Oleh: ALIBORON | 29 November 2010

Metode Penentuan Awal Bulan di Saudi Arabia: Sistem Kalender Ummul Qura

Arab Saudi dalam hal penetapan awal bulan khususnya Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah seringkali dianggap kontroversial. Lebih-lebih lagi pada bulan Dzulhijjah saat ummat Islam dari seluruh dunia melaksanakan ibadah haji, penetapan hari wukuf terkadang dipersoalkan. Dalam beberapa kasus Arab Saudi dianggap menetapkan saat wukuf lebih awal dari seharusnya. Kritik dilancarkan terhadap Arab Saudi terutama oleh komunitas yang menganut sistem penanggalam hijriyah berdasarkan rukyah hilal bi al-fi’li. Tidak mudah untuk meminta konfirmasi kepada pihak kerajaan Arab Saudi tentang metode penentuan apa yang digunakan dalam kaitan penentuan awal bulan. Maka semakin bingunglah banyak pihak ketika hasil penetapan kerajaan Arab Saudi bisa berbeda dengan kelompok muslim yang lain sehari, dua atau bahkan sampai tiga hari. Oleh karena itu banyak kalangan ahli falak berpendapat penetapan awal bulan di Arab Saudi tidak didasarkan pada rukyah empiris terhadap hilal.

Untuk memahami bagaimana sistem penentuan awal bulan di Arab Saudi ke masyarakat luas maka melalui ruang terbuka (FB) diberikan sedikit informasi berkaitan dengan metode penentuan awal bulan di Arab Saudi.Metode penetapan awal bulan Arab Saudi tidak lepas dari sistem kalender yang  dipedomani oleh mereka, yaitu “Kalender Ummul Qura”, sebuah sistem yang juga dipedomani oleh banyak negara di kawasan jazirah arab, seperti Bahrain, Qatar, dan juga Mesir. Termasuk pula komunitas muslim di beberapa negara yang mayoritas non musim, serta komunitas mesjid yang dana pembangunannya dibiayai oleh Arab Saudi. Berkaitan dengan sistem kalender Arab Saudi Zaki al-Mustafa, seorang astronom Arab Saudi menjelaskan bahwa sistem penanggalan atau kalender di Arab Saudi mengalami fase evolusi dalam tahapan cukup panjang. Zaki membagi fase itu dalam empat tahapan yang diklasifikasi berdasarkan kreteria yang berlaku pada tahun-tahun tertentu. Empat fase dan masing-masing kreterianya adalah sebagai berikut:I.1370-1392 HPada fase ini kreteria yang berlaku adalah apabila tinggi hilal pada hari ke-29 mencapai 9° setelah matahari terbenam maka berdasarkan kalender Ummul Qura esok harinya adalah tanggal 1 pada bulan baru.II.1393-1419 HPada fase ini kreteria yang berlaku adalah terjadinya konjungsi (ijtima) sebelum tengah malam atau pukul 00.00 di Greenwich Inggris.III.1420-1422 HPada fase ini kreteria yang berlaku sangat sederhana, yaitu bulan terbenam belakangan setelah matahari.IV.1423-Kini.Pada fase ini ada dua kreteria yang berlaku untuk penentuan awal bulan, yaitu:1.Bulan terbenam setelah terbenam matahari2.Terjadinya konjungsi (ijtima) sebelum matahari terbenam.Tentu saja perubahan kreteria terjadi karena memang disadari terdapat kelemahan pada fase-fase yang lebih awal, misalnya pada fase pertama menimbulkan masalah karena ada kemungkinan hilal bisa terlihat pada ketinggian di bawah 9° dalam keadaan cuaca yang mendukung. Akibatnya sering terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan antara aliran hisab dan aliran rukyah.Pada fase II juga terdapat kelemahan yang mencolok. Dengan kreteria ijtima menggunakan standar waktu pukul 00.00 GMT, padahal perbedaan zona waktu antara Greenwich dan Makkah hanya 3 jam, maka sangat besar kemungkinan akan terjadi awal bulan dimulai sebelum hilal wujud di Kota Makkah. Ini tentu tidak ilmiyah dan tidak sesuai dengan ketentuan syara.Pada fase III dengan kreteria bulan terbenam pada tanggal 29 setelah matahari, bila kreteria itu terpenuhi maka esoknya adalah tanggal 1 bulan berikutnya, namun jika bulan terbenam lebih awal maka esoknya adalah hari terakhir dari bulan tersebut. Kreteria ini juga problematik, karena bisa saja pada tanggal 29 itu bulan terbenam setelah matahari terbenam, namun belum terjadi ijtima. Kasus ini terjadi misalnya pada 27 Agustus 2003 M. Di Makkah pada tanggal itu matahari terbenam pukul 18:41, sedangkan bulan terbenam 18:39. Konjungsi terjadi pada pukul 20:27 atau setelah matahari terbenam. Dengan kreteria demikian berarti Arab Saudi telah lebih awal satu hari dari yang semestinya memulai masuk pada bulan baru. Fase ke IV adalah dimulai sejak 1423 H hingga sekarang dengan kreteria seperti disebutkan di atas, yaitu bulan pada tanggal 29 lebih lambat terbenam dari matahari dan sebelumnya harus didahului oleh perisriwa konjungsi. Kreteria baru ini menurut Zaki al-Mustafa telah dapat mengeliminir beberapa kelemahan yang ada dalam metode penetapan sebelumnya.Dengan kreteria baru ini, tim penanggalan Ummul Qura tidak membatasi berapa derajat hilal dimungkinkan terlihat melainkan cukup berpegang pada kreteria di atas yang menurut mereka telah sesuai dengan  syara, yang ditetapkan oleh Dewan Menteri Kerajaan Arab Saudi yang didasarkan pada keputusan  Majelis Syura Saudi Arabia yang menyatakan bahwa  penanggalan Ummul Qura dalam perhitungan awal bulan  Qomariyah didasarkan pada terbenamnya bulan setelah terbenam matahari sesuai waktu Makkah, dan juga disandarkan pada syarat terjadinya konjungsi  sebelum matahari terbenam.Masyarakat Arab Saudi memang diminta melaporkan jika terjadi rukyah hilal tanggal 29. Dengan syarat di atas apabila bulan terbenam setelah matahari, berapapun tinggi hilal di atas ufuk saat sunset jika ada kesaksian rukyah maka dapat diterima dan dianggap sesuai dengan petunjuk syari’ah. Selanjutnya sistem baru dengan kreteria baru di atas dianggap dapat menjawab kebutuhan jika suatu ketika rukyah tidak mungkin dilakukan disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak dapat diperhitungkan seperti cuaca atau tidak adanya saksi.Dengan mengetahui metode Penetapan di atas, kita dapat memahami mengapa Arab Saudi menetapkan awal Dzulhijjah 1431 H yang lalu pada tanggal 7 Nopember 2010 M, 15 Nopember 2010 sebagai hari wukuf dan 16 Desember 2010 sebagai Idul Adha.Berdasarkan perhitungan posisi bulan dan matahari pada tanggal 29 Dzulqadah 1431 H/ 6 Nopember 2010 M adalah sebagai berikut:Di kota Makkah ijtima (conjunction) terjadi 6 Nopember 2010 pukul 07.52. Matahari terbenam awal dari bulan 4 menit 32 detik. Saat matahari terbenam tinggi hilal 0° 32′ 45.4″. Di beberapa kota lainnya ketinggian bulan saat sunset: Jeddah 0° 33′ 20.1″, Madinah 0° 13′ 14.1″, Thaif 0° 33′ 6.9″, Tabuk -0° 7′ 8.8″, Riyadh 0° 1′ 53.2″. Dengan data hisab di atas maka kreteria yang disyaratkan oleh sistem Kalender Ummul Qura telah terpenuhi: 1) Matahari terbenam lebih awal dari bulan dan 2) sebelumnya telah terjadi konjungsi. Dengan demikian meskipun secara astronomis ketinggian hilal tidak mungkin untuk rukyah pemerintah Arab Saudi tetap memutuskan tanggal 1 Dzulhijjah pada 7 Nopember 2010.Semoga bermanfaat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: