Oleh: ALIBORON | 25 Oktober 2010

Penetapan Awal Bulan di Era Modern

Salah satu kewajiban umat Islam adalah berpuasa pada bulan Ramadhan. Untuk pelaksanaannya Rasulullah memberikan petunjuk antara lain dari hadits berikut :

إذا رأيتموه فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غم عليكم فاقدروا له

Sesuai dengan petunjuk tersebut, maka sejak masa Rasulullah sampai dengan sekarang ini kaum muslimin selalu berupaya mengetahui awal Ramadhan setiap kali akan memulai puasa Ramadhan dan berupaya mengetahui awal Syawal ketika akan mengakhiri puasa tersebut.

Pada mulanya upaya yang ditempuh mereka untuk mengetahui awal Ramadhan dan awal Syawal hanya dengan Ru’yat al hilal (melihat bulan baru dengan mata kepala). Namun setelah ilmu hisab berkembang di kalangan kaum muslimin, maka di antara mereka telah pula memanfaatkan ilmu tersebut untuk mengetahui awal Ramadhan dan awal Syawal. Dengan demikian, metode yang dipakai oleh kaum muslimin selama ini untuk mengetahui awal Ramadhan dan awal Syawal adalah dengan Rukyah dan hisab.

Perbedaan metode dalam menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawal telah menimbulkan kontroversi di kalangan kaum muslimin dalam memulai dan mengakhiri. Golongan yang menggunakan metode hisab lebih awal dalam mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan daripada golongan yang menggunakan metode rukyah, dan kadang-kadang golongan yang menggunakan metode rukyah lebih awal dalam memulai dan mengakhirinya daripada golongan yang menggunakan metode hisab. Bahkan, kontroversi tersebut tidak hanya terjadi antara golongan rukyah dan golongan hisab, tetapi sering pula terjadi di sesama kalangan yang menggunakan rukyah dan sesama kalangan yang menggunakan hisab. Berbagai kontroversi dan perbedaan tersebut telah menimbulkan beberapa ekses kurang bagus dalam perspektif persatuan dan kesatuan umat.
Mengingat hal tersebut, maka sudah selayaknya dicarikan cara penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal yang lebih akurat dan efektif untuk masa modern seperti sekarang ini sehingga perbedaan-perbedaan yang terjadi di kalangan kaum muslim dewasa ini dapat diperkecil.

Perspektif Fiqih tentang Penetapan Awal Ramadhan dan awal Syawal.
Sebagaimana diketahui ulama klasik maupun kontemporer berbeda pendapat tentang cara penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal. Meskipun demikian mayoritas berpegang kepada mazhab rukyat, yang berpendapat umumnya apabila hilal untuk awal Ramadhan tidak dapat dilihat, bulan Sya’ban harus disempurnakan 30 hari. Begitu pula apabila hilal untuk awal Syawal tidak dapat dilihat, puasa Ramadhan harus disempurnakan 30 hari. Alasan mereka berpendapat demikian antara lain hadits-hadits Rasulullah saw misalnya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di atas. Hanya sebagian fukaha salaf (klasik) yang berpendapat apabila hilal Ramadhan atau Syawal tidak dapat dilihat kaum muslim dapat merujuk kepada hisab yang didasarkan pada peredaran bulan dan matahari. Pendapat tersebut, antara lain telah dikemukakan oleh Mathraf ibn al-Syakir, seorang pakar fikih dari kalangan tabi’in. Dasar yang digunakan antara lain hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Umar bahwa Rasulullah saw telah bersabda :

صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته فإن غم عليكم فاقدروا له

Artinya :
“Berpuasalah kalian karena melihat melihatnya (bulan) dan berbukalah (pula) karena melihatnya. Karena itu, jika (hilal) itu tidak terlihat oleh kalian karena tertutup awan, kadarkanlah bulan itu”

Menurut golongan yang membenarkan hisab, yang dimaksud dengan lafaz فاقدروله (kadarkanlah bulan itu) dengan makna“hitunglah bulan yang lama itu (sya’ban atau Ramadhan). Sedangkan menurut golongan yang menolak hisab, maksudnya adalah genapkanlah bulan yang lama itu 30 hari.

Salah seorang ulama pendukung aliran hisab, Ahmad Muhammad Asakir berkomentar sebagai berikut :

لقد كان الأستاذ الأكبر الشيخ المراغي مند اكثر من عشرين سنين حين كان رئس المحكمة العلياء الشرعية رأى فى رد شهادة الشهود إذا كان الحساب يقطع بعد ما مكان الرؤية كالرأي الذي هنا عن تقى الدين السبكي وأثاروا به جد الأشديد أو كان والذي وكنت أنا وبعض إخواني ممن خالف الأستاذ الأكبر في رأية ولكن أصرح الان فأنه كان على صواب و أزيد عليه وجوب إثبات الأهله بالحساب فى كل الأخوال إلا لمن استعصى عليه العلم به

Sejak lebih daripada sepuluh tahun lalu, Guru Besar Syekh al-Maraghi yang waktu itu masih menjadi Ketua Mahkamah Tinggi Syar’iyyah menolak kesaksian orang-orang yang mengaku telah melihat hilal, karena para pakar hisab telah menegaskan bahwa hilal tidak mungkin dapat dilihat seperti pendapat Taqiyuddin al-Subki yang telah saya kutip di sini. Pendapat tersebut telah menimbulkan perdebatan yang sengit. Ayah saya, sendiri, dan beberapa orang sahabat saya pada mulanya juga termasuk orang-orang yang menentang pendapat Guru Besar tersebut. Namun, sekarang saya tegaskan di sini bahwa beliaulah yang benar. (Selain itu), perlu saya tambahkan lagi bahwa kita berkewajiban menetapkan hilal berdasarkan hisab dalam setiap keadaan, kecuali atas orang-orang yang menentang ilmu dan tidak memiliki ilmu tersebut”.


Metode Alternatif untuk Penetapan Awal Ramadhan dan awal Syawal di Era Modern

Para fukaha yang telah mengemukakan pendapat-pendapat di atas adalah tokoh-tokoh yang hidup pada abad-abad yang silam, yang pada waktu itu sains dan teknologi belum semaju dan secanggih sekarang. Karena itu tidak mengherankan jika mayoritas fukaha yang hidup pada abad-abad yang silam tersebut menolak pemanfaatan ilmu hisab untuk menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawal, apalagi para pakar hisab sendiri tidak selalu sepakat tentang hasil hisab yang telah mereka lakukan. Sekarang kaum muslimin hidup pada abad modern dan ilmu era ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan lagi hidup pada abad pertengahan. Pengalaman selama ini membuktikan bahwa dengan iptek, umat manusia sekarang sudah dapat meningkatkan akurasinya dalam memprediksi berbagai gejala alam yang akan terjadi, seperti akan munculnya gerhana bulan, gerhana matahari, dan komet Halley. Kalau dalam masalah yang sangat rumit, mereka sudah dapat memprakirakan dan memprediksinya sesuai dengan realitas, tentunya dalam masalah-masalah yang jauh lebih sederhana, seperti munculnya hilal (bulan baru), mereka akan lebih mudah lagi memprediksinya sesuai dengan realitas.

Mengingat berbagai keberhasilan yang telah dicapai melalui penggunaan iptek, maka sudah sepantasnya jika kaum muslimin sekarang, terutama yang termasuk dalam jajaran fukaha dan ulama memiliki pola pemikiran yang berwawasan iptek, atau setidaknya jangan berpikiran anti iptek. Di samping itu sudah sepantasnya pula mereka memanfaatkan ilmu astronomi dan ilmu hisab untuk mengetahui dan menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawal. Sebaliknya, tidaklah sepantasnya lagi jika mereka tidak mau memanfaatkan kedua ilmu itu untuk mengetahui awal Ramadhan dan awal Syawal. Bahkan, sikap yang seperti itu menurut Qalyubi merupakan suatu kesombongan. Seiring dengan penegasan dari Al-Qayubi tersebut, Ali Sayis jua mengatakan :

فأما علم النجوم الذي يعرف به سبر الكواكب والشمس والقمر وكذا لك علم الهيئة فلن يكذب به الشرع بل يهتدي به إلى معرفة السنين والشهور وأوقات الصيام والحج ومواقيت الصلاة فإن نكار هذا قصور وجهل, ولعل الذي حمل بعض العلماء على عدم التعويل على ما يقو له الحاسبو ن والمنجمون ماقد ماذا من إختلاف طرائفهم مما جعله يرجع هذا الإختلاف الى أن مقدمأتهم ظأنية غير يقيلية وأنهم يختئون ويغلطون كثيرا

Adapun ilmu pengetahuan dan juga astronomi yang berguna untuk mengetahui perjalanan bintang-bintang, matahari, dan bulan, tidak pernah didustakan syara. Bahkan (sebaliknya), dengan ilmu itu dapat diperoleh petunjuk untuk mengetahui tahun, bulan, dan waktu-waktu bagi perjalanan puasa, haji dan shalat. Karena itu, mengingkari hal itu merupakan suatu kepicikan dan kebodohan. Barangkali yang menyebabkan sementara ulama tidak merasa perlu terhadap informasi yang diberikan oleh para pakar hisab dan astronomi sebagaimana yang telah kami terangkan adalah adanya perbedaan cara-cara yang mereka tempuh, yang kemudian perbedaan-perbedaan tersebut menyebabkan premis-premis mereka bersifat zhanni, tidak meyakinkan, dan menyebabkan mereka sering membuat kekeliruan dan kesalahan”.

Adanya perbedaan pendapat di kalangan para pakar hisab dalam menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawal adalah hal yang wajar, apalagi bila hal itu terjadi pada abad-abad yang silam. Sebab, perkembangan iptek, astronomi dan ilmu hisab belum semaju dan secanggih sekarang ini. Selain itu, terjadinya perbedaan tersebut adalah karena perbedaan sistem hisab yang mereka pakai. Di Indonesia para pakar hisab dalam menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawal menggunakan dua macam sistem, yaitu hisab urfi dan hisab hakiki.

Hisab urfi (hisab yang biasa atau yang lazim) adalah sistem perhitungan awal bulan qamariah yang didasarkan pada rata-rata peredaran bulan dan bumi mengelilingi matahari, tetapi tanpa memperhitungkan lagi posisi bulan pada waktu terbit, terbenam dan sebagainya. Sistem itu disebut urfi karena cara perhitungannya menganut sistem yang didasarkan pada kelaziman umur tahun qamariyah (hijriyah). Berbeda dengan sistem hisab urfi, maka sistem hisab hakiki memperhitungkan posisi hilal atau saat ijtima (konjungsi). Dalam sistem hisab hakiki terdapat beberapa cara untuk menetapkan awal bulan qamariyah. Di antara cara yang dipegang adalah sistem ijtima sebelum matahari terbenam atau sebelum fajar, wujud hilal di atas ufuk hakiki, wujud hilal di atas ufuk mar’i, dan imkan rukyah (batas kemungkinan hilal dapat dirukyah). Di samping itu, sistem perhitungan yang dipergunakan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu taqribi dan tahkiki.

Sistem hisab taqribi adalah sistem penetapan awal bulan yang disadarkan pada waktu terjadinya ijtima dan ketinggian secara sederhana dengan menggunakan rata-rata ijtima pada satu tahun qamariyah yang ditinjau, kemudian dilakukan koreksi untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Sistem ini menggunakan data yang bersumber dari ahli astronomi zaman Ulugh Bek (w. 854 M). Hal ini tidak mengherankan karena sistem hisab taqribi secara fisik menggunakan ilmu astronomi dari Ptolemaeus yang menganut prinsip geosentrisme yang sudah ditumbangkan oleh Galileo Galilie yang hidup pada abad ke-16 M. Adapun sistem hisab tahkiki adalah siste penetapan awal bulan qamariyah yang didasarkan pada perhitungan ketinggian hilal dengan memperhatikan posisi pengamat hilal, deklinasi bulan dan matahari, bahkan juga memperhatikan pengaruh refraksi atau pembiasan sinar di atmosfir, paralak atau beda lihat, dip atau kerendahan ufuk, dan semi diameter atau jari-jari bulan. Selain itu berbeda dengan sistem hisab taqribi yang hanya menggunakan ilmu astronomi klasik yang menganut geosentrisme dari Ptolemaeus dan hitungan sederhana yang hanya penambahan, pengurangan, dan perkalian yang dapat dilakukan tanpa mesin hitung, sistem hisab tahkiki sudah menggunakan ilmu astronomi modern yang menganut prinsip heliosentrisme dari Nicholas Copernicus dan menggunakan rumus-rumus Spherical Trigonometri, yakni ilmu ukur segitiga bola.

Dari perbedaan antara kedua sistem tersebut dapat diketahui bahwa cara perhitungan menurut sistem hisab tahkiki lebih rumit dan lebih teliti daripada perhitungan menurut sistem hisab taqribi, namun hasil yang diperoleh menurut sistem hisab tahkiki tentu saja lebih akurat daripada hasil yang diperoleh menurut sistem hisab taqribi.

Mengingat kelebihan yang terdapat pada cara perhitungan menurut sistem hisab tahkiki tersebut, maka sudah sepantasnya, perhitungan menurut sistem hisab tahkiki itulah yang digunakan dalam menghitung dan menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawal. Namun, realitas yang terdapat di Indonesia membuktikan, tidak semua pakar hisab dan ulama menggunakan sistem hisab tahkiki tersebut. Pada dasarnya para pakar hisab dan ulama dari kalangan Nahdlatul Ulama dan Pesantren tidak menggunakan sistem hisab tahkiki, tetapi menggunakan sistem hisab taqribi dalam menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawal. Para ahli hisab dan para ulama yang menggunakan sistem hisab tahkiki pada umumnya dari kalangan Muhammadiyah, IAIN, beberapa pesantren tertentu, dan lembaga-lembaga astronomi, seperti Planetarium, Badan Meteorologi da Geofisika, dan Observatorium Bosscha ITB Bandung.

Melihat beberapa realitas di atas, maka menurut penulis cara yang terbaik untuk penetap-an awal Ramadhan dan awal Syawal pada masa modern ini adalah sebagai berikut:

Pertama, semua pakar hisab di Indonesia terlebih dahulu harus menyepakati sistem hisab mana yang akan digunakan untuk mengetahui wujud dan belum wujudnya hilal di atas ufuk. Selama sistem yang digunakan itu belum mereka sepakati, maka selama itu pula perbedaan pendapat tentang penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal ada kemungkinan akan selalu terjadi di kalangan mereka. Oleh karena kaum muslimin sekarang ini hidup pada masa modern dan era iptek sudah seyogyanya sistem hisab yang digunakan untuk menetapkan atau setidak-tidaknya melacak wujud dan belum wujudnya hilal di atas ufuk adalah sistem hisab tahkiki yang menggunakan ilmu astronomi modern, bukan dengan sistem hisab taqribi yang menggunakan ilmu astronomi klasik yang sudah ketinggalan zaman, apalagi kalau menggunakan hisab sistem urfi yang biasa digunakan untuk penyusunan kalender.

Kedua, apabila sudah disepakati waktu akan wujudnya hilal setelah dilakukan perhitungan yang cermat menurut sistem tahkiki, perlu dilakukan rukyah hilal sebagaimana mestinya dengan menjadikan sistem hisab tahkiki tersebut sebagai pemandunya.

Ketiga, apabila setelah dilakukan rukyah hilal, ternyata hilal tidak terlihat, baik karena terhalang oleh awan, mendung, polusi udara, maupun hal-hal lain, maka berlakukan imkan al-rukyah yang standar kreterianya telah disepakati. Bila ketinggian bulan sudah mencapai titik kreteria meskipun hilalnya tidak terlihat Ramadhan sudah dapat dimulai atau diakhiri berdasarkan hasil perhitungan hisab tahkiki dan tidak perlu lagi menyempurnakan bulan sya’ban atau bulan Ramadhan masing-masing 30 hari sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits. Pengalaman negeri jiran Malaysia dapat dijadikan pelajaran, karena memaksakan rukyat padahal hilal sudah tinggi. Implikasinya pada saat memulai awal Syawal yang pada saat itu hilal sudah kelihatan, mereka masih berpuasa 28 hari.

Keempat, apabila hasil rukyah yang berlawanan dengan hasil perhitungan hisab yang qath’i atau tahkiki, yang dijadikan pegangan adalah hasil hisab yang qath’i, bukan hasil rukyah meskipun orang yang telah berhasil melakukannya adalah orang yang adil atau terpercaya dan langit pada waktu itu sedang cerah tidak mendung. Alasan-alasan yang dapat dikemukakan untuk hal itu adalah: (1) kemungkinan adanya kekeliruan dalam perhitungan dengan hisab qath’i seperti yang telah dikemukakan hanya seperseribu . (2) kemungkinan adanya kekeliruan dalam rukyah cukup besar, mengingat melakukan rukyah dengan mata telanjang bukanlah pekerjaan yang lebih mudah daripada melakukan hisab. Berhasil tidaknya rukyah dalam praktik tidak hanya tergantung pada kondisi ufuk sebelah barat, tempat orang yang melakukan rukyah, dan posisi hilal, tetapi juga ada faktor-faktor lain, termasuk kejelian dan ketajaman mata orang yang melakukannya dan jauhnya dari halusinasi yang dapat membentuk kesan bahwa ia telah melihatnya. Halusinasi tersebut bisa terjadi, karena sugesti atau outosugesti yang disebabkan karena keinginan untuk melihat. Apalagi hilal yang akan dirukyah itu bentuknya sangat tipis sekalidan rupanya mirip dengan awan yang menjadi latar belakangnya, kemudian ditambah lagi waktu untuk dapat melihatnya singkat sekali, yang kadang-kadang tidak hanya beberapa menit, tetapi hanya beberapa detik, maka kekeliruan dalam merukyah sangat mungkin terjadi, dikira hilal, padahal hanyalah awan tipis yang menyerupai bentuk hilal.

Kelima, agar hasil rukyah dapat memberikan kepastian dan keyakinan sudah sepatutnya pelaksanaan rukyah pada masa sekarang ini menggunakan teknologi rukyah yang tidak hanya mampu memperjelas dan memperbesar hilal, tetapi juga dapat merekamnya sehingga kesaksian melihat hilal tersebut tidak hanya dilakukan oleh seseorang atau dua orang, tetapi juga dapat dilakukan oleh berjuta-juta orang. Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan merukyah dengan menggunakan alat, dalam praktik selama ini para petugas dan para ulama yang telah disumpah untuk melaksanakan rukyah, sudah menggunakan alat bantu, seperti teropong, teleskop, dan kiyker. Apabila ternyata dengan menggunakan teknologi rukyah tersebut tetap tidak terlihat hilal, kemudian ada orang yang menyatakan telah melihat hilal dengan mata telanjang, pernyataan orang itu tidak dapat diterima.

Keenam, apabila menurut hisab yang qath’i (yang menggunakan hisab tahkiki) hilal sudah di atas ufuk, namun tidak ada laporan yang menyatakan bahwa hilal telah dilihat, awal Ramadhan dan awal Syawal dapat ditetapkan berdasarkan hasil hisab tersebut. Pemanfaatan hasil hisab yang qath’i untuk penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal sebenarnya tidak berbeda dengan penetapan waktu-waktu shalat. Kalau para ulama telah membolehkan kaum muslim merujuk kepada perhitungan ulama hisab atau ulama falak di dalam menetapkan waktu-waktu salat untuk setiap harinya serta waktu terbit dan terbenamnya matahari, sudah selayaknya pula mereka membolehkan kaum muslimin merujuk kepada hasil perhitungan ulama hisab yang qath’i dalam menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawal.

Ketujuh, penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal itu harus di bawah koordinasi dan diputuskan oleh menteri Agama (Departemen Agama) setelah melalui tahapan-tahapan penetapan di atas dan berkonsultasi dengan pihak-pihak terkait.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: