Oleh: ALIBORON | 27 Oktober 2010

Ummat tak Perlu Bingung

Menanggapi pertanyaan dari salah satu rekan FB perihal Fatwa MUI dan pendapat Pak Andreas, ummat tak perlu bingung, sebab perihal arah kiblat sudah ada ilmu untuk menjelaskan dengan baik masalah tersebut. Saya mencoba menanggapi beberapa hal:

1. Perhitungan arah kiblat dengan ketelitian yang tinggi, salah satu syarat adalah koordinat lokasi dan koordinat Kabah (kiblat) harus di tentukan dengan tepat, semakin spesifik semakin baik. Perbedaan koordinat otomatis akan mempengaruhi hasil perhitungan. Menggeneralisir kiblat dari pulau Jawa 25° dari Barat ke Utara atau 65° dari titik Utara ke Barat atau dengan azimuth 295° masih merupakan hitungan kasar. Perhitungan arah kiblat lazimnya dengan rumus segitiga bola, dengan koordinat yg berbeda maka arah kiblat kota-kota di Jawa dan semua kota juga berbeda, misalnya Yogyakarta : 24° 42′ 47″, Surabaya :24° 02′ 40″, Trenggalek 24° 27′ 16″, Jakarta Selatan: 25° 10′ 52″. Jadi tidak menunjukkan angka 25° persis.

2. Perhitungan dengan rumus spherical trigonometri di atas sebenarnya bisa ditingkatkan lagi ketelitiannya dengan memperhitungkan faktor koreksi ellipsoid bumi. Dengan koreksi itu arah kiblat (B-U) Yogyakarta menjadi 24° 34′ 11″, Surabaya :23° 54′ 13″, Trenggalek 24° 18′ 48″, Jakarta Selatan : 25° 02′ 06″. Dari kedua metode perhitungan di atas untuk keempat kota terdapat selisih sekitar 00° 08′ 30″. Jarak Yogya-Kabah dengan rumus spherical trigonometry adalah : 8347.58 km, apabila dimasukkan faktor koreksi elllipsoid bumi menjadi 8341.49 km, selisihnya 6,090 km. Sedangkan selisih 00° 08′ 36″ busur dari Kota Yogyakarta akan menimbulkan kemelencengan jarak sejauh 20,88 km dari arah yang sebenarnya. Dr. Ing. Khafid, pembuat software Al-mawaqit berpendapat diperlukan ketelitian hingga ordo 3′ (menit) agar arah kiblat dari Indonesia tetap mengarah ke Kota Makkah. Memang dengan deviasi 3 menit busur jika dari Kota Jogyakarta sudah bergeser dari arah sebenarnya sejauh 7,29 km. Pernyatan Pa Heri Andreas, menyimpang 20° di pulau Jawa setara dengan bergeser 2.780 km mungkin menggunakan Spherical Trigonometry murni. Jika saya perhitungkan dengan faktor koreksi ellipsoid bumi pergeserannya malah lebih jauh, dihitung dari Yogyakarta setara dengan 2.913,85 km.

3.Apabila yang diinginkan presesi tingkat tinggi ya seperti itu. Namun saya sendiri tidaklah terlalu ‘saklek’ harus demikian. Tentu saja ada toleransi-toleransi dalam batas-batas tertentu. Bukankah Islam itu mudah? Secara fiqh pun terdapat keragaman pandangan dalam aspek ini (misalnya ada konsep ‘ain al-kabah dan jihah al-kabah). Menurut saya 1° kemelencengan masih bagus dan dapat ditoleransi, meskipun dihitung dari Yogyakarta menimbulkan deviasi sejauh 145.69 km dari arah sebenarnya. Memang lebih baik jika kemelencengan itu diupayakan hingga sekecil mungkin. Apalagi dalam konteks sekarang tidaklah memberatkan bagi umat krn ilmunya sudah ada. Sikap demikian sangat terkait dengan penghargaan kita terhadap ilmu pengetahuan sekaligus ikhtiar untuk meningkatkan kesempurnaan ibadah tentunya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: