Oleh: ALIBORON | 24 Oktober 2010

Rukyah Hilal Menjelang 1 Syawal 1431 H

Rukyah (moon sighting) adalah usaha menyaksikan hilal (crescent moon) di ufuk langit sebelah barat sesaat setelah matahari terbenam menjelang awal bulan baru hijriyah. Menjelang Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah aktivitas rukyah biasanya mendapatkan perhatian khusus karena terkait dengan ibadah puasa, lebaran dan haji.

Untuk tahun ini, berdasarkan hasil hisab di seluruh Indonesia pada tanggal 29 Ramadhan 1431 H/8 September 2010 M hilal lebih awal terbenam dari matahari. Dari markaz observasi Banjarmasin (3.33°S-114.6°T) posisi hilal 3.64° di bawah ufuk sehingga disimpulkan  akan terjadi istikmal yaitu puasa Ramadhan berjumlah 30 hari dan 1 Syawal insya Allah jatuh pada hari Jumat 10 September 2010. Meskipun menurut perhitungan hisab demikian, NU dan BHR Kementerian Agama biasanya tetap melaksanakan rukyat untuk pembuktian empiris. Terlepas dari masalah metode penetapan awal bulan oleh ormas-ormas di Indonesia, rukyah memiliki nilai positif untuk mendekatkan ummat tertarik membaca langit. Ummat Islam sangat tertinggal dalam bidang astronomi, signifikansi aktivitas rukyah hilal bisa dijadikan pintu masuk untuk mempelajari objek astronomi yang lebih luas dan “tak berbatas”.

Perihal rukyah ini penulis pernah bertanya kepada seorang tokoh falak di Indonesia, berapa kali dia pernah melihat hilal. Dia menjawab belum pernah menyaksikan meskipun sering terlibat aktivitas rukyah. Sebagai ahli falak tentu saja pengetahuannya tentang objek benda langit dan posisinya tak perlu diragukan, tetapi tetap saja kesulitan dan seringkali gagal rukyah. Yang ingin penulis katakan adalah rukyah hilal bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi karena diyakini sebagai tuntutan syar’i maka aktivitas itu selalu dilakukan.

Di Indonesia tingkat keberhasilan observasi awal bulan atau rukyah masih rendah. Kita ambil contoh rukyah yang dilaksanakan untuk penetapan awal syawal 1430 H yang lalu. Dari sekian titik pengamatan di Indonesia, dilaporkan bahwa yang berhasil melihat hilal hanyalah dua tempat. Laporan hilal tersebut datang dari  tempat observasi Pelabuhan Ratu, Sukabumi Jawa Barat dan menara Mesjid Agung Jawa Tengah. Berdasarkan laporan dari kedua tempat inilah dan dikuatkan dengan hasil perhitungan hisab, pemerintah dalam hal ini Departemen Agama mengumumkan besoknya adalah tanggal 1 Syawal dan pertanda berakhirnya puasa.

Kesulitan rukyah dapat dipahami, karena bulan (hilal) adalah benda langit yang jaraknya cukup jauh dari bumi, jarak rata-ratanya mencapai 384.403 kilometer. Pada saat di ufuk barat dalam posisi terlihat, bulan hanya mengisi sudut sempit sekitar 2.5 derajat yang berarti sangat kecil mengisi sudut pandang mata manusia tanpa alat. Jika hilal dianggap mengisi sekitar 1,5 persen dari pandangan, maka pengaruh benda sekitar mengisi 98.5 persen, sangatlah besar.

Pada bulan baru, posisi hilal di atas ufuk hanya sebentar berkisar 15 menit sampai 1 jam, pada saat yang sama seringkali kondisi angkasa menghalangi pandangan mata. Di negara tropis dan basah seperti Indonesia, karena lembabnya permukaan lautan dan daratan di dekatnya, maka hasil penguapannya membentuk  awan rendah, padahal pada ketinggian rendah di sekitar ufuk hilal diharapkan dapat diamati. Ini merupakan kendala utama yang sering menyebabkan kegagalan para pengintip hilal.

Pada saat senja hari, ketika matahari sudah di bawah ufuk, cahayanya yang berwarna jingga atau kuning keemasan tampak sangat kuat dalam kecerlangan langit senja. Intensitas cahayanya tidak sebanding dengan hilal yang redup. Semakin dekat posisi hilal dengan matahari semakin sulit hilal di amati. Faktor elongasi (sudut lengkung) matahari-bulan juga sangat menentukan visibilitas hilal. Pada saat bulan baru, hilal umumnya hanya beberapa derajat di sebelah utara atau selatan sunset.

Masalah lainnya adalah polusi udara dari asap kendaraan, pabrik, kebakaran hutan, merupakan penghalang, di samping polusi cahaya dari penerangan listrik, lampu sorot, rumah-rumah kaca. Dulu ketika angkasa kita tidak dicemari oleh polusi udara dan cahaya, dengan mata telanjang kita masih dapat mengamati bintang-bintang di langit dengan jelas. Sekarang kondisinya sudah berbeda. Dalam keadaan yang seperti diuraikan di atas, perukyah yang berpengalaman saja akan menemui kesulitan, apalagi yang tidak berpengalaman kemungkinan gagal sangat besar. Yang menjadi masalah adalah jika terlibat faktor psikis pada diri perukyat, misalnya dalam disiplin psikologi disebut halusinasi, yakni ketika kondisi mental seseorang ingin sekali berjumpa atau menyaksikan sesuatu, ia begitu yakin sesuatu itu pasti ada, maka ketika melihat awan tipis atau objek lain selain hilal, dia yakini bahwa itu adalah hilal.

Kreteria fiqh tentang kesaksian hilal sangat sederhana, asalkan beriman dan jujur kesaksiannya sudah bisa diterima. Demikianlah yang terjadi pada masa Nabi. Tetapi yang tidak boleh dilupakan di zaman Nabi, hampir setiap orang tahu sifat-sifat hilal, karena mereka sehari-hari harus bernavigasi dengan melihat langit, sehingga bila ada orang Badui bersaksi  telah melihat hilal, Rasululullah pun mempercayainya dan menyatakan esok Ramadhan di mulai. Berbeda halnya dengan zaman sekarang, sudah jarang kita temukan orang yang mengenal langit, kecuali para astronom dan ahli falak yang cukup langka. Maklum, sekarang sudah ada jam, kompas, radio, GPS, satelit, oleh karena itu banyak yang tidak tahu sifat-sifat hilal.

Kesaksian hilal dewasa ini, tentu belum cukup hanya dengan sumpah perukyah. Kita boleh meragukan kesaksian rukyah sebelum ada data-data atau bukti yang dapat meyakinkan. Misalnya dengan melakukan konfirmasi kepada perukyah tentang posisi hilal terlihat, di mana letaknya, jam berapa teramati, di sebelah mana dari matahari, menghadap kemana. Kesaksian ini dicocokkan dengan data-data dari hasil hisab. Ini tidak harus dimaknai sebagai wacana mensubordinasikan rukyah atas hisab, tetapi bagian dari ketelitian menerima hasil rukyah yang terbuka kemungkinan keliru. Prinsip ini sejalan dengan perintah “puasa jika melihat hilal, dan berbuka jika melihat hilal”, oleh karena itu harus dipastikan bahwa yang dilihat adalah benar-benar hilal.

Dalam hal rukyah hilal, Arab Saudi termasuk sering kontroversial. Pada lebaran 1429 H. Arab Saudi menetapkan Idul Fitri jatuh pada tanggal 30 September 2008, padahal pada tanggal 29 (hari terjadinya ijtima) jika dicek dengan Software Accurate Times dari JAS (Jordanian Astronomical Society) yang dibuat oleh Muhammad Syaukat Audah, bulan lebih dahulu tenggelam di Kota Makkah. Hilal berada pada ketinggian -01.3 derajat. Dengan demikian secara astronomi mustahil hilal dapat terlihat, oleh karena itu puasa harus diistikmalkan menjadi 30 hari.

Menurut Thomas Djamaluddin, peneliti ahli matahari LAPAN, sangat sulit untuk mencari klarifikasi penentuan awal Ramadhan di negara-negara Arab. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah mengevaluasi dengan hisab yang akurat. Arab Saudi mengklaim mereka menentukan dengan rukyah, tanpa hisab, namun bagaimana prosedur pengamatannya mereka tidak terbuka. Rukyah yang baik seharusnya dipandu oleh hasil hisab yang akurat dan bahkan perlu ditunjang peralatan optik untuk mendukung secara teknis. Berdasarkan kasus-kasus demikian, apabila menurut hisab akurat hilal masih di bawah ufuk seperti pada tahun ini, pengakuan rukyah hilal harus ditolak.

Dewasa ini fiqh rukyah sudah lebih terbuka untuk mengizinkan penggunakan peralatan optik seperti teropong, dan kamera video. Dalam rukyah hilal 29 Ramadhan 1430 H yang lalu, dasar penetapan awal Ramadhan oleh Departemen Agama, salah satunya adalah dengan melihat kembali hasil rekaman video di titik hilal. Para perukyahnya dengan pengamatan mata langsung sebenarnya tidak sempat menyaksikan hilal. Setelah hasil rekaman diputar kembali, baru diketahui hilal benar-benar tampak. Secara hisab juga cocok, oleh karena itu tidak ada komplain atas citra dalam rekaman tersebut. Dalam sebuah forum beberapa waktu lalu, sempat ditanyakan status kesaksian rukyah melalui rekaman itu. Secara pribadi kami berpendapat boleh dengan beberapa catatan, sebab kamera, video, teropong, bahkan kacamata prinsipnya adalah sama sebagai alat pengumpul cahaya, yang berbeda hanya cara kerjanya.*

Akhmad Syaikhu

(Penulis :Ketua Forum Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak (FPPIF) Mahasiswa Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang, bekerja di IAIN Antasari Banjarmasin)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: