Oleh: ALIBORON | 29 November 2010

Memahami Metode Muhammadiyah dalam Penentuan Awal Bulan

Di masyarakat awam selalu muncul pertanyaan mengapa terjadi perbedaan antara ormas-ormas dan pemerintah dalam menentukan momen-momen tertentu seperti penentuan awal Ramadhan, syawal dan Idul Adha. Untuk memberikan informasi singkat di ruang publik ini (FB) kali ini mengangkat topik: Memahami Metode Muhammadiyah dalam Penentuan Awal Bulan.

Dalam penentuan awal bulan Hijriyah, sebagaimana dituangkan dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah bahwa berpuasa dan Idul Fitri itu dengan rukyah yang tidak berhalangan (baca:tidak bertentangan) dengan hisab. Prinsip tersebut adalah hasil dari keputusan musyawarah Tarjih tanggal 1-7 Mei 1932 di Makassar. Dalam Himpunan Putusan Tarjih dijelaskan “apabila ahli hisab menetapkan bahwa bulan belum tampak atau sudah wujud tetapi tidak kelihatan, padahal kenyataanya ada orang yang melihat pada malam itu juga, manakah yang mu’tabar? majelis Tarjih memutuskan bahwa rukyahlah yang mu’tabar”. Dari keputusan itu Muhammadiyah secara implisit mengakui rukyah dan hisab. Di dalam Munas Tarjih ke-25 tanggal 5-7 Juli 2000 di Jakarta komisi yang  membahas penentuan awal bulan Qamariyah dan matla menghasilkan suatu keputusan bahwa kedudukan hisab sama dengan rukyah. (Lihat putusan Munas tarjih ke-25).Meskipun demikian dalam praktek, Muhammadiyah tidak pernah memakai rukyah dengan mata telanjang dalam penentuan awal bulan karena bagi Muhammadiyah hal demikian menyulitkan sedangkan agama itu tidaklah sempit. Atas dasar pandangan demikian bagi Muhammadiyah hisab dapat digunakan dalam penentuan awal bulan Qamariyah”, karena hisab juga merupakan interpretasi pemaknaan rukyah, yakni ru’yah bi’l ‘ilmi.

Djarnawi Hadikusuma seorang ahli falak Muhammadiyah menjelaskan:“…kelihatan atau tidak, apabila hilal sudah wujud pasti saat itu sudah masuk tanggal satu bulan baru. Sah wujudnya suatu benda adalah tidak disyaratkan mungkin untuk dilihat oleh mata. Banyak hal-hal yang ternyata ada atau wujud, namun tidak dilihat oleh mata atau dirasa oleh indera manusia. Dan ini sejalan dengan ilmu tauhid. Apalagi hilal adalah benda yang kongrit, bukan abstrak. Tidak kelihatannya hilal yang sudah wujud, tidaklah menganulir wujudnya hilal itu.”Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa hisab wujudul hilal Muhammadiyah bukan untuk menentukan atau memperkirakan visibilitas hilal, tetapi menjadi dasar penetapan awal bulan dan sekaligus dijadikan bukti masuk atau tidaknya awal bulan.Kreteria wujudul hilal Muhammadiyah ini sebenarnya menengahi sistem ijtima’ qablal ghurub dan imkan al-rukyat. Di dalam kreteria ijtima qabla al-Ghurub bulan baru sudah masuk apabila apabila ijtima terjadi sebelum matahari terbenam, meskipun meskipun hilal masih di bawah horizon, sedangkan sistem imkan al-rukyah menganggap bulan baru masuk jika sudah memenuhi kreteria kemungkinan hilal bisa dilihat. Muhammadiyah tidak puas dengan kedua sistem itu, yang pertama menetapkan bulan baru tanpa mempertimbangkan aspek wujudnya saat matahari terbenam, yang kedua Muhammadiyah tidak puas karena memandang belum ada kriteria yang sahih secara ilmiah bagi imkanur rukyah, yang hingga saat inipun masih beragam. Sistem wujud al-hilal merupakan jalan tengah yang mensyaratkan dua hal yakni ijtimak sudah terjadi dan hilal harus sudah wujud saat matahari tenggelam, meskipun tidak bisa terlihat–karena keterbatasan mata manusia. Dapat pula dikatakan wujudul hilal merupakan jalan tengah antara sistem hisab murni yang tidak mempedulikan wujudnya hilal diufuk dan sistem rukyah murni yang sangat memutlakan terlihatnya hilal. Wujudul hilal menengahi kedua sistem di atas, prinsipnya mempedulikan posisi hilal agar harus di atas ufuk, meski tidak terlihat oleh mata “ain”, tapi terlihat oleh mata “ilmu”.

Tokoh Falak Muhammadiyah yang berijtihad menawarkan model baru dalam penetapan awal bulan yang dikenal dengan hisab hakiki dengan sistem wujud al hilal adalah Muhammad Wardan Dipodiningrat, seorang yang berdarah bangsawan dari Kesultanan Yogyakarta. Teori hisab demikian muncul dari keprihatinan seorang Wardan atas model penentuan awal bulan Qamariyah konvensional-tardisional yang biasa berlaku pada masanya. Wardan mengungkapkan ketidak puasan karena umur Ramadhan dalam sistem urfi selalu 30 tidak pernah 29. Padahal umur bulan Ramadlan baik berdasarkan rukyat hilal atau hisab hakiki, dan pula sesuai dengan hadits Nabi S.a.w. bahwa umur bulan Ramadhan, kadang-kadang 30 hari dan kadang-kadang 29 hari. Konsep wujud al-Hilal dengan sistem hisab hakiki dan kreteria sebagaimana disebutkan di atas masih dipertahankan oleh Muhammadiyah hingga kini. Prinsip Muhammadiyah tentang MatlaDalam penentuan Matla Muhammadiyah memutuskan bahwa matlak bersifat lokal bukan internasional. Salah satu tokoh kunci di Muhammadiyah yang sangat dipegang pendapatnya tentang matla ini adalah Hamka. Hamka berpendapat kalau kita berada di tanah suci Mekah, kita harus mengikuti ketetapan pemerintah Arab Saudi. Akan tetapi kalau kita berada di Indonesia, maka kita harus mengikuti pemerintah Indonesia. Muhammadiyah dengan sistem hisab hakiki wujud al-hilal, dalam wacana yang berkembang kemudian dilabeli mazhab hisab. Muhammadiyah tidak keberatan dengan pelabelan tersebut apalagi bagi Muhammadiyah dalam berbagai penelitian menunjukkan dalam sistem rukyah terdapat banyak kelemahan sehingga perlu dipermudah dengan basis ilmu hisab-falak yang akurat  dan fasilitas teknologi modern. Muhammadiyah memilih berpegang pada hisab astronomi modern karena lebih mudah, dan mereka meyakini hal itu memiliki landasan kuat dari teks keagamaan (Al-Qur’an dan Hadits) dan terbukti telah memberikan hasil yang akurat tanpa menyisakan perbedaaan berarti.


Responses

  1. alhamdulullah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: