Oleh: ALIBORON | 29 November 2010

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari: Ulama Ahli Falak dari Kalimantan

Pada abad ke-12 Hijriyah/ke-18 Masehi di Kawasan Kalimantan Selatan terdapat ulama yang terkenal bukan saja di Kalimantan bahkan di seluruh Asia Tenggara. Ulama dimaksud adalah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Namanya dikenang sepanjang masa. Bahkan Mesjid termegah di Kalimantan Selatan, yang terletak di tengah Kota Banjarmasin menggunakan salah satu karya monumentalnya yang berjudul “Sabilal Muhtadin”. Sebagian karya tulis Syekh Muhammad Arsyad sudah dicetak dan sebagian lagi masih berbentuk naskah. Sekalipun sudah ada karya tulisnya yang dicetak namun masih sedikit yang membacanya, sedangkan yang masih berupa naskah hanya diketahui oleh kalangan terbatas.
Salah satu karya Syekh Muhammad Arsyad yang masih berbentuk naskah adalah kitab: علم الفلك yang sering diperlihatkan pada saat pameran. Karya ini meneguhkan posisi Syekh Muhammad Arsyad sebagai seorang ulama ahli Falak. Untuk mendapatkan naskah yang sangat bernilai ini tentu tidak mudah. Prof. Asywadie Syukur (almarhum) bercerita kepada kami, pernah membaca naskah tersebut dalam bentuk tulisan tangan asli. Sayangnya naskah tersebut belum terekspose dan dikaji secara luas sehingga pemikiran Beliau dalam bidang ini belum banyak diketahui oleh publik.
Berikut ini adalah cuplikan dari buku “Ulama Besar Kalimantan Sjech Muhammad Arsjad Al-Banjary” yang ditulis oleh Jusuf Halidi (1968). Salah satu bagian dari buku itu mengulas tentang keahlian Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary dalam bidang falak sebagaimana dituturkan pada halaman 14-15 sebagai berikut:

PERDJALANAN PULANG SINGGAH DJAKARTA
Dalam perdjalanan pulang kembali ketanah air, Muhammad Asjad singgah di Djakarta, berkundjung ketempat kediaman kawan jang akrab, salah seorang sahabat 4 serangkai, jaitu Hadji Abd. Rahman Masri selama 2 bulan di Djakarta, adalah merupakan hari2 pertemuan dan perkenalan dengan masjarakat Djakarta, untuk merapatkan uchuwwah islamiah.
Masjarakat Djakarta mengadakan penjambutan jang luar biasa, bukan hanja rakjat semata2, tapi segenap alim-ulamanja jang diketuai oleh Sjech Abdulqahar menerima kedatangan Muhammad Arsyad dengan penuh rasa gembira. Tidaklah ada perasaan jang hendak bermegah-megahan, berebut pengaruh dan kedudukan, atau takut akan kehilangan pengikut, tapi sebagai Pemegang Amanah pelaksana functie para ambia, harus sama2 mempunjai kewadjiban jang mulia, untuk membimbing ummat.
Bahwa sesungguhnya Ulama2akan diharapkan oleh ummat sebagai Obor penerang djalan-dan akan didjadikan obat pelerai demam-serta akan diharapkan sebagai telaga air jang hening-bening untuk pelepas haus dahaga, dan pentjutji hati-nurani disa’at kemasukan debu2 jang membahajakan iman.
Dalam hubungan ini Muhammad Arsjad tjukup memahami, bahwa betapa bahajanya djika sesama ulama terdjadi perpetjahan karena berebutkan pengaruh dan kedudukan. Dengan budi pekertinja jang luhur memantjar, dan ketinggian moralitasnja serta kesederhanaan pribadi wataknja, terdjalinlah uchuwwah islam jg sangat mesra antara Ulama2 Djakarta dengan beliau karena berpaterikan rasa keimanan jg. mendalam, sama2 pendukung hukum Ilahi, untuk menjelamatkan ummat dari kehidupan dunia maupun achirat.
Sementara itu, masih sempat Muhammad Arsjad berkundjung dibeberapa desa, untuk bersembahjang djum’at sambil berta’aruf dengan masjarakat islam didesa itu.
Disamping itu pula beberapa buah Mesdjid jang dibetulkannja arah kiblat antara lain Mesdjid Pakodjan, Mesdjid Luar Batang Djakarta Pasar Ikan dan lain2.
Tatkala ditanjakan apakah arah kiblat tersebut salah djihadnja maka dengan tegas ditundjukannja dengan tangan arah kiblat jg sebenarnja, dan kepada jg hadir sa’at itu dipersilahkannja menilik dari tjelah2 lobang tangan badju djubahnja. Konon riwajatnja ketika dilihat dari tjelah2 lobang tangan badju djubahnja itu tampak dengan djelas kelihatan “Baitullah”. Dengan demikian arah kiblat dari Mesdjid tersebut sampai waktu ini menurut garisan jg sudah dibetulkan oleh Muhammad Arsjad itu.
Merobah arah kiblatdari suatu mesdjid jang sudah sekian lama didjadikan tempat peribadatan, tentu sadja akan menimbulkan suatu reaksi jang agak menggemparkan. Oleh karena itu atas kebidjaksanaan Gubernur Djenderal Hindia Belanda, diundangnja semua ulama2 jg ada diDjakarta, begitu pula Pendeta2 Nasrani tidak ketinggalan.
Pada pertemuan jang diadakan itu, Muhammad Arsjad duduk berhadapan dengan Gubernur Djenderal, sedang disebelah kanan ulama2 islam, dan disebelah kiri Para Pendeta Nasrani.
Pertanjaan jang mula2 diadjukan oleh Gubernur Djenderal: “Benarkah Tuan Sjech bahwa arah kiblat dari mesdjid kampong Luar Batang itu salah?” Djawab Muhammad Arsjad: Ja memang salah, Djadi bagaimana jang betul? Demikian desak Gubernur Djenderal itu. Kemudian Muhammad Arsjad mengeluarkan sebuah peta dunia bikinannja sendiri dan mendjelaskan: Begini deradjah dari Mekkah sampai di Betawi (Djakarta) dan djihadnya dari chattulistiwa begini dan sekian.
Betulkah begitu? Tanja Gubernur Djenderal kepada semua Ulama Islam dan Pendeta Nasrani Djawab mereka itu: Betul Tuan! Kemudian Muhammad Arsjad diadjak lagi naik kapal dan sesampainja ditengah laut, oleh Gubernur Djenderal ditanjakan lagi berapa dalamnja laut ini? Dengan tenang Muhammad Asjad mendjawab. “Sekian kaki”. Setelah diadakan penglotan, ternjata benar. Semendjak itulah Muhammad Arsjad diberi gelar oleh Gubernur Djenderal tersebut: “Tuan Hadji Besar”.
Tatkala Muhammad Arsjad akan melandjutkan pulang kekampung halaman, banjak hadiah2 jg diterimanja dari masyarakat Djakarta, sebagai bingkisan kenang-kenangan antara lain hadiah dari Gubernur Djenderal berupa sebuah randjang tempat tidur dari kaju djati’ dan sebuah katja tjermin jg tebal. Hadiah tsb sampai kini masih ada di Kampung Dalam Pagar Martapura.
Harus diakui, Datu Syekh Arsyad Al-Banjari adalah sosok ulama yang produktif dengan banyak karya yang ditinggalkannya. Beberapa di antaranya telah diterjemahkan oleh Prof. Asywadie Syukur, namun masih banyak naskah yang belum diketahui oleh publik, termasuk naskah Ilmu Falak yang konon masih dalam bentuk naskah dalam tulisan tangan beliau sendiri. Di tengah kelangkaan ahli Falak, patut jika usaha mendalami pemikiran Datuk Syekh Arsyad dalam bidang falak digalakkan. Bagaimana metode Syeikh Muhammad Arsyad melakukan pembetulan terhadap beberapa mesjid dan mushalla di Batavia ketika pertama kali beliau datang di Indonesia, atau bagaimana cara beliau menentukan kedalaman air laut mungkin bisa tergali dari karya-karya yang ditinggalkan.
Selama ini karena karya dalam bidang Falak ini belum dikenal, maka muncullah pandangan-pandangan yang agak ganjil dan cerita itu yang paling diminati, sehingga lupa menggali metode apa yang beliau gunakan. Sebagaimana diceritakan bahwa saat beliau ditanya tentang arah kiblat sewaktu di Jakarta (Batavia), Datu Kalampayan dalam riwayat konon mengangkat tangan beliau dan orang-orang menyaksikan Kabah di balik jubahnya. Jika kejadiannya seperti itu, tentu merupakan peristiwa luar biasa. Ketika ada yang menanyakan pendapat saya tentang cerita seperti itu, maka secara jujur saya jawab saya tidak memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang demikian. Karena itu saya lebih memilih untuk memahami hal-hal yang mungkin dapat saya pahami saja. Ini semata-mata karena keterbatasan.
Sudah lazim, penuturan dan cerita yang menyangkut kehidupan seorang tokoh besar dimanapun di dunia ini, diiringi hal-hal supra ilmiah, berbau mistik, kadang-kadang agak tidak masuk akal. Dan biasanya pada bagian yang tidak masuk akal itu yang banyak digemari. Tujuannya cerita-cerita seperti itu memang tidak buruk, malah justru sebaliknya bagus untuk menambah “kehebatan” tokoh yang diidolakan. Namun perlu disadari, jika dilakukan secara berlebihan justru menjadi tidak baik, karena sebuah sejarah yang logis, ilmiah, bisa terdegradasi nilainya menjadi sebuah dongeng. Itulah yang terjadi pada kisah Jaka Tingkir dalam serial televisi, sebuah sejarah yang diselimuti oleh mitos atau penipuan atas fakta sebenarnya.
Saya berharap perlakuan atas Datuk Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang ilmuwan dan ulama Besar tidak sampai pada tingkat itu. Oleh karena itu saya ingin melihat peristiwa itu secara wajar, masih dalam batas-batas ilmiah, agar tidak membebani sejarah kehidupan orang Besar ini.
Falak adalah ilmu ilmiah dan bersifat alamiah. Beliau menuliskan risalahnya yang berjudul “Ilmu Falak” tentu saja di dalamnya ada penjelasan tentang metode untuk memecahkan berbagai masalah terkait soal falakiyah, termasuk arah kiblat. Saya sendiri sangat yakin bahwa peristiwa sebenarnya tidaklah sampai seperti legenda yang ditanyakan di atas, dan mustahil rasanya seorang Syekh yang memiliki keluhuran budi dan ketinggian akhlak akan memamerkan “kesaktiannya” dihadapan publik, apalagi hanya sekedar untuk menentukan arah kiblat yang bisa diselesaikan dengan cara-cara biasa. Wallahu a’lam.


Responses

  1. […] Arsyad yang sempat kami baca, yaitu bagaimana metode beliau menentukan kedalaman air laut, lihat : https://aliboron.wordpress.com/2010/11/29/syekh-muhammad-arsyad-al-banjari-ulama-ahli-falak-dari-kali…. Saudara Nur Hidayatullah telah memberikan informasi berharga kepada saya berdasarkan literatur […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: