Oleh: ALIBORON | 30 Januari 2011

Memahami Konsep Waktu dan Sistem Kalender Syamsiyah

Oleh:  Akhmad Syaikhu

Kalender adalah suatu sistem pengorganisasian satuan-satuan waktu untuk tujuan penandaan serta penghitungan waktu dalam jangka panjang. Apa yang disebut waktu? Secara fisika waktu itu terjadi dalam pola hubungan relatif antara dua benda atau lebih yang saling bergerak. Ingat rumus t=S/V. Dengan demikian elemen pembentuk waktu adalah faktor jarak dan gerak. Konsep hari misalnya lahir dari gerak bumi yang berotasi pada porosnya, konsep bulan (month) lahir pola pergerakan bulan berevolusi mengitari bumi, demikian pula konsep tahun terbentuk oleh pola hubungan bumi dan matahari, yaitu satu kali bumi berevolusi terhadap matahari, dan seterusnya.
Konsep waktu dari benda-benda langit berbeda hakikatnya satu sama lain. Tahun venus berbeda dengan tahun bumi. Bahkan jika suatu ketika terjadi percepatan atau perlambatan dalam revolusi bumi atas matahari hakikatnya waktu bumi pun berubah. Indikasi seperti ini nyata, para ahli telah meneliti bahwa bulan setiap tahun rata-rata menjauh dari bumi sekitar 3 centimeter, satu juta tahun kedepan diprediksikan terdapat pertambahan rata-rata jari-jari lintasan bulan dari pusat bumi sebesar 3000 km. Jika demikian hakikat waktu satu bulan sejuta satu ke depan  akan berbeda dengan waktu sebulan yang ada saat ini, waktu sebulan menjadi lebih panjang.
Waktu dalam Pola Hubungan Bumi dan Matahari.
Istilah yang biasa digunakan dalam satuan waktu yang menggambarkan pola hubungan  bumi atas matahari adalah tahun matahari atau tarikh syamsiyah atau tarikh masehi atau kalender syamsiyah atau dalam bahasa Inggris disebut solar calender. Dalam kalender syamsiyah satu tahun adalah satu periode bumi mengitari matahari. Jika mengacu kepada instrument pengukur waktu, maka periode satu tahun pada kalender syamsiyah ialah 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik. Ini disebut satu tahun trofik[1]. Satu tahun trofik ini mengacu pada perhitungan peredaran semu matahari dari titik aries sampai ke titik aries kembali. Sekedar mengingat kembali, di alam semesta ini tidak ada satupun benda langit yang diam. Bumi tidak hanya bergerak terhadap matahari, tetapi juga pada benda lainnya termasuk terhadap titik aries sebagai acuan kalender syamsiyah. Karena presisi bumi ini maka aries selalu bergeser dengan arah positif pada ekliptika. Sementara matahari menjalani peredaran semu pada ekliptika berarah negatif. Jika digambarkan aries bergeser searah jarum jam, sedangkan matahari bergeser berlawanan arah jarum jam. Akibat yang ditimbulkan adalah periode yang diperlukan oleh matahari untuk kembali ketitik acuan di aries menjadi lebih pendek dari pada satu tahun yang semestinya atau biasa disebut tahun siderik.[2]
Jika dalam tahun siderik nilai setahun sama dengan 365 hari 6 jam 9 menit 10 detik, maka di dalam tahun trofik panjang tahun adalah 365 hari, 5 jam 48 menit 46 detik. Dengan demikian terdapat percepatan 20 menit 24 detik akibat presisi bumi.
Waktu dalam Kalender Syamsiyah (Solar Calender)
Konsep waktu dihubungkan dengan instrument pengukurnya seperti konsep hari atau sistem penanggalan, menimbulkan masalah tersendiri. Instrument itu ternyata tidak membagi habis periode tahun. Masih terdapat bilangan-bilangan sisa.
Di dalam perkembangan tarikh syamsiyah sepanjang sejarahnya telah terjadi koreksi-koreksi akibat bilangan-bilangan sisa itu yang terkumpul dalam jangka waktu lama. Pada jaman Julius Caesar (46 SM) dilakukan pembulatan satu tahun tarikh matahari itu 365 hari 6 jam atau 365,25 hari. Saat itu berlaku apa yang dinamakan tarikh Julian dengan ketentuan satu tahun biasa 365 hari dan satu tahun kabisat 366 hari. Tahun kabisat adalah tahun panjang yang menampung sisa-sisa waktu dari pembulatan pada tahun-tahun sebelumnya. Tujuannya agar jatuhnya musim kembali pada waktunya atau ketidakcocokan waktu dapat dilakukan koreksi. Tahun kabisat ini terjadi dalam empat tahun sekali.
Dengan sistem kalender Julian ini di dalam satu tahun terdapat selisih 11 menit 14 detik setelah angka 365 hari 6 jam dikurang 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik. Dalam seratus tahun atau satu abad terdapat selisih 18 jam 43 menit 20 detik atau dalam 128 tahun selisih itu menjadi sebesar 23 jam 57 menit dan 52 detik, kurang 2 menit 8 detik dari satu hari. Akibat kesalahan sedikit akhirnya lama-lama menjadi bukit itu, maka hari-hari menjadi tidak sesuai lagi dengan tanggal taqwim.
Karena kesalahan itu, maka dilakukan upaya perbaikan untuk mengembalikan kepada sistem tanggalan yang benar. Usaha yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut:
Pada tahun 325 Masehi, Concili di Nicea mengadakan perbaikan 3 hari, angka tiga itu diperoleh dari perhitungan sejak 46 SM sampai 525 M yang lamanya adalah 371 tahun. 371 : 128 = 2.898 atau sekitar 3 hari. (Lihat: di atas sudah ditulis bahwa di dalam masa 128 tahun sistem Julius Caesar terjadi kesalahan 23 jam 57 menit dan 52 detik, kurang 2 menit 8 detik atau dibulatkan menjadi 1 hari).
Pada tahun 1582 Masehi dilakukan koreksi kedua oleh Paus Gregorius XIII sebanyak 10 hari. Saat itu jumlah tahun yang dikoreksi berjumlah 1257 tahun, didapatkan dari selisih tahun koreksi yang pertama dan yang kedua. Angka 10 hari itu didapatkan dari 1257 : 128 = 9.82 hari atau dibulatkan menjadi 10 hari. Sebuah peristiwa besar dalam sejarah kalender ketika pada tanggal 4 Oktober 1582 Paus Gregorius mengumumkan, bahwa esok hari bukanlah tanggal 5 Oktober 1582 M, tetapi tanggal 15 Oktober 1582 M.
Sejak tahun 1582 Masehi itulah dalam tarikh Masehi berlaku sistem baru yang disebut Tarikh Gregorian. Kesalahan-kesalahan lama yang terdapat dalam sistem Julius Caesar diantisipasi dengan cara membuat ketentuan berikut: Tahun abad hanya kabisat kalau angka abadnya habis dibagi empat. Sejak tahun itu tidak semua tahun abad kabisat dinyatakan kabisat. Tahun abad kabisat misalnya 1600 dan 2000, karena angkanya 16 dan 20 habis dibagi 4, tetapi tahun 1800, 1900 bukan kabisat. Sedangkan tahun-tahun yang bukan tahun abad tetap berlaku seperti ketentuan Julian, yaitu bila angka tahunnya habis dibagi 4 adalah tahun kabisat.
Semoga bermanfaat.

[1] Tahun trofis adalah periode revolusi bumi mengelilingi matahari relatif  terhadap titik musim semi yang lamanya 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik. Dalam bahasa Inggris disebut Tropical Year, inilah yang dipakai dalam sistem kalender masehi sekarang menggantikan sistem Julius Caesar yang menentukan periode tahun 365 hari 6 jam, sehingga menimbulkan persoalan di belakang hari.
[2] Tahun sideris adalah periode revolusi bumi mengitari matahari satu putaran elips penuh. Lamanya 365 hari 6 jam 9 menit 10 detik. Dalam bahasa Inggris disebut dengan Siderial Year. Inilah sistem yang pernah dipakai oleh Julius Caesar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: