Oleh: ALIBORON | 23 April 2011

Observatorium Bosscha

 Oleh : Akhmad Syaikhu

Gambar 1. Karl Albert Rudolf Bosscha (15 Mei 1865-26 November 1928)

Observatorium Bosscha terletak sekitar 15 kilometer di sebelah utara dari pusat kota Bandung Jawa Barat, tepatnya pada koordinat geografis 107° 36′ Bujur Timur dan 6° 49′ Lintang Selatan. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektare dan berada pada ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut, atau pada ketinggian 630 m dari plato Bandung yakni di daerah dataran tinggi Lembang.
Observatorium ini adalah warisan kolonial Belanda, dahulu disebut Bosscha Sterrenwacht. Ide membangun Observatorium diprakarsai Nederlandsch-Indiche Sterrekundige Vereeniging (NISV) atau perkumpulan Astronomi Hindia Belanda, sebuah wadah yang didirikan untuk tujuan memajukan ilmu astronomi  di Hindia Belanda.
Penyandang dana utama pembangunan observatorium ini adalah seorang tuan tanah pemilik perkebunan teh di Priangan bernama Karl Albert Rudolf  Bosscha (15 Mei 1865-26 November 1928). Untuk mengenang jasa Tuan Bosscha itulah satu-satunya observatorium besar di Asia Tenggara itu diberi nama observatorium Bosscha atau Bosscha Sterrenwacht.
Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928. Tuan Bosscha dengan gigih berusaha memajukan observatorium ini. Ia ditemani seorang astronom bernama Dr. J. Voute yang kemudian menjadi Direktur observatorium yang pertama. Bosscha berkeliling Erofa untuk mencari teropong bintang paling modern. Ia membelikan teleskop Bamberg berlensa 37 cm dan menyerahkan kepada NISV pada 7 Juni 1928. Gubernur Jenderal  Jhr. Mr. A. C. D. de Graeff yang turut menyaksikan penyerahan itu menyerahkan bintang penghargaan dari Ratu Belanda kepada Bosscha. Peninggalan 83 tahun yang lalu masih bisa terpelihara dengan baik di lingkungan Observatorium ini.
Selain Bamberg, di lingkungan Observatorium juga terdapat primadona, yaitu teleskop Zeiss yang berdiameter 60 cm dan beratnya mencapai 17 ton yang merupakan teleskop utama observatorium. Zeiss ditempatkan dalam sebuah gedung berkubah. Teleskop ini khusus digunakan untuk kepentingan penelitian dan tidak bisa dipergunakan masyarakat umum. Tuan Bosscha sendiri tidak lama menikmati teleskop ini, karena begitu selesai di bangun, dia terlebih dahulu meninggal pada 26 Nopember 1928.
Zeiss, ditempatkan di dalam sebuah kubah raksasa yang dapat berputar dan memiliki garis tengah 14,5 meter. Kubah itu dibuat dari baja setebal 2 mm. Pada kubah itu terdapat celah yang bisa membuka dan menutup dengan digerakkan daya 1500 watt. Dari celah itulah teleskop Zeiss mengintip bintang-bintang. Kubah yang dirancang arsitek bernama  Wolff Schoemacher ini lantai dasarnya dapat naik turun untuk memudahkan pengamatan benda langit. Teleskop ini digunaka untuk mengamati  bintang-bintang ganda dalam suatu gugus bintang, komet, kawah bulan, serta posisi planet-planet dan benda langit lainnya. Teleskop Zeiss ini tidak bisa digunakan untuk mengamati benda-benda langit pada ketinggian di bawah 30 derajat. Bobot Zeiss dan bentuknya telah disesuaikan dengan desain kubah yang memungkinkan dia hanya bisa diarahkan pada kerendahan maksimal 30 derajat.
Di zaman penjajahan Jepang Observatorium Bosscha berada di bawah kontrol militer Jepang. Prof. Dr. Masashi Miyaji seorang tentara Jepang berpangkat Kapten memimpin observatorium antara tahun 1942-1946. Miyaji kemudian menjadi kepala Observatorium Tokyo. Observasi sempat dihentikan ketika perang dunia II berkecamuk. Akibat perang itu Observatorium sempat mengalami kerusakan dan seusai perang dilakukan renovasi besar-besaran, sehingga  dapat beroperasi dengan normal kembali. Di lingkungan Observatorium selain Zeiss dan Bamberg, terdapat pula Schmidt Bimasakti, GOTO, dan teleskop Unitron yang masing-masing teleskop itu memiliki fungsi pengamatan sendiri.
Pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959. Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.
Bagian lain yang tak kalah penting bahkan merupakan jantung aktivitas ilmiah Laborartorium Bosscha adalah perpustakaan. Perpustakaan Bosscha merupakan yang terbaik dan terlengkap koleksinya dalam bidang astronomi di Asia Tenggara. Terdapat berbagai referensi langka dan koleksi terbaru dari buku-buku yang terbit di berbagai negara, termasuk pula jurnal-jurnal lmiah yang merupakan sumber atoritatif yang memuat perkembangan mutakhir dalam sains astronomi. Tidaklah mudah untuk mendapatkan referensi astronomi di perpustakaan-perpustakaan lainnya. Koleksi perpustakaan Bosscha selain dalam bentuk printed materials (bahan-bahan tercetak) juga dilengkapi dengan bahan-bahan non cetak, seperti Compact Disc (CD) yang banyak memuat gambar-gambar dan rekaman video dari benda-beda langit.Dewasa ini Observatorium Bosscha bukan hanya tempat penelitian tetapi juga berfungsi menjadi tempat informasi ilmiah yang banyak dikunjungi terutama oleh pelajar. Pada tahun 2004 observatorium ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah, dengan demikian lingkungan dan alam sekitar observatorium ini adalah tempat yang harus dilindungi.
Salam saya kepada Pak Irfan dan Bu Elly di Bosscha.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: