ekstrim dimana ada dataran tinggi dan ada dataran rendah. Jika di daerah itu terdapat distingsi ketinggian berkisar hingga 600 m, maka di titik A dianggap yang terletak 0 m di atas permukaan laut dan di titik B terletak 600 m di atas permukaan laut sangat dimungkinkan terjadi perbedaan waktu di kedua tempat tersebut mencapai 4 menit. Padahal kedua daerah tersebut berada dalam wilayah kabupaten yang sama. Sementara jadwal shalat yang berlaku dalam satu wilayah kabupaten biasanya sama.

Untuk contoh, Kabupaten Tanah Laut yang terletak di daerah pinggiran pantai di Kalimantan Selatan, pada tanggal 31 Oktober 2010 dihitung dari ketinggian tempat 0 meter di atas permukaan laut waktu magrib di sana adalah 18:11:52 WITA. Sementara di daerah lainnya dengan ketinggian 400 meter jadwal magribnya adalah 18:15:04 WITA, dan pada ketinggian 1200 meter pukul 18:16:50 WITA. Dari perhitungan ini distingsi ketinggian 400 m menghasilkan selisih waktu magrib sebesar 3 menit 12 detik, sementara dibandingkan dengan ketinggian 1200 meter terdapat selisih waktu sebesar 4 menit 58 detik.

Dari hasil perhitungan seperti contoh di atas,  apabila jadwal yang dibuat tanpa memasukkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut, harusnya awal shalat untuk daerah dataran tinggi 400 meter dan 1200  meter di atas permukaan laut adalah 3 dan 5 menit sesudahnya, meskipun berada dalam satu wilayah Kabupaten.

Nilai 3 menit pada distingsi 500 meter apakah signifikan atau tidak, sangat tergantung konsep dan cara pandang. Disiplin Ilmu Falak hanya menyatakan jika ingin mendapatkan akurasi jadwal shalat yang lebih baik maka koreksi ketinggian tempat sudah semestinya dipertimbangkan.

Wallahu A’lamu.


[1] Diameter matahari besarnya rata-rata adalah 0° 32′ busur. Dengan demikian semi diameter matahari saat ghurub adalah ½ . 32 = 16 menit. Secara syar’i yang digunakan adalah ufuk mar’i, bukan ufuk hakiki. Dengan demikian kreteria sun set yang digunakan bukan dalam definisi astronomi yang menjadikan standar sunset adalah ketika titik pusat matahari berhimpit dengan horizon hakiki.

[2] Angka -20° di bawah horizon sebenarnya juga diperdebatkan. Di beberapa negara termasuk Indonesia dan Malaysia menggunakan standar ini, sementara masyarakat Muslim Amerika Utara, Arab Saudi,  Yordania, berbeda dengan nilai yang masing-masing variatif.

Untuk menghitung sudut arah dari satu titik ke titik lainnya pada suatu bidang yang berbentuk bola, secara teori adalah menggunakan konsep spherical triangle (segitiga bola), demikian juga untuk menentukan sudut arah kiblat dari suatu tempat ke kabah yang terletak di tengah-tengah Masjidil Haram. Menggunakan segitiga planar (segitiga pada bidang datar) tentu bukan pilihan yang tepat, karena akan memunculkan nilai deviasi signifikan, apalagi dihitung dari posisi Indonesia yang cukup jauh dari Kota Mekkah.

Tulisan ini memadukan konsep segitiga bola dan segitiga planar untuk metode penentuan arah kiblat. Di dalam penentuan arah kiblat ada dua faktor yang berpengaruh ketelitian arah, pertama faktor perhitungan dan kedua adalah pengukuran. Keduanya merupakan dua hal yang berbeda namun tidak bisa dipisahkan. Hasil perhitungan yang benar juga harus diikuti oleh pengukuran yang benar agar tidak menimbulkan penyimpangan arah. Perhitungan yang keliru dikuti oleh teknik pengukuran yang keliru, dapat mengakibatkan kesalahan arah semakin besar.

Di dalam tulisan ini, metode perhitungan sudut arah kiblat menggunakan konsep spherical triangels, sementara segitiga siku-siku digunakan sebagai instrument pengukuran. Cara ini menurut penulis sangat praktis dan mudah untuk digunakan. Yang perlu diperhatikan adalah instrumen ini sebaiknya tidak digunakan dalam radius wilayah yang luas agar tidak mempengaruhi ketelitian pengukuran. Disarankan maksimal 5 kilometer dari titik koordinat segitiga kiblat itu dibuat, arah kiblat tempat perlu dihitung dan dibuatkan kembali instrumen segitiga kiblatnya sesuai data koordinat yang baru.

Konsep Dasar Segitiga Bola

Pada segitiga bola diasumsikan ada tiga buah titik, dimana titik A terletak di lokasi yang akan dihitung arah kiblatnya, titik B, terletak di Ka’bah dan titik C, terletak di kutub Utara. Titik B dan titik C adalah dua titik yang tidak berubah, karena titik B tepat di Ka’bah dan titik C tepat di kutub utara. Sedangkan titik A senantiasa berubah tergantung pada tempat dimana yang dihitung arah kiblatnya. Perhitungan arah kiblat adalah suatu perhitungan untuk mengetahui berapa besar nilai sudut A, yakni sudut yang diapit oleh sisi b dan sisi c. Lihat gambar berikut:

Rumus dasar yang dipergunakan adalah :

sin a/sin A = sin b/sin B = sinc/sin C

rumus dasar tersebut dapat diturunkan menjadi rumus yang siap pakai, salah satunya adalah:

Cotan A = (cos lo. tan lm + sin lo. cos (bm-bo) / sin (bm-bo)

Contoh :

Jika Kota A terletak pada (02º 47′ LS, 115º 20′ T) dan Makkah (21º 25′ LU – 39º 50′ T). Dengan menggunakan rumus segitiga bola di atas kita dapat menentukan arah kiblat Kota A tersebut sebagai berikut:

Cotan A = (cos 02° 47′.tan 21° 25′+sin 02° 47′.cos(115º 20′-39º 50′)/cos(115º 20′-39º 50′).
Cotan A = 0,417217, maka A = 22° 38′ 48.22″.
Nilai 22° 38′ 48.22″ adalah arah kiblat kota A dihitung dari arah Barat ke Utara, atau jika dihitung dari utara ke Barat = 67° 21′ 11.78″.

Instrumen Pengukuran Arah Kiblat dengan Segitiga Siku-Siku

Setelah perhitungan dengan segitiga bola berhasil mendapatkan sudut arah kiblat, langkah selanjutnya adalah melakukan pengukuran. Ada banyak metode yang bisa digunakan untuk melakukan pengukuran. Metode pengukuran dengan segitiga siku-siku hanyalah salah satu instrument yang menurut penulis mudah dan praktis.

Segitiga siku-siku memiliki tiga sudut dan tiga sisi. Besaran sudut yang satu akan berpengaruh terhadap besaran sudut yang lain, sebagaimana besaran sisi yang satu akan mempengaruhi besaran pada sisi yang lain. Hubungan antara sisi-sisi dan sudut pada segitiga siku-siku dirumuskan sebagai berikut:

a2 = b 2 + c 2, Tan B= b / c ; sin A = b / a ; cos A = c / a .

Cara Membuat Segitiga Kiblat

Dari perhitungan di atas diketahui bahwa arah kibat kota A adalah 22° 38′ 48.22″ dari Barat ke Utara. Dengan demikian nilai sudut B pada segitiga adalah setara 22.6467 °. Misalkan panjang c kita tentukan 100 cm, maka nilai b dapat ditentukan dengan cara :

b = Tan 22.6467 ° . 100
b = 41.7216 centimeter.

Setelah nilai sudut dan sisi diketahui, langkah selanjutnya adalah membuat segitiga siku-siku dengan sudut B = 22.646°, panjang sisi b = 41.7216 cm dan panjang sisi c = 100 cm. Membuat segitiga kiblat hendaknya di atas kertas yang tebal (cartoon).  Titik C pada gambar segitiga di atas adalah lokasi yang dicari arah kiblatnya, sedangkan B adalah arah kiblat itu sendiri. Perlu diperhatikan, Vector CA harus diarahkan ke utara sejati, dengan demikian secara otomatis CB sudah mengarahkan kita ke kiblat. Praktis kan?

Oleh: ALIBORON | 27 Oktober 2010

Metode Penentuan Arah Kiblat

(MENGGUNAKAN TEODOLIT)
A. Persiapan

Untuk melakukan pengukuran arah kiblat suatu tempat atau kota dengan alat theodolit ada beberapa langkah yang akan dilakukan. Urutan langkah-langkah berikut menggambarkan tahapan yang dilakukan secara sistematia dan berurutan, yaitu: a) Menentukan kota yang akan diukur arah kiblatnya b) Menyiapkan data Lintang Tempat (P) dan Bujur Tempat (L). c).Melakukan perhitungan arah kiblat untuk tempat yang bersangkutan d) Data arah kiblat hendaklah diukur dari titik Utara ke Barat (U-B) e) Menyiapkan data astronomis pada hari atau tanggal pengukuran f) Membawa jam penunjuk waktu yang akurat dan g) Menyiapkan teodolit.

B. Pelaksanaan
Setelah segala sesuatu yang diperlukan seperti di atas sudah tersedia maka pengukuran arah kiblat dengan theodolit dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
TEODOLIT
a) Pasang theodolit pada penyangganya, b) Periksa waterpass yang ada padanya agar theodolit benar-benar datar c). Berilah tanda atau titik pada tempat berdirinya theodolit (misalnya T), d). Bidiklah matahari dengan theodolit, e) Kuncilah theodolit (dengan skrup horizontal clamp dikencangkan) agar tidak bergerak, f) Tekan tombol “0-Set” pada theodolit, agar angka pada layar (HA=Horisontal Angle) menunjukkan 0 (nol), g) Mencatat waktu ketika membidik matahari tersebut jam berapa (W). Akan lebih baik dan memudahkan perhitungan selanjutnya apabila pembidikan matahari dilakukan tepat jam. (misalnya 09.00 WIB), h. Mengkonversi waktu yang dipakai dengan GMT (misalnya WIB dikurangi 7 jam), i) Melacak nilai Deklinasi Matahari (d) pada waktu hasil konversi tersebut (GMT) dan nilai equation of time (e) saat Matahari berkulminasi (misalnya pada jam 5 GMT) dari Ephemeris, j) Menghitung waktu Meridian Pass (MP) pada hari itu k) Menghitung sudut waktu (to) i) Menghitung Azimuth Matahari (A0), m). Menentukan arah kiblat (AK) dengan theodolit, n) Bukalah kunci horizontal tadi (kendurkan skrup horizontal clamp), o) Putar theodolit sedemikian rupa hingga layar theodolit menampilkan angka senilai hasil perhitungan AK tersebut, p) Turunkan sasaran theodolit sampai menyentuh tanah pada jarak sekitar 5 meter dari theodolit. Kemudian berilah tanda atau titik pada sasaran itu (misalnya titik Q) q) Hubungkan antara titik sasaran (Q) tersebut dengan tempat berdirinya Theodolit (T) dengan garis lurus atau benang, r) Garis atau benang itulah arah kiblat untuk tempat tersebut.

Catatan:
Jika deklinasi matahari (d) positif (+) dan pembidikan dilakukan sebelum Matahari berkulminasi maka AK = 360-A0-Q; Jika deklinasi matahari (d) positif (+) dan pembidikan dilakukan sesudah Matahari berkulminasi maka AK =A0 -Q; Jika deklinasi matahari (d) negatif (-) dan pembidikan dilakukan sebelum Matahari berkulminasi maka AK = 360 -(180-A0) – Q; Jika deklinasi matahari (d) negatif (-) dan pembidikan dilakukan sesudah Matahari berkulminasi maka AK = 180-A0-Q.

C. Contoh Perhitungan Arah Kiblat Semarang

Kabah terletak pada koordinat 21° 25’ 25” (LU) dan 39° 49’ 39” (BT) dan Semarang terletak pada koordinat -07° (LS) dan 110° 24’ (BT). Langkah pertama adalah menentukan nilai a, b dan C sebagai berikut:
a = 90° – (-07°) = 97°
b = 90° – 21° 25’ 25” = 68° 34’ 35”
C = 110° 24’ – 39° 49’ 39” = 70° 34’ 21”
Selanjutnya lakukan perhitungan dengan rumus:

Cotan B = sin a cotan b : sin C – coa a cotan C

Cotan B= sin 97° x cotan 68° 34’ 35” : sin 70° 34’ 21” – Cos 97° x cotan 70° 34’ 21”, maka B = 65° 29’ 23.18”

Dari perhitungan yang telah dilakukan di atas, diketahui bahwa arah kiblat kota Semarang (Q) adalah 65° 29’ 23.18” dari titik Utara (sejati) ke arah Barat atau 24° 30’ 36.82” dari titik Barat ke arah Utara.

a. Pengukuran Arah Kiblat dengan Theodolit

Identifikasi Data yang Diketahui
a) Lokasi yang diukur : Semarang
b) Lintang Tempat (P) : -07° (LS)
c) Bujur Tempat (BT) : 110° 24’ (BT)
d) Arah Kiblat (Q) : 65° 29’ 23.18” (dari titik Utara ke Barat)
e) Tanggal Pengukuran : 8 Oktober 2010
f) Waktu Pembidikan (W) jam 14:30 WIB atau 07:30 GMT
g) Deklinasi Matahari (d ) jam 14:30 GMT:

Karena waktu pengukuran pada jam 14.30 WIB sementara dalam tabel ephemeris hanya mencantumkan interval deklinasi matahari perjam, maka untuk menentukan deklinasi jam 14.30 WIB harus dilakukan interpolasi sebagai berikut:
Jam 14 :00 WIB
= Jam 7 : 00 GMT = -5º 52 ‘ 11”
= Jam 8 : 00 GMT = -5º 53 ‘ 08” -
= 00º 0’ 57” x 0:30:00
= 00º 00’ 28.5”
Deklinasi Matahari = -5º 29 ‘ 15” – 00º 00’ 28.5” = -5º 29’ 43.5”
Catatan:
Rumus Interpolasi = A – (A-B) x C/1

h) Equation Of Time (e) jam 05 GMT = 00j 12m 21d

2) Mencari Meridian Pass (MP)

Rumus yang digunakan MP = ((105 – BT) : 15) + 12 – e
MP = ((105 – 110° 24’) : 15) + 12 – 00j 12m 21d
MP = 11° 26’ 03”

3) Mencari Sudut Waktu

Sudut Waktu dicari dengan rumus : (to) = (MP-W) x 15
to = (11°26’ 03” – 14j 30m) x 15
to = -45°59’ 15”

4) Mencari Azimuth (Ao)

Rumus yang digunakan adalah:
Cotg Ao = ((cos P. tan d. sin to (sin P. tan t0)]
Cotg Ao = (cos -07° x tan -5º 29’ 43.5”. sin-45°59’ 15” (sin -07°. tan -45° 59’ 15”)
A0 = 89° 08’ 18.61” (harga mutlak)

5) Mencari Arah Kiblat pada Theodolit

Karena deklinasi Matahari (d) negatif (-) dan pembidikan dilakukan setelah matahari berkulminasi maka :
AK = 180-A0-Q
= 180 – 89° 08’ 18.61” – 65° 29’ 23.18”
AK = 25° 22’ 18.21”
Selanjutnya putar teodolit hingga layar theodolit (HA) menampilkan angka 25°22’18.21”

6) Mencari Titik Utara Sejati

Mengingat waktu pembidikan sore hari (pukul 14.30 WIB) maka nilai untuk mencari utara sejati adalah:
US = 180 – 89° 51’ 41.39”
US = 90° 51’ 1.39”

Oleh: ALIBORON | 27 Oktober 2010

Menghitung Arah Kiblat

DENGAN SPHERICAL TRIGONOMETRY (1)

Perhitungan arah kiblat pada dasarnya adalah dimaksudkan untuk mengetahui di arah mana ka’bah di Makkah dilihat dari suatu tempat di permukaan bumi, sehingga orang yang sedang melaksanakan shalat berimpit dengan arah yang menuju ka’bah. Ada beberapa cara untuk mengetahui arah kiblat suatu tempat, pada tulisan ini akan digunakan perhitungan sederhana menggunakan rumus segitiga bola (spherical Trigonometri).
Untuk melakukan penghitungan arah kiblat di suatu tempat, diperlukan data-data yang akurat tentang lintang dan bujur. Lintang dan bujur merupakan dua elemen dalam sistem koordinat untuk menentukan posisi suatu tempat di atas permukaan bumi. Dengan mengetahui nilai keduanya maka arah dan posisi suatu tempat dapat ditentukan.
Lintang
Al-KhawarizmiDalam bahasa Inggris lintang disebut “latitute”, artinya: the angular distance between an imaginary line around a heavenly body parallel to its equator and the equator itself. Jadi lintang merupakan jarak sudut dari sebuah lingkaran besar (equator) ke lingkaran-lingkaran kecil yang sejajar. Dalam hal ini equator dapat juga disebut sebagai lintang dengan nilai 0 derajat. Equator membagi bumi menjadi dua belahan, yaitu belahan utara dan belahan selatan. Nilai lintang suatu tempat berkisar antara 0-90º, dihitung dari equator ke titik kutub baik utara atau selatan. Biasanya untuk daerah yang terletak di belahan bumi utara nilai lintangnya disimbolkan positif, sedangkan daerah selatan equator disimbolkan negatif.
Bujur
Bujur dalam istilah geografi dan astronomi disebut juga longitude. Bujur merupakan garis khayal pada lingkaran di atas permukaan bumi, ia menghubungkan kutub utara dan kutub selatan serta membentuk sudut tegak lurus karena perpotongannya dengan equator dan lintang. Bujur atau longitude dibagi menjadi dua, yaitu bujur barat dan bujur timur. Bujur nol derajat berdasarkan konvensi internasional ditetapkan di Kota Greenwich. Bujur diberikan berdasarkan pengukuran sudut yang berkisar dari 0° di Meridian Utama ke +180° arah timur dan −180° arah barat. Tidak seperti lintang yang memiliki ekuator sebagai posisi awal alami, bujur tidak memiliki posisi awal yang alami. Oleh karena itu, sebuah dasar meridian harus dipilih. Meskipun kartografer Britania Raya telah lama menggunakan meridian Observatorium Greenwich di London, referensi lainnya digunakan di tempat yang berbeda, termasuk Ferro, Roma, Kopenhagen, Yerusalem, Saint Petersburg, Pisa, Paris, Philadelphia, dan Washington, D.C.. Pada 1884, Konferensi Meridian Internasional mengadopsi meridian Greenwich sebagai Meridian utama universal atau titik nol bujur.
Bujur yang berada di sebelah barat Meridian utama diberi nama Bujur Barat (BB), demikian pula bujur di sebelah timur Meridian utama diberi nama Bujur Timur (BT). Bujur Barat dan Bujur TImur merupakan garis khayal yang menghubungkan titik Kutub Utara dengan Kutub Selatan bumi dan menyatakan besarnya sudut antara posisi bujur dengan garis Meridian. Garis Meridian sendiri adalah bujur 0 derajat.
Garis bujur umumnya digunakan sebagai penunjuk waktu. Bumi berotasi sekali dalam 24 jam. Perbedaan waktu satu jam sama dengan 360º/24 = 15º garis bujur. Satu derajat busur setara dengan empat menit waktu dan 15 derajat busur setara dengan waktu satu jam. Penentuan bujur ini memerlukan pengukuran waktu yang teliti. Jika waktu Greenwich diketahui, sipengamat dapat menentukan dengan tepat posisinya pada bujur timur atau barat.
Untuk mengetahui nilai lintang dan bujur suatu tempat di bumi dapat juga dengan melihat dalam tabel, buku-buku atau peta, monografi, almanak, table dan lain-lain.
Segitiga Bola
Untuk perhitungan arah Kiblat, ada 3 buah titik yang diperlukan, yaitu: titik A, terletak di lokasi yang akan dihitung arah kiblatnya, titik B, terletak di Ka’bah dan titik C, terletak di kutub Utara. Titik B dan titik C adalah dua titik yang tidak berubah, karena titik B tepat di Ka’bah dan titik C tepat di kutub utara. Sedangkan titik A senantiasa berubah tergantung pada tempat dimana yang dihitung arah kiblatnya.
Bila ketiga titik tersebut dihubungkan dengan garis lengkung, maka akan diperoleh segitiga bola ABC seperti di di bawah ini.

Dengan ini dapatlah diketahui bahwa yang dimaksud dengan perhitungan arah kiblat adalah suatu perhitungan untuk mengetahui berapa besar nilai sudut A, yakni sudut yang diapit oleh sisi b dan sisi c.
Pembuatan gambar segitiga bola seperti ini berguna untuk membantu menentukan nilai arah kiblat bagi suatu tempat (kota) dihitung dari suatu titik mataangin ke arah mataangin lainnya, misalnya dihitung dari titik Utara ke Barat (U-B).
Untuk perhitungan arah kiblat, hanya diperlukan koordinat geografis dari tempat yang akan diukur. Sedangkan koordinat Ka’bah (21° 25′ 24″ U, 39° 49′ 24″ T) dan Koordinat kutub Utara (90°U). Dengan demikian yang perlu ditentukan posisi/koordinatnya tinggal titik A yang akan dihitung arah kiblatnya.
Selanjutnya arah kiblat titik A dapat dihitung dengan rumus arah kiblat sebagai berikut:

Cotan A = (cos lo. tan lm + sin lo. cos (bm-bo) / sin (bm-bo)
dimana :
A= Arah kiblat suatu tempat, yaitu sudut antara arah ke Titik Kutub Utara dan arah ke Ka’bah; lo = lintang tempat; lm = lintang Kabah; bm = bujur makkah; bo= bujur tempat.
Contoh: Diketahui koordinat Kota Kandangan (02º 47′ LS, 115º 20′ T) dan Makkah (21º 25′ LU – 39º 50′ T). Dengan menggunakan rumus arah kiblat tersebut di atas kita menentukan arah kiblat Kota Kandangan sebagai berikut:

Cotan A = (cos lo. tan lm + sin lo. cos (bm-bo) / sin (bm-bo)

Cotan A = (cos 02° 47′ . tan 21° 25′ + sin 02° 47′ . cos (115º 20′ – 39º 50′) / cos (115º 20′ – 39º 50′).
Cotan A = 0,417217.
Nilai tersebut kemudian dijadikan derajat. Jika digunakan mesin hitung kalkulator misalnya type 4500PA caranya dengan menekan: shift tan ans exe shift °” maka akan didapat nilai 22.62672, selanjutnya tekan: shift °’ maka muncullah nilai 22° 38′ 48.22″, yang berarti arah kiblat Kota kandangan adalah 22° 38′ 48.22″ ditarik dari titik barat ke utara. Sedangkan dari Utara ke Barat adalah 67° 21′ 11.78″, atau azimuth kiblat Kandangan sebesar 292° 38′ 48.22″ ditarik dari titik Utara searah jarum jam.
Selanjutnya tinggal melakukan pengukuran, yang caranya insya Allah akan dijelaskan pada tulisan yang lain. Semoga bermanfaat.

Oleh: ALIBORON | 27 Oktober 2010

Ummat tak Perlu Bingung

Menanggapi pertanyaan dari salah satu rekan FB perihal Fatwa MUI dan pendapat Pak Andreas, ummat tak perlu bingung, sebab perihal arah kiblat sudah ada ilmu untuk menjelaskan dengan baik masalah tersebut. Saya mencoba menanggapi beberapa hal:

1. Perhitungan arah kiblat dengan ketelitian yang tinggi, salah satu syarat adalah koordinat lokasi dan koordinat Kabah (kiblat) harus di tentukan dengan tepat, semakin spesifik semakin baik. Perbedaan koordinat otomatis akan mempengaruhi hasil perhitungan. Menggeneralisir kiblat dari pulau Jawa 25° dari Barat ke Utara atau 65° dari titik Utara ke Barat atau dengan azimuth 295° masih merupakan hitungan kasar. Perhitungan arah kiblat lazimnya dengan rumus segitiga bola, dengan koordinat yg berbeda maka arah kiblat kota-kota di Jawa dan semua kota juga berbeda, misalnya Yogyakarta : 24° 42′ 47″, Surabaya :24° 02′ 40″, Trenggalek 24° 27′ 16″, Jakarta Selatan: 25° 10′ 52″. Jadi tidak menunjukkan angka 25° persis.

2. Perhitungan dengan rumus spherical trigonometri di atas sebenarnya bisa ditingkatkan lagi ketelitiannya dengan memperhitungkan faktor koreksi ellipsoid bumi. Dengan koreksi itu arah kiblat (B-U) Yogyakarta menjadi 24° 34′ 11″, Surabaya :23° 54′ 13″, Trenggalek 24° 18′ 48″, Jakarta Selatan : 25° 02′ 06″. Dari kedua metode perhitungan di atas untuk keempat kota terdapat selisih sekitar 00° 08′ 30″. Jarak Yogya-Kabah dengan rumus spherical trigonometry adalah : 8347.58 km, apabila dimasukkan faktor koreksi elllipsoid bumi menjadi 8341.49 km, selisihnya 6,090 km. Sedangkan selisih 00° 08′ 36″ busur dari Kota Yogyakarta akan menimbulkan kemelencengan jarak sejauh 20,88 km dari arah yang sebenarnya. Dr. Ing. Khafid, pembuat software Al-mawaqit berpendapat diperlukan ketelitian hingga ordo 3′ (menit) agar arah kiblat dari Indonesia tetap mengarah ke Kota Makkah. Memang dengan deviasi 3 menit busur jika dari Kota Jogyakarta sudah bergeser dari arah sebenarnya sejauh 7,29 km. Pernyatan Pa Heri Andreas, menyimpang 20° di pulau Jawa setara dengan bergeser 2.780 km mungkin menggunakan Spherical Trigonometry murni. Jika saya perhitungkan dengan faktor koreksi ellipsoid bumi pergeserannya malah lebih jauh, dihitung dari Yogyakarta setara dengan 2.913,85 km.

3.Apabila yang diinginkan presesi tingkat tinggi ya seperti itu. Namun saya sendiri tidaklah terlalu ‘saklek’ harus demikian. Tentu saja ada toleransi-toleransi dalam batas-batas tertentu. Bukankah Islam itu mudah? Secara fiqh pun terdapat keragaman pandangan dalam aspek ini (misalnya ada konsep ‘ain al-kabah dan jihah al-kabah). Menurut saya 1° kemelencengan masih bagus dan dapat ditoleransi, meskipun dihitung dari Yogyakarta menimbulkan deviasi sejauh 145.69 km dari arah sebenarnya. Memang lebih baik jika kemelencengan itu diupayakan hingga sekecil mungkin. Apalagi dalam konteks sekarang tidaklah memberatkan bagi umat krn ilmunya sudah ada. Sikap demikian sangat terkait dengan penghargaan kita terhadap ilmu pengetahuan sekaligus ikhtiar untuk meningkatkan kesempurnaan ibadah tentunya.

Oleh: ALIBORON | 26 Oktober 2010

Dirkursus Ulama tentang Jihah (Arah Kiblat)

Dasar Hukum

Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud kiblat adalah Ka’bah yang berada di Masjid al-Haram kota Mekah Saudi Arabia, sebagaimana ditegaskan dalam Firman Allah SWT surat Al-Baqarah (2): 143, 144, 149, dan 150:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلاَّ عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللهُ وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang Telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit[1] Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Dan dari mana saja kamu keluar (datang), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan dari mana saja kamu (keluar), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, Maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

Perintah menghadap ke arah kiblat ditegaskan kembali oleh Hadis Rosulullah saw riwayat Bukhari-Muslim dari Abu Hurair­ah r.a.:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ

“Apabila kamu hendak salat, maka sempurnakanlah berwudu, lalu menghadap kiblat, kemudian takbir (salat)”.

Kemudian penegasan bahwa yang dimaksud dengan kiblat itu Ka’bah diperoleh dari Hadis riwayat Bukhari-Muslim dari Ibnu Abbas r.a.:

لَمَّا دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيْتَ دَعَا فِي نَوَاحِيهِ كُلِّهَا وَلَمْ يُصَلِّ حَتَّى خَرَجَ مِنْهُ فَلَمَّا خَرَجَ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ فِي قِبَلِ الْكَعْبَةِ وَقَالَ هَذِهِ الْقِبْلَةُ *

“Ketika Nabi saw masuk ke dalam Baitullah, beliau ber­do’a  di setiap sudut-sudutnya dan tidak salat sehingga beliau keluar dari Baitullah, setelah keluar beliau salat dua raka’at dengan mengadap (di hadapan) Ka’bah, dan (Nabi saw) bersabda: ini adalah kiblat”.

Problematika dan Gagasan Fiqh

Syaikh Ahmad al-FalakyDari beberapa dalil Al-Qur’an dan Hadits di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa titik kiblat yang sesungguhnya dimaksudkan dalam syari’at Islam adalah ka’bah yang terletak di Masjid al-Haram. Problematika muncul ketika bagaimana jika tidak melihat ainul ka’bah karena tempat yang jauh dari kabah. Menjawab pertanyaan ini memunculkan keragaman dalam fiqh antara lain dikemukakan beberapa pendapat ulama, sebagai berikut:

أن الصحيح عندنا أن الواجب اصابة عين الكعبة وبه قال بعض المالكية ورواية عن أحمد وقال أبو حنيفة الواجب الجهة[2].

Sesungguhnya pendapat yang sahih menurut kami (Syafi’iyah), yang wajib adalah tepat mengarah fisik kabah. Demikian juga  menurut sebagian ‘Ulama Malikiyyah dan satu riwayat dari Imam Ahmad. Imam Abu Hanifah bahwa yang wajib adalah arah kabah.”

(ثم صلى إلى الجهة) أي لا إلى عين الكعبة. (تقليدا لابي حنيفة) أي في قوله بصحة الصلاة إلى جهة الكعبة[3]

(Lalu shalat menghadap arah kabah) maksudnya tidak ke arah fisik kabah. (Taqlid ke Abu Hanifah) maksudnya pada pendapatnya tentang sahnya shalat ke arah kabah.”

وَقَالَ فِي الْعَارِضَةِ : الْفَرْضُ فِي الِاسْتِقْبَالِ لِمَنْ عَايَنَ الْبَيْتَ عَيْنَهُ وَلِمَنْ غَابَ عَنْهُ نَحْوَهُ وَقَالَ بَعْضُ عُلَمَائِنَا : يَلْزَمُ طَلَبُ الْعَيْنِ وَهَذَا بَاطِلٌ قَطْعًا ، فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إلَيْهِ لِأَحَدٍ وَمَا لَا يُمْكِنُ لَا يَقَعُ بِهِ التَّكْلِيفُ وَإِنَّمَا الْمُمْكِنُ طَلَبُ الْجِهَةِ فَكُلُّ أَحَدٍ يَقْصِدُ قَصْدَهَا وَيَنْحُو نَحْوَهَا بِحَسَبِ مَا يَغْلِبُ عَلَى ظَنِّهِ إنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ قَلَّدَ أَهْلَ الِاجْتِهَادِ انْتَهَى[4] .

“Berkata dalam kitab al-‘Aridhah: Yang wajib dalam menghadap kiblat bagi orang yang dekat adalah menghadap kabah itu sendiri, namun bagi yang jauh cukup menghadap arahnya saja. Sebagian ‘ulama kita (Malikiyyah) berkata: “wajib menghadap fisik kabah” Namun ini batil secara pasti. Karena tiada jalan bagi seseorang untuk sampai kesitu. Dan tidak ada pembebanan (taklif) untuk sesuatu yang tidak mungkin. Yang mungkin hanyalah mencari arah kabah. Setiap orang menuju kesana, mengarah kearah sana sesuai dengan apa yang kuat menurut dzan-nya. Itu apabila ia termasuk ahli ijtihad, namun apabila ia tidak termasuk ahli ijtihad maka ia taqlid pada ahli ijtihad. Selesai.

Sementara itu Ibnu Ruysd dalam Bidayah al-Mujtahid, menulis sebagai berikut:

اتفق المسلمون على أن التوجه نحو البيت شرط من شروط صحة الصلاة لقوله تعالى: (ومن حيث خرجت فول وجهك شطر المسجد الحرام) أما إذا أبصر البيت، فالفرض عندهم هو التوجه إلى عين البيت، ولا خلاف في ذلك. وأما إذا غابت الكعبة عن الابصار، فاختلفوا من ذلك في موضعين.[5]

Dengan demikian Ibnu Rusyd berpendapat sama seperti kebanyakan Ulama, bahwa jika dimungkinkan menghadap bangunan kabah maka wajib menghadap bangunan kabah itu. Namun bila kabah itu tidak tampak, Ibnu Rusyd mengakui adanya perbedaan di antara ulama. Perbedaan ulama tersebut ia gambarkan sebagai berikut :

أحدهما: هل الفرض هو العين، أو الجهة؟ والثاني: هل فرضه الاصابة أو الاجتهاد: أعني إصابة الجهة، أو العين عند من أوجب العين، فذهب قوم إلى أن الفرض هو العين. وذهب آخرون إلى أنه الجهة.[6]

Ibnu Rusyd

Merujuk pada pendapat Ibnu Rusyd di atas terdapat dua permasalahan penting, pertama: kewajiban itu menyangkut menghadap bangunan kabah atau hanya cukup arahnya saja. Kedua, bagi orang yang berpandangan wajib mengarah ke bangunan kabah, masalahnya adalah harus persis tepat menghadap kiblat atau upaya semaksimal mungkin mengarah ke kiblat atau bangunan kabah.

Ibnu Rusyd sendiri menurut pendapat penulis memiliki kecenderungan hanya menghadap arah saja. Dalam Bidayah al-Mujtahid ia mengutip pendapat yang menyandarkan pada sebuah hadits berbunyi:

ما بين المشرق، والمغرب قبلة، إذا توجه نحو البيت[7]

“Di antara timur dan barat adalah kiblat. Jika seseorang menghadapnya, seperti menghadap al-bait (Kiblat).

Ibnu Rusyd memperkuat argumen dengan menggambarkan sebuah shaf yang panjang ketika shalat di luar daerah kabah yang keadaan demikian tentu akan menimbulkan masalah jika yang dimaksud jihah itu identik dengan bangunan kabah itu sendiri. Selanjutnya Ibnu Rusyd menyatakan:

فإن إصابة العين شئ لا يدرك إلا بتقريب وتسامح بطريق الهندسة، واستعمال الارصاد في ذلك، فكيف بغير ذلك من طرق الاجتهاد، ونحن لم نكلف الاجتهاد فيه بطريق الهندسة المبني على الارصاد المستنب منها طول البلاد، وعرضها.[8]

Ibnu Rusyd berpendapat bahwa untuk mengarah secara persis ke bangunan kabah sangat sulit kecuali dengan bantuan ilmu ukur dan menggunakan teropong, sementara kita (umat Islam) menurutnya tidak diperintahkan berijtihad  dalam hal menentukan arah kiblat tersebut dengan menggunakan ilmu ukur dan teropong sebagai alat untuk mengetahui posisi suatu tempat.

Sementara itu Ibnu Taymiyah dengan menyebutkan sebuah hadits yang artinya: “Masjidil Haram kiblat Makkah, Makkah kiblat tanah suci (sekelilingnya), dan tanah suci kiblat bumi” memahami bahwa kiblat begitu luas, terbentang dari Syria ke arah selatan, dari Nejed ke barat, dari Sudan ke timur, dan dari Yaman ke utara dan sebagainya. Beliau bahkan berpendapat bahwa penggunaan ilmu bumi matematis untuk menentukan arah kiblat adalah suatu bid’ah.[9]

Dari pernyataan demikian Ibnu Taimiyah termasuk ulama yang memiliki pandangan bahwa tidak dituntut  untuk mengetahui persis letak kiblat itu dengan pasti.

Dari beberapa pendapat di atas, cukup untuk merepresentasikan nuansa persamaan dan perbedaan dalam konsep arah kiblat. Secara umum ulama fiqih sepakat menyatakan bahwa kiblat orang yang melihat ka’bah adalah tepat menghadap ke bangunan ka’bah itu sendiri. Namun kiblat bagi orang yang tidak melihat ka’bah karena terpaut jarak yang cukup jauh misalnya, perbedaan pendapat di kalangan para fukaha dalam kasus ini cukup beragam. Berdasarkan beberapa pendapat di atas jumhur ulama kecuali fukaha mazhab Syafi’ie tidak wajib menghadap ka’bah melainkan cukup dikira-kira arahnya. Sedangkan fukaha mazhab Syafi’i tetap mewajibkan untuk menghadap tepat pada bangunan kabah sesuai dengan firman Allah:“…dan dimana saja kamu berada, palingkan wajahmu ke arahnya…”.

Penutup

Perbedaan pendapat dalam fiqh tentang arah kiblat berangkat dari masalah ketika Kabah tidak bisa dilihat langsung, saat kabah bisa disaksikan atau arahnya diyakini ulama sepakat hukumkan menghadap ain kabah adalah wajib. Apabila jaraknya jauh dan arah kiblat tidak bisa dipastikan maka sebagian ulama berpendapat cukup menghadap arahnya, kecuali Imam Syafi’i.[10] Alasan ulama “mazhab jihah” menghadap tepat ke ain (wujud) kabah itu sendiri adalah memberatkan umat Islam.

Dalam hal ini saya berpendapat, yang disebut arah adalah garis yang menghubungkan titik atau suatu tempat dengan kabah yang terletak di Masjidil Haram, bukan sudut yang melebar. Dengan demikian perlu usaha yang sungguh-sungguh agar arah yang dimaksud benar-benar ke titik kabah itu, atau sekitar masjidil haram. Jika ulama daApalagi dengan perkembangan hulu berpandangan ada faktor kesulitan, maka sekarang faktor kesulitan itu sudah dapat di atasi oleh ilmu pengetahuan khususnya matematika yang dapat menentukan suatu titik manapun di permukaan bumi dengan pressei yang sanagt baik.


[1]Maksudnya ialah Nabi Muhammad saw sering melihat ke langit berdo’a dan menunggu-nunggu turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah.

[2] Lihat  : Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Juz 3 h. 208.

[3] Lihat : I’anah al-Thalibin, Juz 4 h. 251

[4] Mawahib al-Jalil fi Syarh al-Mukhtashar Syaikh Kholil, dalam al-Maktabah al-Syamilah, al-Ishdar al-Tsâni, juz 4, h. 49, website: http://www.shamela.ws.

[5] Ibn al-Rusyd, Bidayat al-Mujtahid, Beirut: Dar Ibn ‘Ashashah, h. 213

[6] Ibid.

[7] Ibid. h. 214

[8] Ibid.

[9] Lihat Nurcholish Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992 h. 84

[10] Makna arah dalam konteks pembahasan ini perlu penjelasan, apakah garis yang menghubungkan titik sebuah tempat ke kabah atau yang disebut arah adalah sudut yang melebar dari suatu titik ke arah kabah. Penulis lebih cenderung pada pengertian yang pertama. Konsekuensinya ijtihad untuk menentukan arah kiblat harus dilakukan seteliti mungkin dengan menggunakan segenap kemampuan dan ilmu.

.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.