Oleh: ALIBORON | 29 November 2010

Metode Penentuan Awal Bulan Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir (selanjutnya: HT) adalah organisasi Islam transnasional (bersifat lintas negeri). Lahir sebagai respon situasi sosial politik ummat Islam yang terjadi sejak keruntuhan sistem khilafah Turki Ustmani. HT dengan ideologi dan perjuangannya berupaya untuk membangun kembali sistem khilafah yang diyakini oleh mereka sebagai jawaban atau solusi krisis yang dihadapi ummat Islam di seluruh dunia untuk dapat menemukan  kembali kejayaannya.Dalam kaitan penetapan awal bulan yang berimplikasi langsung terhadap penentuan awal Ramadhan, Idul fithri, dan pelaksanan haji serta Idul Adha, HT terkadang berbeda waktu dengan apa yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Sontak saja ini juga menimbulkan pertanyaan bagi masyakat umumnya, sama dengan pertanyaan terhadap ormas-ormas lainnya di Indonesai yang menetapkan berbeda. Untuk itu tulisan ini akan mengemukakan metode penetapan sistem HT agar masyarakat umum dapat memahami dengan lebih baik.HT menetapkan awal bulan qomariyah dengan kreteria rukyatul hilal (menyaksikan langsung hilal pada tanggal 29 tiap-tiap bulan). Landasan yang dijadikan dasar prinsip ini antara lain:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang), maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari (HR. Bukhari: no.1776).Berdasarkan hadits di atas dan hadits lainnya yang tidak disebutkan satu persatu di sini, maka HT berkesimpulan bahwa penetapan awal dan akhir Ramadhan didasarkan kepada ru’yah al-hilâl. Dengan demikian, hisab astronomis (al-hisab al-falaki) tidak boleh dijadikan sandaran untuk menentukan masuknya awal bulan Qamariyah. Hisab hanya boleh dijadikan sebagai sarana untuk membantu usaha melakukan pengamatan terhadap hilal tapi tidak boleh dijadikan penentu. Apabila rukyah gagal mengamati hilal maka dilakukan istikmal (jumlah hari dalam bulan qomariyah digenapkan menjadi 30). Khusus untuk penentuan awal bulan Dzulhijjah karena terkait dengan pelaksanaan haji dengan Idul Adha, rukyatul hilal yang menjadi patokan utama bagi HT adalah adalah rukyatul hilal di bawah otoritas penguasa Makkah, bukan dari negeri-negeri Islam yang lain. Kecuali jika penguasa Makkah tidak berhasil merukyat hilal, barulah rukyat dari negeri yang lain dapat dijadikan patokan. Bagi HT Amir Makkah memiliki otoritas menatapkan hari-hari manasik haji, seperti hari arafah, Idul Adha dan hari-hari tasyri, selama masih belum pusat pemerintahan Islam yang berwujud khilafah. Hal demikian bersifat diterima oleh HT sebagai keadaan yang bersifat sementara. Tidak Terikat dengan Mathla’Persoalan krusial bagi HT adalah masalah penetapan mathla. Sebagai organisasi trans-nasional, HT tidak mengakui mengakui konsep nasionalisme dengan pembagian dan pembatasan wilayah negeri-negeri Islam. Padahal konsep matla yang ada dewasa ini adalah dibangun dari wawasan nasional yang melihat wilayah Negara sebagai satu kesatuan hukum termasuk dalam hal penentuan matla. Ulama tempo dulu seperti kalangan Syafi’iyyah berpendapat, jika di satu daerah melihat bulan, maka dengan radius 24 farsakh dari pusat hilal teramati bisa mengikuti hasil ru’yat daerah tersebut. Sedangkan daerah di luar radius itu boleh melakukan ru’yah sendiri, dan tidak harus mengikuti hasil ru’yat daerah lain.  HT tidak menganut konsep mathla berbasis negara sebagai satu kesatuan uokum, juga tidak menganut pandangan yang membenarkan perbedaan awal dan akhir Ramadhan karena perbedaan mathla’ seperti yang dianut ulama Syafi’iyah. HT dengan argumentasi yang diyakini kebenarannya oleh mereka menganggap hadits Kuraib yang dijadikan dasar oleh yang lain menngandung sejumlah kelemahan untuk dijadikan dalil. Pertanyaan kritis yang diajukan oleh HT adalah jika kaum Muslim diizinkan untuk mengikuti ru’yah di masing-masing daerahnya, pertanyaan yang muncul adalah: “Berapa jarak minimal antara satu daerah dengan daerah lainnya yang mereka diperbolehkan berbeda?” “Jika dalam Hadits ini jarak antara Madinah dengan Syam diperbolehkan bagi penduduknya untuk berbeda mengawali dan mengakhiri puasa, bagaimana jika jaraknya lebih dekat?” Karena hadits Kuraib yang berhubungan dengan konsep mathla tidak memberikan jawaban, akibatnya ulama yang bersandar pada hadits ini pun berbeda pendapat mengenai jarak minimalnya.Ada yang menyatakan jarak yang diperbolehkan berbeda puasa itu adalah perbedaan mathla’, ada juga yang berpatokan pada ukuran jarak yang diperbolehkan mengqashar shalat, ada pula yang berdasarkan perbedaan iklim, dan keberatan HT adalah karena memandang semua batasan jarak tersebut tidak ada yang didasarkan pada nash yang sharih. Bertolak dari itu HT menganggap hadits Kuraib tidak bisa dijadikan dalil absahnya perbedaan penentuan awal bulan.HT lebih cenderung pada pendapat Imam al-Syaukani dan al-Shan’ani yang menyimpulkan, “apabila penduduk suatu negeri telah melihat bulan sabit (ru’yatul hilal), maka ru’yat ini berlaku pula untuk seluruh negeri-negeri yang lain.”Untuk menguatkan pandangan tidak berlakunya perbedaan mathla’ HT antara lain mengemukakan hadits berikut:

غُمَّ عَلَيْنَا هِلَالُ شَوَّالٍ فَأَصْبَحْنَا صِيَامًا فَجَاءَ رَكْبٌ مِنْ آخِرِ النَّهَارِ فَشَهِدُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُفْطِرُوا مِنْ يَوْمِهِمْ وَأَنْ يَخْرُجُوا لِعِيدِهِمْ مِنْ الْغَدِ

Hilal bulan Syawal tertutup oleh mendung bagi kami sehingga kami tetap berpuasa pada keesokan harinya. Menjelang sore hari datanglah beberapa musafir dari Mekkah ke Madinah. Mereka memberikan kesaksian di hadapan Nabi saw bahwa mereka telah melihat hilal kemarin (sore). Maka Rasulullah saw memerintahkan mereka (kaum Muslim) untuk segera berbuka dan melaksanakan sholat ‘Ied pada keesokan harinya (HR. Ahmad dishahihkan oleh Ibnu Mundir dan Ibnu Hazm).Dari Ibnu ‘Abbas:

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ قَالَ الْحَسَنُ فِي حَدِيثِهِ يَعْنِي رَمَضَانَ فَقَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ فَلْيَصُومُوا غَدًا“

Datang seorang Badui ke Rasulullah SAW seraya berkata: Sesungguhnya aku telah melihat hilal. (Hasan, perawi hadits menjelaskan bahwa hilal yang dimaksud orang Badui itu adalah hilal Ramadhan). Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?” Dia berkata, “Benar.” Beliau meneruskan pertanyaannya seraya berkata, “Apakah kau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Dia berkata, “Ya benar.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal umumkan kepada orang-orang untuk berpuasa besok.” (HR Abu Daud and al-Tirmidzi, disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).Bertolak dari beberapa argumentasi tersebut, maka HT berpandangan pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang tidak mengakui absahnya perbedaan mathla’. Pendapat ini pula yang dipilih oleh jumhur ulama, yakni dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hanabilah. Di atas telah diuraikan konsep mathla para ulama dahulu berbeda dengan sekarang yang konsepnya dibangun berdasarkan pembagian wilayah nation. Dimasa dahulu konsep dibangun berkaitan dengan tempat terbit bulan, sehingga yang diperhatikan adalah jarak titik pengamatan bulan dengan daerah lainnya, apabila  dalam batas-batas matla maka penduduk di kedua daerah tersebut harus berbuka puasa. Jadi tidak dikaitkan sama sekali dengan batas begara.HT menyoroti kebijakan pemerintah pada sidang isbath yang hanya mendengar kesaksian dari orang-orang di dalam wilayah negeri. Jika tidak ada kesaksian rukyah maka langsung digenapkan, tanpa mempertimbangkan apakah di negeri-negeri lainnya yang mungkin menyaksikan hilal. Hasil pertemuan siding isbath kemudian diumumkan oleh masing-masing negara, akibatnya selalu ada potensi terjadi perbedaan dalam ramadhan, syawal dan dzulhijjah untuk negeri-negri Muslim. mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan antara negeri-negeri muslim.Bagi HT, adalah janggal jika ummat Islam di Riau tidak berpuasa bersama dengan kaum Muslim di Kuala Lumpur, padahal perbedaan zona waktu kedua daerah tidak sampai satu jam (kurang dari 15° busur). Sementara ummat Islam di Aceh bisa berpuasa bersama dengan kaum Muslim di Papua. Bagi HT penentuan awal bulan hanya terkait dengan peredaran dan perputaran bumi, bulan, dan matahari dan tidak ada kaitan dengan batas negara yang suatu saat bisa berubah. Dengan konsep rukyah global HT, kesimpulannya adalah apabila pada suatu wilayah negara disaksikan hilal untuk yang pertama kali, maka wilayah yang ada di sebelah barat dari daerah itu tinggal mengikuti saja. Yang penting bagi HT adalah orang atau kelompok yang memberikan kesaksian rukyah adalah Muslim dan tidak Fasik, maka kesaksiannya bisa diterima. Sedangkan jika saksi tersebut bukan muslim, tidak adil, fasik, maka kesaksiannya harus ditolak.Menurut HT dengan cara demikianlah umat Islam se dunia dapat disatukan dalam penentuan kalender.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: