Oleh: ALIBORON | 4 Desember 2010

Metode Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Menentukan Kedalaman Air Laut

Dalam tulisan terdahulu yang membahas metode Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari menentukan arah kiblat, ada sebuah pertanyaan yang belum sempat kami jawab berhubung terbatasnya literatur tentang Syekh Muhammad Arsyad yang sempat kami baca, yaitu bagaimana metode beliau menentukan kedalaman air laut, lihat : https://aliboron.wordpress.com/2010/11/29/syekh-muhammad-arsyad-al-banjari-ulama-ahli-falak-dari-kalimantan/

Saudara Nur Hidayatullah telah memberikan informasi berharga kepada kami berdasarkan buku yang ditulis oleh Asmuni berjudul “Sejarah Datu-Datu di Kalimantan Selatan“, bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari menentukan kedalaman laut dengan melihat warna air.  Meskipun dalam referensi tersebut tidak dijelaskan bagaimana sebenarnya hubungan antara warna dan kedalaman sebagai sebuah model pengukuran, informasi singkat itu membantu untuk memberikan deskripsi lebih mendalam bagaimana sesungguhnya cara kerja atau metode mengukur kedalaman laut dengan melihat warnanya dengan pendekatan scientific ilmiah.

Seperti pada tulisan terdahulu saya mencoba untuk mereduksi pandangan-pandangan bernuansa “ghaib” terhadap metode beliau dalam memecahkan berbagai masalah. Hal ini dilakukan agar posisi beliau sebagai seorang ulama yang memiliki pengetahuan luas dan mendalam di berbagai bidang ilmu tidak dicampuradukkan dengan hal-hal yang sesungguhnya tidak punya kaitan. Dengan demikian akan semakin mempertegas posisi beliau sebagai seorang ilmuwan yang menyelesaikan masalah dengan pendekatan ilmiah, bukan dengan cara-cara suprailmiah.

Perihal metode Syekh Muhammad Al-Banjari menentukan kedalaman air laut dengan melihat warna airnya dapat dijelaskan dengan pendekatan scientific ilmiah. Di dalam ilmu fisika, ada dibahas tentang spektrum cahaya. Konsep ini telah sejak lama digunakan oleh ilmuwan terutama para astronom untuk dapat menjelaskan aspek fisis bintang yang berkaitan dengan jarak bintang, suhu bintang, dan materi pembentuk bintang dengan pesan-pesan warnanya. Intinya cahaya dapat memberikan kepada kita berbagai informasi tentang tentang benda-benda langit melalui spektrum warnanya.

Jika konsep tersebut dapat diterapkan pada benda langit, maka demikian juga dapat diterapkan untuk melakukan perkiraan kedalaman air laut dengan melihat pada warnanya.

Seperti diketahui, cahaya itu terdiri dari tujuh warna yang kita kenal dengan MEJIKUHIBINIU (Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu). Masing-masing warna memiliki panjang gelombang berbeda. Kemampuan cahaya untuk menembus air tergantung pada panjang gelombangnya. semakin pendek gelombang cahaya, maka semakin besar kekuatannya untuk menembus air. Berikut ini adalah batas kira-kira untuk warna-warna spektrum: Ungu 380-450 nm (nanometer), Biru 450-495 nm, Hijau 495-570 nm, Jingga 590-620 nm, Merah 620-750 nm. Rumusannya: panjang gelombang berbanding terbalik dengan frekuensi, semakin besar panjang gelombang maka semakin rendah frekuensi cahaya, dan semakin pendek panjang gelombang frekuensi cahaya akan semakin panjang. Contohnya cahaya merah dengan panjang gelombang rata-rata 620-750 nm memiliki energi lebih rendah daripada warna jingga dengan panjang gelombang 590-620, warna jingga lebih rendah frekuensinya daripada warna hijau, dan seterusnya.  Warna merah dengan panjang gelombang 620-750 nm akan terserap pada kedalaman air sekitar 20 meter dan sesudah itu keberadaannya tersembunyi. Dari sinilah muncul kegelapan warna merah. Seandainya kita menyelam pada pada kedalaman 25 meter maka jika kita mengenakan baju berwarna merah , maka kita akan melihat baju kita berwarna hitam, karena tidak adanya cahaya berwarna merah.

Warna orange terserap pada kedalaman sekitar 30 meter, di sini muncul kegelapan lain di bawah kegelapan warna merah, yaitu kegelapan warna orange. Sekitar 50 meter warna hijau terserap, pada kedalaman 125 m ultraviolet dan ungu terserap. Dan warna yang paling terakhir terserap adalah warna biru, yaitu pada kedalaman sekitar 200 meter. Dengan demikian terciptalah kegelapan warna cahaya matahari secara berlapis lapis, yang disebabkan air yang menyerap warna pada kedalaman yang berbeda-beda. Kita dapat mengambil simpulan bahwa warna laut itu disebabkan oleh keterserapan gelombang cahaya matahari oleh air. Warna yang terbentuk sekaligus memberikan informasi tentang kedalaman air laut.

Penetrasi Cahaya pada Air Laut. Warna Laut dapat memberikan Informasi tentang Kedalaman manGambar di samping ini menunjukkan penetrasi cahaya di laut lepas. Terlihat hubungan antara warna dengan tingkat kedalaman rata-rata yang dihitung dalam satuan meter.

Laut akan semakin gelap hingga didominasi kegelapan pekat yang dimulai dari kedalaman + 200 meter. Bahkan pada kedalaman sekitar 1000 meter cahaya tidak ada sama sekali. Ini menjelaskan tembusan cahaya itu berbanding terbalik dengan bertambahnya kedalaman.

Dengan menguraikan metode di atas tidak berarti kami mengatakan bahwa Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari ketika mengukur kedalaman air laut berangkat dari teori yang demikian. Meskipun penemuan konsep spektrum cahaya sendiri secara teori terjadi di dunia barat di masa yang hampir bersamaan dengan masa hidup Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary. Apa yang dilakukan oleh Syekh Arsyad Al-Banjari menurut kami lebih berdasarkan pada pengalaman (empiris) dan hasil-hasil observasi yang telah ada.  Mengemukakan teori di atas hanya mempertegas bahwa faktor warna memang dapat dijadikan sebagai metode untuk mengukur kedalaman.

Wallahu a’lam.


Responses

  1. posting menarik, terima kasih..

    • Terimakasih Mas Anang. Semoga bermanfaat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: