Oleh: ALIBORON | 25 Oktober 2010

Kontroversi Pemerintah Arab Saudi dalam Penetapan Awal Bulan dan Wukuf

Kerajaan Saudi Arabia (KSA) berulangkali membuat keputusan kontroversial berkaitan dengan penetapan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Klaim mereka atas keberhasilan melihat hilal sering tidak sesuai dengan fakta astronomi di lapangan. Sekedar contoh, pada kasus penetapan 1 Syawal 1425 H Pemerintah RI saat itu menetapkan 1 Syawal 1425 H bertepatan Ahad 14 Nopember 2004, sementara KSA bertepatan dengan Sabtu 13 Nopember 2004.

Analisis hilal berdasarkan hisab astronomi menunjukkan, dari titik observasi di Jakarta pada 12-10-2004 bulan terbenam lebih awal dari matahari (moon set 17 : 34 : 14 WIB ; sun set 17 : 48 : 23 WIB). Saat sun set posisi bulan -04° 01′ 57″ di bawah horizon dengan elongasi 3° 38′ 16.8″, sebuah kondisi yang mustahil bisa dirukyah dan faktanya memang tidak ada laporan kesaksian hilal dari seluruh pos pengamatan di Indonesia. Dengan demikian dilakukan penggenapan bulan menjadi 30 hari dan 1 Syawal jatuh Ahad 14 Nopember 2004.

Bagi KSA sendiri yang menjadi argumen adalah klaim mereka atas terlihatnya hilal pada tanggal 12 Nopember 2004, padahal dalam perhitungan astronomis pada hari itu bulan lebih dahulu terbenam dari matahari. Dari Masjidil Haram-Makkah (Moon set : 17:30:28 WAS (Waktu Arab Saudi), sun set : 17:39:30 WAS. Saat matahari terbenam hilal masih di bawah ufuk yaitu : -2° 44′ 33.7″ (di bawah horizon), konsekuensinya hilal mustahil dapat dilihat. Memang saat itu dari seluruh dunia, yang memungkinkan melihat hilal hanya wilayah lautan Pasifik saja.

Kasus lain adalah pada penentuan wukuf 1410 H yang diumumkan KSA jatuh pada tanggal 1 Juli 1990. Seharusnya jatuh pada tanggal 2 Juli 1990. Hasil hisab astronomis pada tanggal 22 Juni 1990/29 Dzulqadah 1410 H menunjukkan bahwa tinggi bulan di Makkah saat matahari terbenam adalah -2° 44′ 33.7″ (di bawah ufuk). 1 Dzulhijjah mestinya jatuh pada tanggal 24 Juni 1990 M dan wukuf semestinya dilaksanakan tanggal 2 Juli 1990.

Pada kasus penetapan Idul Adha 1419 H, hari wukuf di Arab Saudi telah diputuskan jatuh pada hari Jumat, 26 Maret 1999. Yang kebetulan berhaji saat itu tentu sangat bersyukur karena mendapatkan ibadah Haji akbar. Namun, keputusan itu sesungguhnya sangat kontroversial. Di Indonesia, sebagian besar mengikuti keputusan Pemerintah (Departeman Agama) dengan beridul adha 28 Maret 1999, sedangkan sebagian lainnya mengikuti Arab Saudi beridul adha 27 Maret.

Menurut hisab astronomis, pada 17 Maret 1999/29 Dzulqadah 1419 H, di Makkah matahari terbenam pukul 18:29:59 WIS dan bulan terbenam pukul 18:18:16 WIS. Bagaimana mungkin hilal terlihat saat sun set, padahal bulan lebih awal terbenam 11 menit 43 detik. Apalagi terjadinya ijtimak (konjungsi) pada pukul 21:48 waktu setempat. Mustahil akan terjadi hilal sebelum ijtimak.

WUKUF DI ARAFAHDi Indonesia, pada 17 Maret 1999 itu, moon set juga lebih awal daripada sun set. Di Banjarmasin, moon set terjadi pukul 18:15:46 WITA dan sun set pada pukul 18:15:46 WITA. Posisi bulan masih di bawah horizon (-4° 40′ 12″), dan dari seluruh wilayah di Indonesia hilal masih negatif dan mustahil terlihat. Dengan dasar itu Pemerintah RI (Depag) dan ormas-ormas Islam memutuskan 1 Dzulhijjah jatuh pada 19 Maret 1999 dan Idul Adha (10 Dzulhijjah) jatuh pada 28 Maret 1999.

Kami merasa perlu untuk menyampaikan ini karena penetapan awal bulan khususnya awal Dzulhijjah oleh negara Arab Saudi ini sangat penting dan menyangkut pelaksanaan ibadah haji ummat Islam dari seluruh dunia. Tentu kita tidak menginginkan ibadah wukuf dilaksanakan sebelum saatnya. Saya berharap analisis ini yang salah, dan keputusan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang benar. Tetapi fakta astronomi berbicara lain, dan keputusan Arab Saudi ini sudah seringkali mendapat kecaman dari kalangan astronom dan ahli falak di berbagai negara.

Wallahu A’lam.


Kategori

%d blogger menyukai ini: