Oleh: ALIBORON | 25 Oktober 2010

Spherical Triangel dan Koreksi Ellipsoid

Salah satu metode untuk melakukan perhitungan arah kiblat yang lazim digunakan adalah pendekatan spherical trigonometry atau segitiga bola. Dalam konsep ini untuk memudahkan perhitungan permukaan fisik bumi diasumsikan seperti sebuah bola yang bundar, meskipun pada dasarnya permukaan fisik bumi sangat tidak teratur dan bukan berbentuk bola. Permukaan yang tidak teratur ini akan menyulitkan bila dijadikan basis perhitungan matematis, oleh karena itu para ahli cenderung memperlakukan bumi dianggap bola untuk model pendekatan.

Sebuah model pendekatan tidaklah otomatis menggambarkan kondisi sesungguhnya, Sebab dalam faktanya jari-jari bumi tidak sama panjang dihitung dari pusat bumi kepermukaannya. Garis yang menghubungan lingkaran equator jika ditarik melalui titik pusat bumi (sumbu axis mayor) lebih panjang daripada garis yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan bumi (sumbu axis minor). Ini disebabkan bentuk bumi yang pepat pada bagian kedua kutubnya dan berbentuk ellips.

Kenyataan ini menimbulkan sebuah persoalan secara teoritik, bagaimana kita melakukan perhitungan menggunakan kaidah-kaidah segitiga bola pada sebuah objek yang sesungguhnya tidak menyerupai bola. Berbagai kalangan dari ahli falak cenderung mengabaikan fakta ini karena dianggap tidak berpengaruh atau jika berpengaruh dianggap tidak cukup signifikan. Maka dapat dipahami jika hampir seluruh literatur falak yang membahas tentang arah kiblat tidak ada yang memasukkan faktor ellipsoid bumi ke dalam basis perhitungannya.

Secara teori faktor koreksi ellipsoid diperlukan agar hasil perhitungan mencapai tingkat akurasi yang lebih baik dan secara teoritik lebih dapat dipertanggungjawabkan. Dengan koreksi ellipsoid ini, maka sistem koordinat geografik yang mengasumsikan bumi sebagai objek berbentuk bola digantikan dengan sistem koordinat ellipsoid dengan asumsi bahwa bumi adalah berbentuk ellips.

Untuk perbandingan, Banjarmasin yang terletak pada koordinat  3.333° LS dab 114.6 BT° apabila arah kiblatnya dihitung dengan rumus segitiga bola murni arah kiblatnya adalah  67° 07′ 53″ UB dan jarak dari Banjarmasin ke Kabah sejauh 8576,3 kilometer. Apabila rumus tersebut diterapkan dengan faktor koreksi ellipsoid bumi maka arah kiblat Banjarmasin adalah 67° 16′ 07″ UB dan jarak dari Banjarmasin ke Kabah menjadi 8573.15 kilometer. Terdapat selisih sudut sebesar 00° 08′ 13.28″  dan jarak sejauh 3, 185 kilometer. Pengaruh selisih sudut sebesar 8 menit 13.28 detik tersebut di hitung ke dalam jarak simpang dari titik Kabah, maka terdapat deviasi arah sejauh 20.50 kilometer atau apabila terjadi kemelencengan sebesar 1° busur, maka deviasinya sejauh 149.6852 kilometer. Mengingat pengaruhnya sangat signifikan, maka sebaiknya perhitungan arah kiblat memasukkan faktor koreksi ellipsoid bumi untuk mendapatkan presisi arah yang lebih tinggi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: